PARIMO – Warga Gorontalo, di Kelurahan Bantaya, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) merayakan tradisi Tumbilotohe atau pasang lampu.

Tradisi ini dilaksanakan menjelang perayaan Idul Fitri atau menandai berakhirnya bulan suci Ramadhan pada tiga malam terakhir.

Ketua Panitia Rifai Pakaya mengatakan, istilah Tumbilotohe berasal dari bahasa Gorontalo dan merupakan gabungan dua suku kata, Tumbilo yang berarti pasang dan Tohe yang berarti Lampu, berdasarkan namanya tumbilotohe dikatakan sebagai Tradisi Pasang Lampu.

“Lmpu-lampu disini merupakan lampu tradisional yang masih menggunakan minyak tanah menggunakan botol bekas dan kaleng bekas yang diberi sumbu dan dibentuk dan ditata sedemikian rupa,” ungkapnya saat dihubungi Ahad (09/10).

Ia menjelaskan, tumbilotohe merupakan warisan budaya sejak abad 15, awalnya masyarakat Gorontalo memasang lampu di depan rumah-rumah sebagai penerangan halaman rumah dan jalanan, bagi warga lampu itu sebagai penerangan dalam melaksankan ibadah di masjid-masjid untuk meraih malam lailatulkadar.

Lanjut dia, masyarakat Gorontalo Sebelumnya menggunakan penerangan yang disebut wango-wango atau lampu terbuat dari Wamuta atau Selundang yang dihaluskan dan diruncingkan yang kemudian dibakar.

“Tradisi itu kami bawa didaerah perantauan yakni di parimo, setiap tahun kegiatan itu kami laksanakan,” jelasnya.

Selian itu, adanya berkembang hingga kini kata dia, alat penerangan lain memanfaatkan minyak tanah, kemudian masyarakat Gorontalo juga memanfaatkan ribuan lampu listrik untuk lebih menyemarakkan Tradisi tersebut.

Ia menambahkan, tradisi tumbilotohe merupakan warisan budaya turun temurun yang telah menjadi ajang hiburan.

“Kami akan terus melaksanakan kegiatan ini, dan mengajarkan kepada generasi selanjutnya agar pelaksanaan semacam ini tidak akan hilang dan masih tetap dilaksanakan terus-menerus,” tutupnya.

Reporter : Mawan

Editor : Yamin