PALU – Together we can do more (CBM) bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Sosial dan Kementerian Kesehatan melaksanakan bimbingan teknis (Bimtek) siaga bencana, mulai Senin (29/04) sampai Selasa (30/04).

Peserta kegiatan itu dikhususkan kepada perempuan dan penyandang disabilitas dan fasilitator atau pendamping, seperti guru-guru Sekolah Luar Biasa (SLB), organisasi penyandang disabiltas, Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) dan Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (GERKATIN ).

Pejabat Country Humanitarian Manager, CBM Indonesia, Tanty S. Reinhart Thamrin, mengatakan, kegiatan itu lebih spesifik untuk perempuan dan penyandang disabilitas, karena pihaknya menyadari bahwa informasi itu cepat menyebar jika mendidik perempuan.

“Kemudian untuk penyandang disabilitas karena dalam kondisi bencana kadang-kadang masyarakat lupa bahwa keluarga kita atau di lingkungan masyarat ada kawan-kawan yang tidak memiliki akses seperti yang lainnya yang sangat kesulitan mendapat informasi tentang peringatan dini dan informasi terkait jalur evakuasi yang benar,” katanya.

Kenapa memilih Kota Palu, menurutnya karena mereka memiliki program di Palu, khusus untuk penanggulangan bencana yang terkait dengan penyadang disabilitas.

“Tujuannya adalah supaya teman-teman perempuan dan penyandang disabilitas  tidak hanya menjadi objek  tapi menjadi subjek pada saat upaya penanggulangan bencana,” jelasnya.

Peserta dan Pemateri Bimtek Penangulangan Bencana di Kota Palu (FOTO : MAL/YAMIN)

Dia berharap, kegiatan itu akan dijadikan pintu masuk bersmaa BNPB untuk membuat Standar Operasional Prosedur (SOP) untuk melakukan evaluasi penyandang disabilitas agar benar-benar aktif terlibat mulai dari perencanaan sampai pengelolaan bencana atau tanggap darurat bencana.

Lanjut dia, di hari kedua bimtek, akan dikhusukan untuk pemerintah, di antaranya Basarnas, BPBD  dan Dinsos.

“Kenapa pemerintah local, karena kami juga ingin menjadi mainstreaming,” tambahnya.

Dia juga berharap, agar lebih banyak organisasi lokal di Palu yang bisa mempelajari teknik-teknik manajerial bersama pemerintah local. Pihaknya juga selalu siap memfasilitasi.

“Ini program kemanusiaan, jadi kami selalu siap untuk itu tanpa memungut biaya,” tandasnya.

Di tempat yang sama, Kepala Seksi Kebutuhan dan Potensi Sumberdaya, BNPB, Novi Kumalasari mengaku sudah tiga tahun pihaknya menginisiasi hari kesiapsiagaan bencana agar seluruh masyarakat Indonesia teredukasi.

“Sebelumnya kami melatih trainernya di Jakarta, kami mengadakan bimtek srikandi siaga bencana. Fasilitator kurang lebih ada 400 orang,” akunya. (YAMIN)