PALU – Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Sulteng bekerja sama dengan Badan Usaha Amal Nasional (Buana), melaksanakan pelatihan pengolahan ikan bandeng bebas duri, mulai Selasa (20/11) sampai Sabtu (24/11), di lokasi pengelolaan bandeng buana, kompleks Kampus Unismuh Palu.

Ketua panitia, Liani, BKOW, mengatakan, bisnis usaha bandeng bebas duri memiliki peluang yang baik, karena tidak membutuhkan modal besar dan bisa dilakukan di rumah tangga masing-masing.

Dari dasar pemikiran itu, kata dia, BKOW melaksanakan kegiatan bersama Buana yang masih di bawah organisasi Pengurus Wilayah (PW) Nasiatul Aisyiyah Bidang Ekonomi.

“Kemudian kami disupport oleh Muhamaddiyah Disaster Management Center (MDMC) yang merupakan pusat penanggulangan bencana, yang memang poskonya berada di tempat ini,” akunya.

Dia menambahkan, BKOW merupakan perkumpulan dari organisasi perempuan di Sulteng, yang memiliki salah satu bidang social ekonomi dan lingkungan hidup.

Melihat kondisi sekarang, dimana pemberdayaan ekonomi perlu ditingkatkan, maka bidang tersebut berpikir perlu adanya pelatihan yang bisa meningkatkan ekonomi kreatif, khususnya bagi ibu-ibu janda dan kelompok menengah ke bawah.

“Sebenarnya kami targetkan pesertanya ini 20 orang saja, tetapi sampai tadi malam sudah 26 orang. Itupun kami stop, mengingat fasilitas alat yang tersedia tidak memungkinkan. Ini juga kami buat dua sesi,” katanya.

Usai pembukaan kegiatan, Berpose bersama, PW Muhamaddiyah Sulteng, Ketua Badan Pemberdayaan dan Perlindungan Perempuan dan Anak, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Sulteng, Pusat Penanggulangan Bencana Muhammadiyah, seluruh pengurus dan Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah dan Pengurus Badan Usaha Amal Nasyiatul Aisyiah Sulteng dan Ibunda Aisyiyah PW Sulteng. (FOTO: MAL/YAMIN)

Sementara Ketua Buana, Sumiati, menjelaskan, keberadaan Buana dibawah naungan PW Aisyiyah di Sulteng. Sejak dua tahun berdiri, Buana banyak menjalin mitra dengan berbagai pihak, dan yang paling awal bersama Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Sulteng .

“Tahun 2016 di awal-awal kami terbentuk, sampai akhirnya kami dapat bantuan rumah pengeloaan bandeng bebas duri. Besaran bantuan waktu itu sekisaran Rp160 juta dengan peralatan perlengkapan yang sudah siap pakai,” katanya.

Kesempatan itu mendorong Buana untuk terus berusaha mengambil peran, khususnya di bidang peningkatan perekonomian anggotanya, kemudian tumbuh pada masyarakat yang ada di sekitar pengelolaan bandeng.

“Insya Allah ini juga bisa membantu pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan, melalui program yang memberikan peluang,  mereka bisa berusaha dan bisa mandiri,” harapnya.

Dia berharap akan banyak lagi dinas-dinas yang mau bekerjasama dengan Buana secara khusus,  untuk bersinergi menghasilkan beberapa hal yang terkait dengan upaya memajukan Sultenga.

Ketua BKOW Sulteng, Dery Djanggola, meyakini, Aisyiyah adalah organisasi yang cukup besar karena bersama-sama dengan Muhamaddiyah.

“Jadi saya pikir apa yang dilakukan Aisyiyah ini dengan organisasi Buana, tidak lain dalam rangka menunjang program pemerintah untuk pemberdayaan masyarakat, khususnya perempuan. Sebenarnya kegiatan ini dilaksanakan sebelum peristiwa gempa itu, kalau tidak salah awal bulan November. Tapi ketika kejadian yang tidak kita sangka-sangka maka kegiatannya baru bisa dilaksanakan saat ini,” terangnya.

Pembukaan kegiatan itu dihadiri PW Muhamaddiyah Sulteng, Ketua Badan Pemberdayaan dan Perlindungan Perempuan dan Anak, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Sulteng, Pusat Penanggulangan Bencana Muhammadiyah, seluruh pengurus dan Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah dan Pengurus Badan Usaha Amal Nasyiatul Aisyiah Sulteng dan Ibunda Aisyiyah PW Sulteng. (YAMIN)