Sabar itu setiap hari. Tidak mengenal waktu dan tempat. Sabar, itulah kata Luqman kepada anaknya.
“Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah berbuat baik dan cegahlah dari perbuatan mungkar dan bersabarlah atas segala yang menimpamu.” (QS Luqman: 17)
Kesabaran adalah salah satu hal terberat dalam hidup setelah ikhlas. Karakter sabar tidak dapat dengan mudah diraih oleh setiap orang yang tidak mendapatkan petunjuk Allah untuk menjalankan perintah bersabar.
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 155-156:
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun’ (sesungguhnya kami milik Allah dan hanya kepada-Nyalah kami kembali).”
Allah memberikan cobaan berupa ketakutan, kelaparan, kekurangan harta atau benda yang bersifat duniawi, jiwa, serta buah-buahan atau kebutuhan pangan. Allah pun menjamin orang-orang yang sabar apabila ditimpa musibah-musibah tersebut akan mendapatkan berita gembira yang mungkin tidak pernah disangka-sangka oleh jiwa-jiwa yang sabar.
Beberapa ulama berpendapat bahwa salah satu manusia paling sabar yang pernah diciptakan Allah adalah Nabi Ibrahim a.s. Beliau mendapatkan keistimewaan yang tinggi dengan menjadi Khalilullah atau kekasih Allah.
Perjuangan kesabaran Nabi Ibrahim dimulai sejak kecil dan semakin menguat ketika menghadapi berbagai ujian yang diberikan Allah. Di antaranya ketika beliau menikahi Siti Sarah dan kemudian Siti Hajar. Nabi Ibrahim juga menanti kehadiran seorang anak dari Siti Sarah hingga akhirnya lahirlah Nabi Ishaq ketika usia istrinya telah mencapai 99 tahun.
Mengapa Nabi Ibrahim mendapatkan gelar tersebut? Hal ini karena beliau mengutamakan perintah Allah. Hal itu tercermin dalam kehidupannya ketika setelah mendapatkan keturunan, Allah memerintahkannya untuk berdakwah di tempat lain dan meninggalkan istri serta putranya yang masih bayi. Nabi Ibrahim kemudian berdoa sebagaimana tercantum dalam firman Allah Surat Ibrahim [14] ayat 37.
Orang yang tidak kehabisan kesabarannya adalah orang yang istimewa dan luar biasa. Orang yang demikian mendapat pujian dari Rasulullah:
“Sungguh menakjubkan keadaan orang mukmin itu, karena sesungguhnya semua keadaannya itu merupakan kebaikan baginya dan kebaikan yang sedemikian itu tidak dapat diperoleh melainkan hanya oleh orang mukmin saja, yaitu apabila ia mendapatkan kelapangan hidup, ia pun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan baginya. Sedangkan apabila ia ditimpa oleh kesukaran—yakni yang merupakan musibah—ia pun bersabar dan hal ini pun adalah merupakan kebaikan baginya.” (Riwayat Muslim).
Untuk mencapai keteguhan dalam bersabar, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sehingga semakin menguatkan kita untuk senantiasa bersabar dalam menghadapi segala keadaan.
Pertama, pahami bahwa hidup di dunia ini adalah ujian. Segala macam kondisi yang kita rasakan, baik senang, susah, bahagia maupun sengsara, semuanya merupakan ujian.
Kedua, yakinlah bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui sejauh mana kemampuan seorang hamba dalam menerima cobaan dari-Nya. Allah tidak pernah menguji hamba-Nya di luar batas kemampuan mereka.
Terakhir, yakinilah bahwa di luar diri kita terdapat orang-orang yang memiliki beban hidup jauh lebih berat daripada yang kita pikul. Tidak sedikit dari mereka yang mampu keluar dari lingkaran permasalahan masing-masing.
Karena itu, optimislah bahwa kita sendiri pun akan mampu melewati rintangan yang tengah dihadapi. Itu saja. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.
