MASALEMBO, MAL – Kecelakaan KMP Virgo Transport 08 di perairan Masalembo, Laut Jawa, pada Minggu (13/9/2026), kembali mengingatkan publik pada sejumlah tragedi transportasi laut yang pernah terjadi di kawasan tersebut.

Meski kerap dijuluki “Segitiga Bermuda Indonesia”, berbagai catatan kecelakaan menunjukkan bahwa faktor keselamatan pelayaran, cuaca, stabilitas kapal, muatan, dan kesiapan awak menjadi aspek yang lebih relevan untuk ditelaah dibanding narasi fenomena misterius.

KMP Virgo Transport 08 dilaporkan mengalami kemiringan dan hilang kontak di sekitar perairan Masalembo saat berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin. Hingga pembaruan terakhir, 143 orang telah dievakuasi, sementara penyebab kecelakaan masih dalam penyelidikan.

Masalembo merupakan kawasan pelayaran di Laut Jawa yang berada di antara Jawa, Madura, Kalimantan, dan jalur menuju Selat Makassar. Jalur ini dilintasi kapal penumpang, kapal barang, kapal tanker, dan berbagai kapal niaga lainnya.

Salah satu tragedi terbesar yang pernah terjadi di kawasan tersebut adalah tenggelamnya KMP Tampomas II pada Januari 1981.

Kapal penumpang milik Pelni itu terbakar di sekitar Kepulauan Masalembu saat berlayar dari Jakarta menuju Ujung Pandang, yang kini bernama Makassar.

Menurut catatan sejarah, kebakaran bermula dari area kendaraan dan tidak dapat dikendalikan hingga kapal akhirnya tenggelam pada 27 Januari 1981. Kala itu, 90 orang ditemukan meninggal dunia dan lebih dari 300 lainnya hilang, meski sejumlah sumber mencatat angka korban yang berbeda.

Dalam proses penyelamatan, nakhoda KMP Tampomas II, Abdul Rivai, sempat menyampaikan, “Apapun yang terjadi, saya akan menjadi penumpang terakhir yang meninggalkan kapal.” Abdul Rivai kemudian turut menjadi korban dalam tragedi tersebut.

Tragedi lain yang sering dikaitkan dengan kawasan Masalembo adalah tenggelamnya KM Senopati Nusantara pada akhir 2006. Namun, sejumlah catatan menempatkan lokasi kecelakaan di sekitar Karimunjawa, bukan tepat di perairan Masalembu. Karena itu, peristiwa tersebut lebih tepat diposisikan sebagai bagian dari konteks keselamatan pelayaran di Laut Jawa.

Hal serupa berlaku untuk jatuhnya Adam Air Penerbangan 574 pada 1 Januari 2007. Pesawat yang melayani rute Surabaya-Manado itu jatuh di Selat Makassar dan menewaskan 102 penumpang serta awak. Lokasinya bukan di perairan Masalembu sehingga tidak dapat dikategorikan sebagai kecelakaan kapal di kawasan tersebut.

Pada 2009, KM Teratai Prima tenggelam dalam pelayaran dari Parepare menuju Samarinda. Kapal yang membawa sekitar 365 orang dan 443 ton muatan itu dilaporkan menghadapi gelombang setinggi 3 hingga 4 meter sebelum kehilangan kestabilan.

Faktor stabilitas kapal, muatan, konstruksi, perlengkapan keselamatan, dan kemampuan awak menjadi aspek yang banyak dibahas dalam evaluasi keselamatan peristiwa tersebut.

Kecelakaan yang memiliki data investigasi lebih rinci terjadi pada KM Irama Nusantara pada Desember 2013 di sekitar Pulau Keramian, Masalembo. Kapal kargo itu menghadapi gelombang 3 hingga 5 meter sebelum air laut masuk ke palka dan ruang loker setelah pengikat derek muat dan terpal penutup palka terlepas.

Laporan investigasi menyebut kapal akhirnya tenggelam setelah mengalami kemiringan. Dari 15 awak yang berada di kapal, dua orang selamat, tiga meninggal dunia, dan 10 lainnya hilang atau belum ditemukan.

Pada 2017, KMP Mutiara Sentosa I juga mengalami kebakaran di sebelah timur Pulau Masalembu. Api pertama kali terlihat dari muatan sebuah truk di geladak kendaraan. Insiden tersebut menyebabkan lima orang meninggal dunia sebelum kapal akhirnya kandas di dekat lokasi kejadian.

Rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan bahwa setiap kecelakaan memiliki karakteristik berbeda. Sebagian berkaitan dengan kebakaran di area kendaraan, sebagian lain melibatkan gelombang tinggi, masuknya air ke dalam kapal, masalah stabilitas, kondisi muatan, maupun keterbatasan peralatan keselamatan.

Dalam kasus Virgo Transport 08, penyebab kecelakaan hingga kini belum diumumkan secara resmi. Sejumlah aspek seperti kondisi cuaca, stabilitas kapal, muatan kendaraan, sistem keselamatan, hingga faktor teknis masih menunggu hasil pemeriksaan pihak berwenang.