Bukan tanpa alasan Allah dan Rasulnya memerintahkan kita untuk pandai menjaga silaturahim. Salah satu alasannya ialah karena dengan berbuat baik, maka kita menpraktikkan salah satu sifat Allah, yang terus menerus berbuat baik untuk para hamba-Nya, seperti yang tertera dalam surah Al-Qashash ayat 77:  “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan oleh Allah kepadamu kebahagiaan akherat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari kenikmatan dunia, dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai terhadap orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qasas: 77)

Rasul bersabda, “Kalian tidak akan masuk surga sebelum beriman, dan kalian tidak dikatakan beriman sebelum saling mencintai. Maukah aku tunjukkan suatu ajaran yang jika kalian lakukan, kalian akan saling mencintai? Tebarkanlah salam di antara kalian.” (HR Muslim dari Abu Hurairah).

Hadits tersebut menunjukkan bahwa beragama dengan damai (salam) dapat membuahkan sikap saling mencintai. Saling mencintai merupakan salah satu bukti keimanan seseorang. Dan, iman mengantarkan pada surga.

Memiliki hati yang penuh kasih dan sayang serta berusaha untuk selalu berbuat baik terkadang memang tidaklah mudah. Ego diri dan emosi kerap melanda hati manusia jika saja mereka jauh dari Allah Swt. Padahal, dengan memiliki kedua sifat di atas kita takkan pernah merugi.

Hal ini diperkuat oleh sabda Nabi Saw, “Para pengasih dan penyayang dikasihi dan disayang oleh Ar-Rahmaan (Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang-pen), rahmatilah yang ada di bumi niscaya kalian akan dirahmati oleh Dzat yagn ada di langit” (HR Abu Dawud

Menurut Ibnu Sina, ada tiga tipe orang beragama. Pertama, beragama ibarat relasi buruh-majikan atau budak-tuan. Budak atau buruh akan melakukan pekerjaan apabila ada instruksi atau perintah dari sang majikan. Orang yang beragama seperti ini baru sebatas melakukan kewajiban agama.

Keberagamaannya bergantung pada orang lain atau lingkungan, tidak dilandasi kesadaran personal, kemandirian, dan kebutuhan spiritual-internal.

Kedua, beragama ibarat relasi pedagang-pembeli. Keduanya sama-sama mencari untung; pedagang menginginkan laba besar, sementara pembeli menghendaki harga semurah-murahnya. Beragama tipe ini cenderung pamrih, riya, dan melihat situasi dan kondisi yang menguntungkan dirinya jika melakukan kewajiban beragama.

Baginya, amal sosial harus mempunyai nilai publikasi, pencitraan, subjektivifikasi, bahkan legitimasi untuk kepentingan subjektifnya. Padahal, setelah kepentingannya tercapai dan kekuasaan politik direbut, pada umumnya agama dipinggirkan, kalau tidak dilupakan.

Ketiga, beragama ibarat relasi ibu-anak. Hanya, sang ibu rela mengandung, mempertaruhkan nyawa saat melahirkan, membesarkan, memberi perhatian, dan mendidik kita semua pasti bukan karena pamrih, melainkan karena cinta.

Kekuatan cinta mengalahkan segala macam penderitaan. Beragama dengan cinta tidak hanya dilandasi ketulusan dan kejujuran, tetapi kesediaan untuk menerima, berbagi, berkomitmen, dan rela berkorban demi masa depan yang lebih baik.

Cinta ibu kepada anaknya adalah cinta sejati, sehidup semati. Beragama yang sejati pasti dilandasi cinta Ilahi dan cinta terhadap sesama. Jika Allah yang paling dicintainya, mestinya seseorang tidak dengan mudah menumpahkan darah terhadap manusia yang diciptakan oleh-Nya dengan penuh kasih sayang.

Beragama dengan cinta membuahkan sikap dan perilaku “sami’na wa atha’na” (mau belajar, terbuka, dan selalu taat), serta toleransi.

Menurut al-Ghazali, cinta karena Allah dan mendapatkan cinta-Nya merupakan tujuan akhir pendakian maqam demi maqam dalam rangka pendekatan diri kepada Allah.

Jika cinta karena Allah dalam beragama itu sudah dapat diaktualisasikan, nicaya Muslim akan selalu rindu (syauq) bila tidak berkomunikasi dengan-Nya. Hatinya selalu tergerak untuk membasahi lisannya dengan zikir kepada-Nya dan menghiasi perilakunya dengan amal yang diridhai Allah. Wallahu a’lam

Darlis Muhammad (Redaktur Senior Media Alkhairaat)