DI TANGAN generasi muda, batik terus menemukan cara baru untuk bercerita. Kain yang selama ini lekat dengan kesan formal kini tampil lebih segar melalui rancangan fesyen yang mengikuti perkembangan zaman. Salah satu sosok yang menunjukkan semangat tersebut adalah Diva Kalvadia.
Perempuan yang merupakan lulusan SMK Tata Busana itu telah memiliki bekal dalam bidang desain dan pembuatan busana. Ketertarikannya terhadap batik kemudian membawanya melanjutkan studi di Program Studi Kriya Batik PSNO Pekalongan. Perjalanan itu membuat Diva tidak hanya memahami konstruksi busana, tetapi juga mengenal lebih dekat nilai seni di balik selembar kain batik.
Dalam Indonesia Fashion Camp (IFC), Diva menemukan pengalaman yang berbeda. Jika selama kuliah ia mempelajari proses pembuatan batik, pelatihan di IFC justru menitikberatkan pada pengembangan batik menjadi produk fesyen yang memiliki nilai tambah.
“Di sini pelatihannya tidak fokus pada pembuatan batik, tetapi bagaimana batik diolah menjadi produk fashion,” ujarnya dalam penutupan acara Young Batik Entrepreneur Fashion Fellowship 2026 di Rumah Batik BTiG, Desa Waru Lor, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Jumat (10/7).
Seluruh kain batik yang digunakan peserta telah disediakan penyelenggara. Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan selembar kain menjadi karya yang memiliki identitas kuat.
Diva kemudian melahirkan konsep bertajuk “The Survivalist”, yang memadukan empat elemen utama, yaitu natural, sporty, adventure, dan feminine. Baginya, dunia petualangan tidak selalu identik dengan kesan maskulin. Karakter tersebut dapat berpadu dengan sisi feminin dalam satu rancangan busana.
Sentuhan feminin diwujudkan melalui penggunaan kerah Peter Pan pada bagian atasan. Sementara itu, nuansa petualangan dihadirkan melalui desain jaket dan celana yang memberikan kesan tangguh sekaligus fungsional.
Tidak hanya siluet, pemilihan motif batik juga menjadi bagian penting dari proses kreatifnya. Menurut Diva, setiap rancangan diawali dengan penyusunan tema, kemudian diterjemahkan ke dalam pemilihan motif yang sesuai sehingga seluruh elemen dalam busana tetap selaras.
“Awalnya kita membuat tema terlebih dahulu. Dari tema itu kemudian dipilih motif yang sesuai. Karena saya mengambil tema petualangan, motif yang dipilih menggambarkan suasana alam,” katanya.
Pengalaman mengikuti IFC juga memperluas pemahamannya dalam merancang koleksi fesyen secara utuh. Berbekal pendidikan tata busana, ia telah memahami teknik pembuatan pakaian. Namun, melalui pelatihan ini, ia belajar menyusun sebuah koleksi yang memiliki konsep, karakter, dan kesinambungan desain.
Di balik kreativitas tersebut, Diva melihat tantangan besar yang tengah dihadapi batik tulis. Kehadiran batik sablon yang semakin mudah dijumpai membuat keberadaan batik tulis harus terus diperkuat agar tetap memiliki tempat di tengah masyarakat.
Menurutnya, salah satu upaya yang dapat dilakukan ialah meningkatkan nilai jual batik tulis melalui produk fesyen yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Harapannya, batik tulis tidak hanya bernilai sebagai kain, tetapi juga dapat menjadi produk fashion yang diminati masyarakat, terutama generasi muda,” ujarnya.
Melalui karya “The Survivalist”, Diva ingin menunjukkan bahwa batik mampu tampil modern tanpa kehilangan jati dirinya. Perpaduan unsur alam, petualangan, dan sentuhan feminin menjadi bukti bahwa warisan budaya dapat terus berkembang mengikuti zaman, sekaligus tetap mempertahankan nilai yang dimilikinya.

