PEKALONGAN – Program Rumah Batik TBiG tidak hanya berfokus pada pelatihan teknik membatik, tetapi juga membangun kapasitas pelaku UMKM batik melalui kurikulum yang disusun bersama Indonesian Fashion Chamber (IFC).

Organisasi profesi tersebut merupakan mitra pengembangan industri fesyen Indonesia yang beranggotakan para desainer sekaligus pelaku usaha fesyen dari berbagai daerah di Indonesia.

Senior Advisor Indonesian Fashion Chamber, Taruna Kusmaryuda Kusmayadi, mengatakan penyusunan kurikulum dilakukan atas permintaan TBiG untuk mendukung pengembangan sumber daya manusia di sektor batik, khususnya bagi pelaku UMKM di Pekalongan.

Menurut Taruna, tim IFC menyusun silabus pembelajaran secara bertahap agar peserta memperoleh kompetensi secara utuh, mulai dari proses kreatif hingga menghasilkan produk fesyen berbasis batik yang siap dipasarkan.

“Materi yang kami susun meliputi pengembangan konsep, eksplorasi warna, penciptaan motif, komposisi desain (layout), pembuatan pola (pattern), hingga pemahaman terhadap tren fesyen. Program dilaksanakan secara luring dan daring agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara berkesinambungan,” ujarnya, dalam diskusi lepas usai makan malam di Rumah Makan Dian Pelangi, Pekalongan, Kamis malam (9/7).

Ia menjelaskan, program telah memasuki angkatan kedua setelah berjalan sekitar dua tahun. Menurutnya, keberhasilan pelatihan bergantung pada konsistensi peserta mengikuti seluruh tahapan pembelajaran, mulai dari awal hingga akhir, sehingga kompetensi dapat dibangun secara berkelanjutan.

Taruna menambahkan, IFC merupakan organisasi profesi yang menaungi lebih dari 280 anggota yang tidak hanya berprofesi sebagai desainer, tetapi juga pengusaha fesyen dengan skala usaha mulai dari usaha mikro hingga perusahaan yang mempekerjakan ratusan tenaga kerja. Latar belakang pendidikan para anggotanya pun beragam, mulai dari lulusan sekolah fesyen, perguruan tinggi umum, hingga desainer yang berkembang secara autodidak.

Sementara itu, General Secretary Indonesian Fashion Chamber, Neera Alatas, menegaskan bahwa kurikulum disusun untuk mendorong peserta memiliki identitas desain yang kuat, bukan sekadar menguasai teknik membatik.
Menurut Neera, peserta dibimbing mulai dari menemukan ide, menyusun konsep, membangun cerita di balik motif, menentukan warna, hingga menerjemahkan konsep tersebut menjadi koleksi busana.

“Kami tidak mengajarkan peserta untuk meniru motif yang sudah ada di pasaran. Mereka diarahkan agar mampu menciptakan karya yang memiliki ciri khas, identitas, dan unsur kebaruan sehingga memiliki daya saing,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa peserta juga diperkenalkan pada proses kerja industri fesyen nasional melalui sesi berbagi pengalaman bersama para desainer anggota IFC dan praktisi industri. Dengan demikian, peserta tidak hanya memperoleh keterampilan teknis, tetapi juga memahami proses bisnis, pengembangan produk, serta kebutuhan pasar.

Neera menilai perkembangan peserta selama mengikuti program cukup menggembirakan. Dalam waktu relatif singkat, peserta yang semula hanya mampu menggambar motif batik berkembang hingga mampu merancang konsep koleksi dan menghasilkan busana.

Selain memberikan pelatihan teknis, IFC juga menghadirkan sejumlah desainer nasional sebagai narasumber agar peserta memperoleh wawasan lebih luas mengenai perkembangan industri fesyen Indonesia. Pendekatan tersebut diharapkan mampu membentuk pelaku UMKM batik yang kreatif, mandiri, serta mampu menghasilkan produk dengan identitas yang kuat.

Dari sisi perusahaan, CSR Advisor TBiG, Fahmi Sutan Alatas, mengatakan kolaborasi dengan Indonesian Fashion Chamber dipilih karena perusahaan tidak ingin menyusun program berdasarkan asumsi, melainkan berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat.

Menurut Fahmi, TBiG tidak mengajarkan teknik membatik karena kemampuan tersebut telah dimiliki masyarakat Pekalongan. Sebaliknya, perusahaan menggandeng IFC untuk menyusun kurikulum yang mampu meningkatkan nilai tambah produk melalui pengembangan desain, kreativitas, dan pemahaman pasar.

“Kami melihat para pembatik tidak membutuhkan pelatihan membatik, melainkan pendampingan agar mampu menghasilkan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Karena itu, kami menggandeng IFC yang memiliki kompetensi di bidang desain dan industri fesyen,” ujarnya.

Head of CSR TBiG, Arief Wibowo, menambahkan bahwa perusahaan mengukur keberhasilan program bukan dari besarnya anggaran yang dikeluarkan, melainkan dari dampak yang dirasakan peserta dan masyarakat.

Oleh karena itu, penyusunan kurikulum bersama IFC menjadi bagian penting dalam membangun kemandirian pelaku UMKM batik sehingga mampu berkembang secara berkelanjutan.