PARIGI MOUTONG, MAL – Bank Indonesia (BI) dan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) kembali menyelenggarakan Ekspedisi Rupiah Berdaulat 2026 di Provinsi Sulawesi Tengah.

Kegiatan ini bertujuan memastikan ketersediaan uang rupiah yang layak edar di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), dilepas dari KRI Lumba-Lumba di Pelabuhan Loji, Kabupaten Parigi Moutong pada Selasa, 07/07 sore.

Perwakilan Bank Indonesia Sulteng, Muhamad Irfan Sukarna, menjelaskan bahwa pelaksanaan ekspedisi ini merupakan amanat Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. Aturan ini kemudian diperbarui melalui Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK).

Sebagai bank sentral, kata dia Bank Indonesia memiliki kewenangan mengelola pengedaran uang rupiah agar tersedia dalam jumlah yang cukup, berkualitas, dan layak edar di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Rupiah bukan hanya alat pembayaran yang sah, tetapi juga simbol kedaulatan, identitas, dan pemersatu bangsa,” katanya.

Bank Indonesia mengapresiasi sinergi yang terjalin dengan TNI Angkatan Laut sejak tahun 2012. Kerja sama ini menjadi tulang punggung dalam mendukung distribusi uang rupiah ke wilayah kepulauan dan kawasan 3T yang sulit dijangkau melalui jalur transportasi reguler.

Hingga tahun 2025, kolaborasi antara BI dan TNI AL telah menghasilkan 150 kegiatan kas keliling yang berhasil menjangkau 766 pulau di seluruh Indonesia. Ini menunjukkan komitmen kuat terhadap pemerataan akses.

Sepanjang tahun 2025, Ekspedisi Rupiah Berdaulat telah dilaksanakan di 18 provinsi, menjangkau 91 pulau 3T dengan nilai penukaran uang mencapai Rp154,5 miliar.

Selain layanan penukaran uang, kegiatan ini juga menyertakan edukasi “Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah”.

Terdapat pula layanan kesehatan, bantuan sosial, serta program bela negara bagi masyarakat setempat, melengkapi misi utama distribusi rupiah.

Atas kolaborasi ini, Bank Indonesia bersama TNI Angkatan Laut bahkan memperoleh penghargaan prestisius “Currency Initiative” pada 11th Annual Central Banking Awards di London, Inggris. Penghargaan tersebut diberikan sebagai pengakuan atas inovasi dan keberhasilan dalam menghadirkan layanan pengedaran uang di wilayah kepulauan Indonesia yang memiliki tantangan geografis yang tinggi dan kompleks.

Pada tahun 2026, cakupan Ekspedisi Rupiah Berdaulat 2026 kembali diperluas secara signifikan. Frekuensi kegiatan meningkat menjadi 19 ekspedisi di 19 provinsi, dengan target jangkauan mencapai 170 pulau di wilayah 3T.

Khusus di Provinsi Sulawesi Tengah, Ekspedisi Rupiah Berdaulat 2026 berlangsung mulai 07 hingga 17 Juli 2026, menggunakan KRI Lumba-Lumba-881 sebagai armada utama.

Tim ekspedisi akan mengunjungi lima pulau terluar, yakni Pulau Wakai, Pulau Waleak, Pulau Salakan, Pulau Banggai, dan Pulau Bokkan. Mereka membawa modal kerja penukaran uang sebesar Rp12,24 miliar, meningkat sekitar 16 persen dari tahun sebelumnya.

Bank Indonesia juga menegaskan bahwa Sulawesi Tengah memiliki sejarah panjang yang erat kaitannya dengan perjalanan rupiah sebagai simbol kedaulatan negara.

Pada masa perjuangan kemerdekaan, masyarakat Sulawesi telah menggunakan Oeang Republik Indonesia (ORI) maupun ORIDA sebagai alat transaksi di tengah berbagai keterbatasan. Semangat historis ini kini terus dilanjutkan melalui upaya penyediaan uang rupiah layak edar ke seluruh wilayah provinsi.

Bank Indonesia menekankan bahwa menjaga kedaulatan rupiah di wilayah kepulauan tidak dapat dilakukan sendiri. Upaya ini memerlukan dukungan dan kolaborasi kuat dari seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah, aparat keamanan, dan partisipasi aktif dari masyarakat.

Ia berharap, ekspedisi ini tidak hanya menjangkau masyarakat di pulau-pulau terluar Sulawesi Tengah, tetapi juga memperkuat kehadiran negara.

Tujuannya adalah melalui penyediaan uang rupiah yang layak edar di seluruh wilayah Indonesia, termasuk daerah-daerah yang paling sulit diakses. Kehadiran ini menjadi manifestasi nyata dari pembangunan yang inklusif.

“Komitmen ini adalah bentuk sinergi kami dengan Bank Indonesia dalam menjaga kedaulatan negara sekaligus memastikan ketersediaan uang rupiah layak edar di wilayah terdepan, terluar, dan terpencil (3T) di Provinsi Sulawesi Tengah,” kata Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Danlanal) Palu, Letkol Marinir M. Ali Wardhana.

Asisten Operasi Kepala Staf Angkatan Laut (Asops Kasal) Yayan Sofyan, dalam sambutan yang dibacakan pada seremoni pelepasan ekspedisi, menyampaikan bahwa kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia merupakan anugerah sekaligus tantangan. Ini terjadi dalam mewujudkan pemerataan pembangunan di seluruh wilayah.

Menurutnya, banyaknya pulau-pulau terluar dan terpencil menuntut kehadiran negara secara nyata untuk menjaga konektivitas antarpulau serta memastikan masyarakat memperoleh pelayanan yang setara.

“Tantangan geografis tidak boleh menjadi penghalang bagi pemerataan pembangunan. Karena itu, sinergi antara Bank Indonesia dan TNI Angkatan Laut menjadi sangat penting dalam menjaga kedaulatan negara sekaligus mendukung pembangunan nasional,” ujar Asops Kasal Yayan Sofyan.

Dalam kolaborasi strategis ini, TNI AL menjalankan tugas vitalnya menjaga kedaulatan wilayah perairan Indonesia.

Sementara itu, Bank Indonesia menjaga kedaulatan ekonomi melalui penyediaan uang rupiah yang layak edar hingga ke wilayah kepulauan. Rupiah tidak hanya berfungsi sebagai alat transaksi, tetapi juga memiliki makna strategis sebagai simbol identitas bangsa dan manifestasi kedaulatan negara.

Kehadiran rupiah, bersama dengan berkibarnya Bendera Merah Putih di pulau-pulau terluar, menjadi penegasan yang kuat bahwa wilayah tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ini adalah wujud nyata dari Pancasila dan persatuan bangsa yang harus terus dijaga.

Pada pelaksanaan Ekspedisi Rupiah Berdaulat 2026 di Sulawesi Tengah, TNI AL mengerahkan KRI Lumba-Lumba-881 sebagai sarana pelayaran utama.

Kapal tersebut merupakan salah satu unsur patroli cepat yang bertugas di wilayah kerja Koarmada II, termasuk perairan Sulawesi Tengah. Kapal ini memiliki kemampuan manuver yang tinggi di berbagai kondisi perairan.

Rute pelayaran ekspedisi ini akan menempuh jalur Parigi–Wakai–Waleabahi–Salakan–Banggai–Bokan, kemudian kembali lagi ke Parigi. Total jarak tempuh diperkirakan sekitar 808 nautical miles. Perjalanan ini dirancang untuk memaksimalkan jangkauan ke pulau-pulau terpencil dan terluar di wilayah tersebut.

Asops Kasal juga memberikan arahan penting kepada seluruh prajurit KRI Lumba-Lumba-881 agar menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab.

Mereka diminta senantiasa mengutamakan keselamatan personel maupun material, memperhatikan kondisi cuaca yang dinamis, serta mematuhi standar operasional prosedur (SOP) guna mewujudkan “zero accident” selama pelayaran.

Prajurit TNI AL juga diminta untuk memberikan pelayanan terbaik kepada tim Bank Indonesia selama pelayaran maupun saat berinteraksi dengan masyarakat di pulau-pulau tujuan.

KRI Lumba-Lumba-881 diresmikan pada 17 Desember 2024. Kapal ini mulai mendukung Ekspedisi Rupiah Berdaulat pada tahun 2025 dan kembali dipercaya untuk menjalankan misi serupa pada tahun 2026.

Nama “Lumba-Lumba” sendiri dipilih karena melambangkan kelincahan, kecerdasan, serta kemampuan navigasi yang tinggi, sesuai dengan karakteristik kapal patroli cepat tipe PC-60 yang digunakan oleh TNI AL dalam menjaga keamanan maritim.

Usai acara pelepasan, para tamu undangan dijadwalkan meninjau langsung fasilitas yang dimiliki KRI Lumba-Lumba-881 sebelum kapal bertolak menjalankan misi distribusi rupiah ke lima pulau tujuan di Sulawesi Tengah. ***