Pemerintahan Islam waktu dibawah Sang Kepala Negara (Amirul Mukminin) Umar Ibn Khattab mengumumkan pembagian kain baju dari negara kepada seluruh kaum Muslimin.
Pembagian ditetapkan harus adil dan sama rata. Tidak ada bedanya jatah untuk kepala negara, pejabat negara, atau rakyat biasa. Pembagian baju dinyatakan selesai.
Tak ada rakyat yang tak menerima pembagian itu. Semua mendapatkandan pembagiannya sama rata, tak terkecuali Sang Amirul Mukminin Umar Ibn Khattab. Namun, sang kepala negara tampak memakai baju yang besar karena badannya besar. Dan, orang-orang mengetahuinya karena pembagian dilaksanakan secara terang-terangan.
Ketika Umar berkhutbah memberi semangat kepada kaum Muslimin untuk berjihad dan menjelaskan keutamaannya dengan mengatakan ‘Dengarlah dan taatilah perkataanku ini …’ tak ada suara gemuruh mendukung khutbahnya.
Malah secara bergantian terdengar suara cukup nyaring, ‘Tidak ada perhatian dan tidak pula ketaatan. Tidak ada tentara yang maju dengan senjata-senjatanya di medan pertempuran!’ Umar terheran-heran mendapati suasana yang berbeda dari biasanya itu. Lalu ia bertanya, ‘Mengapa sikap kalian berubah?’
Kemudian seseorang berkata dengan nada tinggi, ‘Engkau mengambil kain sebagaimana yang kami ambil, tapi bagaimana kain itu pas bagimu sedangkan engkau laki-laki berbadan tinggi besar? Pasti ada sesuatu yang engkau khususkan untuk dirimu sendiri!’ Mendengar pernyataan itu, Umar lalu memanggil putranya, Abdullah bin Umar.
Putranya itu diminta menjadi saksi dan mengumumkan kepada khalayak apa yang sebenarnya terjadi. Abdullah bin Umar pun bersaksi bahwa ia memberikan bagiannya kepada ayahnya sehingga ayahnya dapat memakai pakaian yang menutup auratnya, sesuai dengan postur tubuhnya yang tinggi bersar.
Orang yang berbicara lantang tadi pun duduk dan berkata, ‘Sekarang kami mendengar dan kami taat.’ Sikap ini kemudian diikuti oleh segenap hadirin.
Subhanallah, betapa indah hubungan antara kepala negara dan rakyatnya. Kepala negara merasa tidak harus dilebihkan dari rakyatnya dan bebas ditegur, direformasi oleh warganya. Dalam artian, kepala negara ingin dimiliki dan berbuat untuk rakyat. Begitu pula, sistem pemerintahannya memandang semua warga sama dalam hak dan kewajiban.
Memang, tidak gampang menduduki kekuasaan. Ada orang bilang, kekuasaan itu memabukkan. Sementara, kekuasaan umumnya didapat lewat jalur politik. Orang pun berujar, politik itu keji dan kotor. Ucapan bernada kelakar itu seolah mendapatkan pembenaran di atas panggung perpolitikan kontemporer. Bukan hanya berlaku di Indonesia, melainkan menggejala di semua negara di dunia.
Ketika menjabat, mulanya mengabdi, tetapi lama-lama melakukan korupsi. Sudah banyak buktinya. Tentu masih ada pemimpin yang bersedia melakukan korupsi. Juga pemimpin yang berjiwa rabbani. Tetapi, jumlahnya segelintir. Namanya juga pasti kurang kondang, karena jarang muncul di media. Kebanyakan pemimpin dipastikan berjarak dari sikap sederhana. Umumnya pemimpin diasumsikan karib dengan sikap licik dan koruptif
Kekuasaan menjadi cara ampuh untuk meraup harta. Muncul anggapan begini: Kalau ingin segera kaya, jadilah penguasa. Kalau ingin cepat melejit, terjunlah dalam politik. Soal membuktikan janji itu nanti, yang penting bagaimana modal pencalonan diri lekas kembali. Soal kesejahteraan rakyat itu urusan kesekian, yang penting posisikan dulu rekan dan keluarga di jabatan mapan. Soal minim karya itu lumrah, yang penting kedudukan bisa langgeng selamanya.
Itulah perilaku umum di kebanyakan pemimpin dunia sekarang. Hampir tidak ditemukan pemimpin yang mau hidup sederhana, apalagi miskin harta. Seperti aneh, kalau ada pemimpin kok tidak kaya. Ia tidak takut memanfaatkan kekuasaannya untuk kepentingannya sendiri.
Bagi calon pemimpin yang sebentar lagi bertarung di pemilu legislatif, mari sejenak mengambil ibrah pesona khlalifah Umar Ibn Khattab. Seorang kepala Negara tak memanfaatkan aji mumpung. Begitu pula keluarganya yang tidak menggunakan posisi itu untuk memperkaya diri. Itu saja semoga bermanfaat. Wallahu a’lam
DARLIS MUHAMMAD (REDAKTUR SENIOR MEDIA ALKHAIRAAT)

