PALU – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Pemprov Sulteng) memprioritaskan hilirisasi komoditas pertanian dan perkebunan dalam rencana kerja sama sister province dengan Provinsi Sichuan, Tiongkok, melalui pengembangan kawasan industri berbasis pertanian yang terintegrasi dari hulu ke hilir.

Komitmen tersebut mengemuka dalam pertemuan antara Gubernur Sulteng, Anwar Hafid bersama Wakil Gubernur, Reny A. Lamadjido dan Ketua KADIN Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Faradiba M. Zaenong dengan delegasi Chengtu Huishi Technology Co., Ltd., perusahaan milik daerah Provinsi Sichuan, di Ruang Rapat Polibu, Sabtu (21/2).

Delegasi dari Provinsi Sichuan dipimpin Deputy General Manager BUMN setempat, Zheng Shan-shan, yang menjajaki peluang investasi jangka panjang di sektor industri pengolahan hasil pertanian Sulawesi Tengah.

Gubernur Anwar Hafid menegaskan, kerja sama ini tidak sekadar membuka akses pasar ekspor, tetapi membangun fondasi industrialisasi daerah melalui penguatan rantai pasok dan peningkatan nilai tambah komoditas unggulan seperti durian, kakao, dan kopi.

“Kita ingin mendorong industrialisasi hasil-hasil pertanian kita agar memberi nilai tambah dan pertumbuhan ekonomi. Jika di sini ada kawasan industri dan di sana juga ada kawasan industri, maka dua provinsi bisa tumbuh bersama sebagai sister province,” ujar Anwar.

Menurutnya, pengembangan kawasan industri di Sulteng akan disandingkan dengan kawasan industri di Sichuan dalam kerangka kolaborasi dua provinsi dan dua negara. Salah satu rencana awal yang dibahas adalah pembangunan fasilitas cold storage yang berpotensi berkembang menjadi pusat pengolahan durian dan komoditas pertanian lainnya.

Fasilitas tersebut direncanakan terintegrasi dengan Kawasan Industri Palu maupun Kawasan Industri Siniu yang diarahkan sebagai kawasan industri hijau. Pemerintah daerah menilai kehadiran cold storage tidak hanya memperkuat logistik, tetapi juga membuka ruang pengolahan lanjutan seperti pembekuan, ekstraksi, hingga produk turunan bernilai ekspor.

Secara geografis, Sulawesi Tengah dinilai memiliki posisi strategis untuk pengiriman langsung ke pasar Tiongkok. Pada Januari lalu, provinsi ini mencatat tiga kali ekspor langsung durian segar ke Tiongkok dengan nilai sekitar 1 juta dolar AS atau setara Rp16 miliar.

Volume ekspor mencapai sekitar 45 ton dan menjadi tonggak penting karena tidak lagi melalui negara perantara seperti Thailand, Vietnam, maupun Surabaya.

Potensi durian, khususnya dari Kabupaten Parigi Moutong, disebut menjadi salah satu daya tarik utama kerja sama tersebut.

Sementara itu, Zheng Shan-shan menyatakan pihaknya melihat Sulawesi Tengah sebagai mitra strategis dengan ketersediaan bahan baku pertanian yang besar.

Ia menyebut perusahaan-perusahaan di Sichuan memiliki pengalaman dalam teknologi pengolahan pangan lanjutan, seperti freeze drying, ekstraksi tanaman, serta pengolahan kakao dan kopi.

“Kami ingin memastikan kawasan industri di kedua provinsi dapat berjalan dengan baik sebelum masuk ke investasi yang lebih spesifik. Pendekatan bertahap akan memastikan kerja sama stabil dan saling menguntungkan,” ujarnya.

Sebagai tindak lanjut, Pemerintah Provinsi Sulteng dan pihak Sichuan sepakat membentuk tim bersama untuk mempersiapkan kerja sama sister province secara kelembagaan.

Selain pertanian dan perkebunan, ruang lingkup kerja sama ke depan juga mencakup perikanan, peternakan, logistik, serta pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pemerintah Provinsi berharap kolaborasi lintas negara ini dapat mempercepat transformasi ekonomi Sulteng dari daerah penyuplai bahan mentah menjadi pusat industri pengolahan berbasis komoditas unggulan yang berorientasi ekspor langsung. *