PALU- Wakil Gubernur Sulawesi tengah (Sulteng) Renny A Lamadjido, Walikota Palu, Hadianto Rasyid melaksanakan pengguntingan pita Open Traffic Jembatan Palu 4 dan Elevated Road, di Oprit Jembatan Palu 4, Jalan Raden Saleh, Jumat.
Wakil Gubernur Sulteng Renny A Lamadjido mengatakan, jembatan ini memiliki ketahanan struktur baik dan insyaallah lebih aman dari risiko bencana.
Oleh karena itu kata dia, pembangunan kembali jembatan ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur, melainkan simbol kebangkitan dan ketangguhan Kota Palu.
“Kawasan ini kini lebih indah dan tertata, kita tidak boleh menutup mata terhadap dampak sosial-ekonomi , dahulu kawasan ini menjadi tempat berjualan bagi pelaku UMKM. Banyak masyarakat telah menyampaikan keluhan tentang keberlanjutan mata pencaharian mereka,” bebernya.
Oleh sebab itu kata dia, pemerintah daerah perlu mencarikan solusi melalui Dinas Tata Ruang dan perangkat daerah terkait agar para pelaku UMKM tetap mendapatkan ruang usaha layak, tanpa mengganggu fungsi utama jembatan.
Kepala Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Bambang Razak mengatakan, Jembatan Palu 1V dan elevate road bukan sekadar infrastruktur penghubung antarwilayah, melainkan simbol kebangkitan, harapan, dan semangat persatuan masyarakat pasca gempa dan tsunami 2018.
“Kehadiran kembali kedua infrastruktur ini diharapkan mampu memperlancar arus transportasi, meningkatkan pertumbuhan ekonomi,serta memperkuat konektivitas sosial dan budaya masyarakat,khususnya di Kota Palu dan Provinsi Sulawesi tengah pada umumnya,” katanya.
Oleh karena itu, kata dia, pihaknya berharap pemerintah kota dapat menganggarkan biaya pemeliharaan, serta melaksanakan pemeliharaan rutin dan berkala terhadap kedua aset berkelanjutan.
Ia mengatakan, jalur ini dilintasi kendaraan berat dan berdimensi besar.
Jalur ini tidak desain bagi pejalan kaki dan tidak diperbolehkan adanya aktivitas berjualan di sepanjang badan jalan.
“Selain faktor kecepatan kendaraan , kondisi angin dengan kecepatan tinggi menjadi pertimbangan teknis,” ujarnya.
Wali Kota Palu Hadianto Rasyid mengatakan, jembatan 4 merupakan salah satu ruas sangat strategis, keberadaanya diharapkan mampu mengurai dan mempercepat arus transportasi, baik dari wilayah barat maupun wilayah timur serta menghubungkan berbagai kawasan di Kota Palu.
“Harapannya jembatan ini mampu mendorong pergerakan ekonomi lebih baik di Kota Palu. Jembatan ini harus dijaga dari tindakan vandalisme, seperti mencoret-coret, merusak, atau mengganggu fasilitas dibangun dengan baik,” katanya.
Ia mengatakan, sebagai bentuk tanggung jawab bersama masyarakat Kota Palu perlu menjaga kawasan ini sebaik-baiknya. Kawasan jembatan ini memang tidak diperuntukkan bagi pejalan kaki maupun pesepeda. Pemerintah Kota Palu telah menyiapkan konsep dan rencana induk (master plan) untuk pengembangan kawasan agar tetap memiliki nilai dan potensi dapat terus dikembangkan.
“Insya Allah, pemerintah Kota Palu mulai melaksanakan pengembangan pada tahun ini dalam dua tahap,” katanya.
Pengalaman di Jepang, menurutnya, menunjukan wilayah terdampak gempa dan tsunami tidak ditinggalkan begitu saja. Pemerintah jepang membangun kembali kawasan tersebut menjadi area produktif dan ramah bagi masyarakat.
“Inilah dimaksud dengan kota risilienc, yaitu kota mampu beradaptasi dengan kondisi dan tantangan dihadapi. Saya menegaskan kepada seluruh masyarakat Kota Palu, jembatan 4 merupakan aset sangat berharga dan harus kita jaga bersama,” katanya.
Rekonstruksi jembatan Palu 4, bersumber dari dana JICA hibah dengan nilai kontrak Rp249 miliar. Dengan masa pelaksanaan mulai 1 Juli 2022- 26 April 2025.
Rekonstruksi dan penanganan tanggul, Jalan Rajamoili- Cut Mutia (Coast Area) , bersumber dari dana Loan JICA dengan nilai kontrak Rp 273.531.002.037.00 mulai 2023-2026.
Rekonstruksi dan penanganan tanggul jalan Cumi-Cumi (Coast Area), bersumber Loan JICA dengan nilai kontak Rp152.090.923.410.

