PALU – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) menyiapkan opsi metode water bombing atau pengeboman air dengan helikopter untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo).
Pelaksana tugas (Plt) Kepala BPBD Sulteng, Asbudianto, mengatakan, opsi tersebut telah dikoordinasikan dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), menyusul luasan lahan yang terbakar terus bertambah dan titik api telah masuk ke kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT).
“Sudah sempat berkoordinasi dengan BNPB terkait water bombing, memang harus kepala daerah dari Kabupaten Parigi Moutong yang mengusulkannya,” ujar Asbudianto.
Menurut dia, luas hutan yang terbakar sudah lebih dari 100 hektare. Medannya juga di lereng-lereng gunung sehingga proses pemadamannya banyak mengalami kesulitan untuk menjangkau api.
Asbudianto menjelaskan, selain luasan kebakaran, pertimbangan penggunaan metode water bombing juga didasari kondisi geografis wilayah yang didominasi perbukitan, sehingga menyulitkan petugas menjangkau titik api melalui jalur darat.
“Kondisi ini juga diperparah cuaca panas ekstrem disertai angin kencang yang mempercepat penyebaran api,” katanya.
BPBD Sulteng sendiri telah menambah dua unit mobil tangki air untuk mengoptimalkan upaya pemadaman, terutama pada titik api yang sempat mendekati area permukiman warga.
Selain itu, BPBD juga akan melakukan evaluasi guna meningkatkan status kebakaran hutan dan lahan di wilayah Parigi Moutong dari siaga menjadi darurat.
Berdasarkan data yang dihimpun hingga Kamis (05/02) malam, luas hutan dan lahan yang terbakar mencapai 128 hektare, meningkat signifikan dari sebelumnya yang tercatat sekitar 21 hektare.
Kebakaran tersebut berdampak terhadap 1.329 jiwa yang tersebar di Desa Uevolo dan Desa Avolua, Kabupaten Parigi Moutong.

