PARIMO – Pemain sepak bola asal Mali yang dijuluki “Raja Tarkam” Indonesia, Seydou Diakite, mengalami pengeroyokan oleh manajer dan sejumlah pemain lawan saat memperkuat Sejoli FC melawan Persiol FC pada laga final Sejoli Cup.

Insiden tersebut terjadi di Lapangan Trio Serumpun, Desa Sejoli, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Ahad (1/2) sore.

Berdasarkan rekaman video yang diunggah di media sosial Facebook oleh akun Agen Wir, peristiwa bermula ketika Diakite menerima umpan lambung dan terlibat sedikit kontak fisik dengan penjaga gawang Persiol FC. Tidak terima dengan benturan tersebut, penjaga gawang Persiol FC menghampiri Diakite dan melakukan pemukulan. Dalam rekaman itu, Diakite terlihat tidak melakukan perlawanan.

Situasi kembali memanas beberapa saat kemudian ketika manajer Persiol FC masuk ke dalam lapangan dan kembali melakukan penyerangan terhadap Diakite. Aksi tersebut memicu keterlibatan sejumlah pemain Persiol FC yang turut menyerang, hingga keributan meluas dan menyebabkan kegaduhan di seluruh area lapangan.

Insiden tersebut menuai kecaman luas dari warganet. Video kejadian itu tercatat memperoleh lebih dari 1.000 tanda suka, 300 lebih komentar, serta dibagikan oleh 331 akun. Sebagian besar komentar mengecam keras tindakan tim Persiol FC yang dinilai tidak menjunjung sportivitas.

Sejumlah warganet menyampaikan kekecewaannya melalui kolom komentar. Akun Baba Yong menilai insiden tersebut mencerminkan rendahnya sportivitas. Akun Supriadi Urep menyebut Diakite datang untuk menghibur penonton, namun justru mendapat perlakuan tidak pantas.

Sementara akun Dhalim menilai kehadiran pemain sekelas Diakite di Sulawesi Tengah, khususnya Parigi Moutong, seharusnya mendapat penghargaan, bukan kekerasan. Komentar bernada kecaman serupa juga disampaikan akun Andika Syam, Sahrul Ramadhan, Safrin Osse, dan Mohamad Fikbal.

Terkait peristiwa tersebut, Kapten Sejoli FC, Rivaldi, mengaku sangat menyayangkan insiden kekerasan yang terjadi dalam laga final tersebut.

Mantan pemain Persipal itu menjelaskan bahwa pertandingan sudah berjalan panas sejak babak pertama.

“Sekitar 10 menit babak kedua berjalan, kembali terjadi kontak fisik antara Diakite dan penjaga gawang Persiol FC, yang kemudian menjadi puncak keributan,” ujar Rivaldi.

Ia berharap insiden serupa tidak kembali terulang pada turnamen-turnamen sepak bola antar kampung ke depan. Rivaldi juga menekankan pentingnya peran panitia dalam mengantisipasi potensi keributan serta menjamin keamanan pemain.

“Ke depan panitia harus lebih sigap mengantisipasi potensi keributan, karena laga tarkam memiliki risiko tinggi. Keamanan pemain harus benar-benar dijamin,” harapnya.