PALU – Fakultas Kehutanan Universitas Tadulako (Untad) bersama Relawan untuk Orang dan Alam (ROA) Sulawesi Tengah (Sulteng) memperkuat kerja kolaboratif dalam pengembangan pendidikan, riset terapan, dan pengabdian kepada masyarakat di sektor kehutanan dan lingkungan hidup.
Kolaborasi ini diwujudkan lewat penandatanganan nota kesepakatan atau MoU kedua belah pihak, baru-baru ini.
Kerja sama ini mencakup pengembangan riset berbasis tapak, penguatan kapasitas sumber daya manusia, serta pendampingan masyarakat dalam pengelolaan hutan dan bentang alam secara berkelanjutan.
Fokus kegiatan diarahkan pada isu-isu strategis seperti perhutanan sosial, rehabilitasi hutan dan lahan, konservasi keanekaragaman hayati, hingga adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.
Melalui kolaborasi ini, mahasiswa dan dosen Fakultas Kehutanan Untad akan terlibat dalam kegiatan lapangan bersama ROA Sulteng, mulai dari Magang Kampus Berdampak, penelitian partisipatif, hingga penyusunan rekomendasi kebijakan berbasis bukti ilmiah.
Pendekatan ini diharapkan mampu menjembatani kebutuhan akademik dengan realitas pengelolaan lingkungan di tingkat komunitas.
Dekan Fakultas Kehutanan Untad, Prof. Dr. Ir. Yusran, menyampaikan bahwa penandatanganan MoU tersebut menjadi penanda resmi untuk semakin memperkuat kolaborasi antara Fakultas Kehutanan Untad dan ROA Sulteng.
Ia menjelaskan bahwa selama ini dosen dan mahasiswa kehutanan telah terlibat langsung dalam berbagai agenda ROA.
“MoU ini mempertegas kemitraan yang sebenarnya sudah berjalan antara Fakultas Kehutanan Untad dan ROA Sulteng. Sejak sebelumnya, dosen dan mahasiswa kami telah turun langsung dalam berbagai kegiatan ROA, mulai dari kajian spesies, penyusunan rencana strategis, hingga aksi penanaman pohon di lapangan,” ujarnya.
Di pihak lain, Moch. Subarkah selaku Direktur ROA Sulteng memandang kerja sama ini sebagai upaya memperkuat praktik pendampingan masyarakat dengan dukungan keilmuan dan riset akademik.
Kata dia, pengetahuan dan temuan lapangan yang dihasilkan bersama, diharapkan dapat memperkaya praktik baik, sekaligus menjadi rujukan dalam mendorong pengelolaan hutan secara berkelanjutan.
“Kehadiran mahasiswa dan dosen di lokasi dampingan akan memperkaya proses pendampingan yang selama ini berjalan, sekaligus membuka peluang lahirnya inovasi-inovasi baru dalam pengelolaan hutan dan bentang alam yang lebih inklusif dan berkelanjutan,” jelas Subarkah. ***

