PALU – Langkah Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, oleh gubernur Anwar Hafid, menanamkan fondasi moral dan integritas di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah melalui pelaksanaan retret kepala dinas di Masjid Baitul Khairaat, Palu, dinilai lebih efektif dibandingkan dengan retret di tempat-tempat lain.

Penilaian tersebut disampaikan Pengamat Politik dari Citra Institute, Efriza. Pendekatan tersebut dipandang mampu memberikan dampak psikologis dan spiritual yang lebih mendalam dibandingkan pelaksanaan retret di tempat formal lainnya.

Efriza menilai lagi, retret yang hanya digelar di kampus atau istana negara kerap belum cukup efektif untuk menanamkan kesadaran moral dan integritas pejabat publik.

“Jadi dia (Anwar Haid) tidak lagi melihat kepala dinas itu hanya memahami ilmu pemerintahannya, tapi dia lebih membangun sisi moralitas, integritas, keyakinan,” ujar Efriza, Sabtu (1/2).

Ia menilai langkah itu mencerminkan upaya serius membangun kesadaran etika dan tanggung jawab moral di jajaran birokrasi daerah.

“Retret di masjid itu menggambarkan bahwa Pak Anwar sedang membangun kesadaran moral dan integritas di jajaran pejabat Pemprov Sulawesi Tengah,” kata Efriza.

Menurut Efriza, pendekatan ini dinilai mampu menggugah kesadaran para pejabat daerah terhadap tugas dan kewajiban mereka sebagai pelayan publik.

“Membangun kesadaran itu bahwa pemerintah sejatinya tidak hanya menjalankan kesejahteraan saja, tapi juga harus dibarengi dengan integritas yang baik,” tuturnya.

Selain memperkuat moral dan integritas, retret tersebut juga dinilai berperan penting dalam membangun soliditas dan kebersamaan antar kepala dinas. Soliditas ini menjadi modal strategis dalam menggerakkan roda pemerintahan daerah secara efektif dan berkelanjutan.

Dengan kebersamaan yang terbangun, diharapkan berbagai program strategis Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dapat dijalankan secara lebih sinergis demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Selain itu juga retret ini bertujuan untuk membangun kebersamaan dari mengarungi secara religius yaitu sholat, mendengarkan tausiyah. Hal-hal seperti ini memang biasanya diabaikan oleh pejabat kita,” tandasnya.***