PALU – Perubahan iklim telah menjadi ancaman eksistensi bagi komunitas pesisir di Indonesia, khususnya di Sulawesi Tengah, salah satunya wilayah Kabupaten Morowali. Kabupaten Morowali menghadapi peningkatan intensitas badai, abrasi pantai, dan kenaikan permukaan air laut.
Perubahan iklim telah memberikan dampak berbeda dan berlapis pada kelompok paling rentan terutama perempuan, memposisikan perempuan pada situasi sulit dan memperluas ketimpangan. Dampak ini tidak merata, perempuan pesisir, nelayan, dan kelompok marginal menanggung beban terberat karena ketergantungan mereka pada sumber daya laut untuk mata pencaharian, seperti pengumpul kerang, rumput laut, dan penangkapan ikan skala kecil.
Melihat situasi yang dialami oleh perempuan nelayan, perempuan pesisir, serta perempuan lainnya, Solidaritas Perempuan Palu menyelenggarakan Festival Orang Muda dan Temu Perempuan Nelayan, Perempuan Pesisir, dan Perempuan Muda terkait situasi dan pengalaman mereka menghadapi dampak perubahan iklim di Desa Fatufia, Labota dan Bahomakmur. Dengan peserta 10 orang muda dari Palu dan 30 Perempuan Akar Rumput dari 3 desa serta menghadirkan Narasumber dari Dinas Kesehatan Kabupaten Morowali, Dinas DP3A Kabupaten Morowali dan Dinas Lingkungan Kabupaten Morowali, TUK Indonesia, Solidaritas Perempuan Palu dan JATAM Sulawesi Tengah.
Kegiatan yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 24 Januari 2026 tepatnya di Hotel Grand Aurel Morowali. Kegiatan temu yang mempertemukan antara perempuan nelayan, perempuan pesisir dan perempuan muda bersama dengan pemerintah dibuka dengan testimoni dari salah satu perempuan akar rumput asal Fatufia “Harapan kami untuk ibu-ibu sekecamatan Bahodopi meminta kepada dinas untuk lebih melihat kondisi tersebarnya penyakit HIV dan ISPA.
Harapan kami juga, kami perempuan yang tidak punya “sekolah” dibukakan lapangan pekerjaan karena di perusahaan yang dibutuhkan hanya yangb bersekolah. Kami hanya menjadi opengangguran. Harapan kami juga untuk desa kepada pemerintah yang hadir lebih memperhatikan “Kota Debu” ini dan air bersih”.
“Situasi perubahan iklim saat ini diperparah karena masifnya pertambangan dan insdustri ekstra aktif beserta PLTU Captivenya, yang menyumbang emisi di antaranya Co2 dari pembakaran batu bara. Kenyataan hari ini bahwa dampak perubahan iklim ini tidak buta gender, perempuan menjadi orang yang paling terdampak, apalagi perempuan yang memiliki lapisan identitas sosial yang dianggap dibawah. Ananda Farah Lestari, Badan Eksekutif Komunitas SP Palu mengatakan, Pengaruh terhadap perubahan iklim tergantung bagaimana kita menyikapi dari semua pihak. Sebelum ada perusahaan, tentu saja sudah melalui proses panjang dan sudah memikirkan dampak.
“Semua sudah sesuai koridornya, tapi bisa jadi menyenangkan satu pihak dan mengecewakan satu pihak lainnya,” ujar nya.
Dilihat dari segi kesehatan, jika dari awal dilakukan dampak kesehatan akan membantu dibeberapa tempat atau beberapa sisi, tapi kalau dari awal saja sudah salah pasti akan sangat berdampak buruk terhadap perempuan Nirmawati, selaku Dinas Kesehatan Kabupaten Morowali mengatakan, mestinya pembangunan industri itu seimbang dengan perlindungan kesehatan bagi masyarakat dan pekerja.
“Sumber air bersih yang tidak ada, beban lingkungan yang ditanggung perempuan berlipat-lipat ganda. Peningkatan penyakit ISPA yang luar biasa. Kerentanan khusus perempuan ada gangguan kesehatan reproduksi,” bebernya.
Sementara Direktur JATAM Sulteng, Moh Taufik , Perempuan adalah korban yang paling menderita ketika tambang beroperasi. Ini bukan sekedar klaim, melainkan fakta pahit yang terbukti menjadi pusat ekstraksi. Dibalik gemuruh mesin dan debu pertambangan, perempuan, khususnya ibu rumah tangga menanggung beban ganda yang seringkali luput dari pandangan.
Ananda Farah lestari, menambahkan, “di tengah keterhimpitan, perempuan tidak tinggal diam, mereka membangun inisiatif dan tindakan kolektif untuk bertahan dan melawan ketidakadilan yang mereka alami. Perempuan desa Fatufia, khususnya perempuan dusun Kurisa beralih mengumpulkan limbah plastik yang sebelumnya berprofesi sebagai nelayan ikan dan pengumpul meti.”
Dalam sesi tanya jawab, salah satu perwakilan orang muda, Qurrah, mengajukan sejumlah pertanyaan kritis kepada dinas terkait, mulai dari upaya sosialisasi HIV, rencana penanganan krisis air bersih dan debu lingkungan, hingga langkah perlindungan bagi nelayan agar tidak kehilangan mata pencaharian.
Pada sesi penutup, para narasumber menyampaikan pernyataan sikap. SP Palu menegaskan pentingnya kebijakan perlindungan khusus bagi perempuan di lingkar tambang yang tidak hanya ada di atas kertas, tetapi benar-benar diimplementasikan, termasuk perlindungan bagi perempuan pembela lingkungan dari kriminalisasi dan intimidasi.
DP3A Kabupaten Morowali menyebut tiga desa dampingan SP Palu berpotensi menjadi percontohan pemberdayaan perempuan, sementara Dinas Lingkungan Hidup menegaskan pentingnya pelibatan perempuan dalam upaya menjaga keberlanjutan lingkungan. Dinas Kesehatan mengajak perempuan Morowali untuk berani menyuarakan aspirasi, dan Dinas Perikanan mengakui bahwa pencemaran laut akibat tambang menjadi ancaman serius bagi nelayan
JATAM Sulteng menutup dengan pernyataan tegas bahwa perkembangan industri, termasuk kendaraan listrik, kerap dibangun dengan mengorbankan masyarakat akar rumput.
Puncak kegiatan ditandai dengan pembacaan deklarasi bersama oleh perempuan akar rumput dari Desa Fatufia, Labota, Bahomakmur, serta perwakilan orang muda. Deklarasi ini menjadi langkah awal perjuangan kolektif menuju keadilan iklim yang berperspektif gender di Morowali.***

