PALU – Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama memperkuat kompetensi tokoh agama di Sulawesi Tengah untuk memperkokoh kualitas kerukunan antar umat beragama di Provinsi Sulawesi Tengah.
Hal ini dilaksanakan oleh UIN Datokarama melalui Pelatihan Literasi Keagamaan Lintas Budaya yang mengusung tema Kolaborasi Lintas Agama dan Budaya Demi Mewujudkan Masyarakat yang Inklusif dan Kohesif, diikuti para tokoh agama dari semua agama, berlangsung di Auditorium perguruan tinggi keagamaan Islam negeri tersebut, Senin (19/1).
Rektor UIN Datokarama Profesor Lukan Thahir menegaskan bahwa sebagai lembaga pendidikan tinggi Islam negeri terbesar di Sulawesi Tengah, UIN memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi jembatan bagi perbedaan.
“Kerukunan bukan hanya soal ketiadaan konflik, tetapi tentang bagaimana kita saling memahami identitas budaya dan keyakinan masing-masing tanpa merasa terancam. Tokoh agama adalah garda terdepan dalam menyampaikan pesan damai ini,” ujarnya saat membuka acara.
Rektor menjelaskan bahwa, untuk memupuk dan meningkatkan kualitas kerukunan umat beragama, maka setiap individu umat beragama terlebih dahulu harus memahami dan mengenal diri sendiri.
Karena, dengan kemampuan mengenal diri sendiri, akan mengantar setiap individu untuk mengenal orang lain.
“Kadang konflik tidak lahir karena perbedaan besar. Tetapi lahir dari hal kecil, misalnya kita merasa tidak dihargai, kita merasa tidak didengar, kita merasa paling benar, kita merasa pendapat kita lebih penting,” ungkapnya.
“Padahal mungkin bukan itu masalahnya. Mungkin yang terjadi adalah kita sedang lelah. Sedang sensitive karena punya beban pikiran. Maka pemahaman diri juga berarti: mampu mengelola emosi,” ujarnya lagi.
Oleh karena itu, orang yang kuat bukan orang yang selalu menang dalam perdebatan, tetapi orang yang mampu menang atas dirinya sendiri.
“Orang yang paling kuat menurut Nabi bukanlah yang pandai bergulat, orang yang kuat adalah yang mampu menguasai dirinya ketika marah,” sebutnya.
Rektor mengutarakan memahami orang lain bukan hanya mendengar kata-katanya, tetapi memahami latar belakang, pengalaman, cara berpikir, dan nilai yang diperjuangkan.
Maka toleransi bukan berarti kita harus setuju dengan semua hal. Tetapi toleransi berarti kita tetap menghormati manusia, bisa bekerja sama, walau tidak selalu sepakat dengan pendapatnya.
Rektor menutup sambutannya dengan mengatakan,pahami dirimu agar tidak mudah menghakimi, pahami orang lain agar tidak mudah membenci, dan berkolaborasilah agar perbedaan menjadi rahmat bukan musibah.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Institut Leimena Matius Ho mengapresiasi UIN Datokarama yang bersedia bekerja sama dalam upaya meningkatkan kualitas kerukunan antar agama dan lintas budaya.
Kegiatan Pelatihan Literasi Keagamaan Lintas Budaya dilaksanakan oleh UIN Datokarama bekerja sama dengan Institut Leimena, sebagai salah satu upaya dalam memaksimalkan implementasi Program Kementerian Agama Republik Indonesia Tentang Meningkatkan Kerukunan dan Cinta kemanusiaan.***

