PALU — Ketua Umum Pengurus Pusat Wanita Islam Alkhairaat (WIA), Sy. Saikhun bin Abdillah Aljufri, menegaskan bahwa sejarah telah membuktikan perbaikan bangsa tidak dapat dilepaskan dari kekuatan sosial yang dibangun oleh perempuan. Hal itu disampaikannya dalam sambutan pada Musyawarah Wilayah (Musywil) WIA Sulawesi Tengah, yang digelar di Gedung Al-Muhsinin, Kompleks Perguruan Alkhairaat, Senin (19/1) pagi.

Menurutnya, ketika perempuan diberdayakan, maka keluarga akan menjadi tangguh. Dari keluarga yang kuat, lanjutnya, akan lahir desa dan kelurahan yang memiliki daya tahan serta keberlangsungan dalam menghadapi tantangan kehidupan.

“Perempuan adalah kekuatan sosial yang bekerja dengan kesungguhan dan konsistensi. Ketika perempuan berdaya, keluarga menjadi kuat, dan dari keluarga yang kuat akan lahir masyarakat yang tangguh,” ujar Sy. Saikhun.

Dalam sambutannya, ia juga mengutip syair pendiri perguruan Islam Alkhairaat, SIS Aljudri atau Guru Tua. Pentingnya ilmu dan akhlak dalam mengapai tujuan dan cita-cita. Ia menegaskan bahwa tema Musywil WIA sangat tepat, karena menempatkan akhlak, solidaritas, dan kebersamaan sebagai fondasi utama gerakan Wanita Islam Alkhairaat.

Sy. Saikhun menilai WIA Alkhairaat memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan organisasi perempuan lainnya. Hal itu tidak terlepas dari keteladanan para pendiri Alkhairaat, khususnya Habib Idrus bin Salim Al-Jufri, yang menanamkan nilai keilmuan dan akhlak sebagai ruh perjuangan.

“Para pengurus dan kader WIA harus menjadi teladan di tengah masyarakat. Program WIA yang meliputi bidang pendidikan, dakwah, dan sosial harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh umat,” tegasnya.

Ia mengingatkan para pengurus yang diberi amanah agar memiliki keteguhan, kesabaran, serta kemampuan merangkul perbedaan karakter di internal organisasi. Kritik dan masukan, menurutnya, harus dipandang sebagai energi untuk kemajuan organisasi.

Lebih jauh, Sy. Saikhun mendorong WIA agar hadir secara nyata di tengah persoalan sosial masyarakat, seperti pencegahan narkoba, penguatan peran ibu dalam keluarga, serta pendekatan emosional kepada masyarakat di wilayah rawan sosial.

Ia juga menekankan pentingnya perhatian WIA terhadap kesehatan ibu dan anak, sebagai bagian dari persiapan menuju Indonesia Emas 2045, yang harus dimulai sejak masa kehamilan.

Dalam aspek perencanaan program, Ketua Umum PP WIA mengingatkan agar program disusun secara realistis, terukur, dan berkelanjutan, dengan mempertimbangkan kemampuan anggaran dan sumber daya yang tersedia.

“Jangan hanya membuat program besar di atas kertas, tetapi sulit direalisasikan. Program harus dimulai dari hal-hal yang nyata, konsisten, dan benar-benar menjawab kebutuhan umat,” katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya penguatan lembaga pendidikan Alkhairaat, termasuk perhatian terhadap keberlangsungan sekolah-sekolah yang mengalami kekurangan tenaga pendidik dan pembiayaan. Sy. Saikhun mengajak seluruh jajaran Wanita Islam Alkhairaat untuk memperkuat sinergi dari tingkat wilayah, kabupaten, hingga ranting.

“Mari kita saling menguatkan, memahami tujuan organisasi, dan bergerak bersama membesarkan Wanita Islam Alkhairaat demi kemaslahatan umat dan bangsa,” pungkasnya.