SEKELOMPOK mahasiswa dan mahasiswi terlihat sibuk mengutak-atik alat-alat kelistrikan. Wajah mereka nampak sedikit tegang, sebab di hadapan mereka telah berdiri dosen pembimbing dan beberapa petinggi PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP).

Hari itu, Risky Aulia beserta rekannya sedang menguji alat menjadi inovasi mereka. Nantinya, alat ini akan dipasang pada mesin conveyor sudah dirancang sedemikian mini, seperti banyak terdapat di perusahaan kawasan IMIP.

Alat inovasi tersebut dirancang dan dipasang ketika ban berjalan atau sabuk angkut terhubung ke dua atau lebih katrol yang berputar untuk mengangkut material ore nikel. Satu atau lebih katrol terhubung ke pembangkit, sehingga akan menggerakkan rangkaian ban atau sabuk tersebut.

Risky Aulia beserta rekannya lalu mempraktikan bagaimana kerja alat inovasi mereka buat, ketika beban atau ore nikel pada berat tertentu ditaruh pada mesin conveyor tersebut. Meski ragu dan agak malu-malu kedua mahasiswa tersebut mempraktikan alat inovasi mereka disaksikan langsung oleh dosen pembimbing serta Direktur Komunikasi PT IMIP Emilia Bassar dan Direktur Politeknik Industri Logam Morowali (PILM) Agus Salim Opu beserta jajarannya.

Dengan sangat cermat dan teliti Risky melihat setiap detail rangkaian instalasi listrik dipasang pada alat inovasi tersebut, hanya guna memastikan bahwa rangkaiannya sudah benar dan tidak membuat kesalahan fatal di hadapan para rombongan dan dosen.

Risky lalu mengambil terminal cok yang sudah tersambung dengan sumber listrik. Saat dicolok, mesin conveyor mini tersebut bekerja dan berjalan. Ketika diletakkan material, praktiknya pun sukses. Semua yang menyaksikan mereka memberikan tepuk tangan.

Risky Aulia (kiri) beserta rekannya mempraktikan bagaimana kerja alat inovasi mereka buat. Kedua mahasiswa tersebut mempraktikan ini disaksikan langsung oleh dosen pembimbing serta Direktur Komunikasi PT IMIP Emilia Bassar dan Direktur PILM Agus Salim Opu beserta jajarannya. (FOTO: MAL/IKRAM)

“Inilah tugas-tugas mahasiswa dan mahasiswi di PILM merancang inovasi-inovasi sebagai implementasi penjabaran dari teori-teori diajarkan,” kata Direktur PILM, Agus Salim Opu kepada sejumlah wartawan yang ikut dalam kunjungan tersebut, pada medio tahun ini.

Politeknik Industri Logam Morowali (PILM) sendiri terletak di Desa Labota, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali. Berdiri sejak 2016 telah banyak menelorkan tenaga-tenaga kerja industri kompeten.

Menempati lahan sekitar 30 hektare, kampus logam ini menjadi penyelenggara pendidikan vokasi industri excelence dan berdaya saing global. Pelaksanaanya didukung oleh dosen dari Politeknik Manufaktur Bandung, Politeknik ATI Makassar dan perguruan tinggi lainnya.

PILM, terdiri dari tiga program studi jenjang Diploma-3, yaitu: Teknik Perawatan Mesin, Teknik Listrik dan Instalasi, dan Teknik Kimia Mineral dan kedepan dibuka program studi metalurgi, ilmu dan teknologi, mempelajari ekstraksi, pemurnian, pemrosesan, dan penggunaan logam.

Sarana dan prasarana guna menunjang praktik cukup memadai, bahkan beberapa alat seperti berada pada perusahaan kawasan industri dibuat mini, untuk bisa menjadi contoh praktik bagi mahasiswa-mahasiswi. Selain itu bagi mahasiswa dan mahasiswi akhir semester diberikan tugas menciptakan inovasi-inovasi dari teori diterima dengan pengalaman praktik di industri kawasan.

Dengan dibangunnya PILM, bisa memberikan kontribusi tenaga kerja terampil dan siap pakai  pada perusahaan-perusahaan berada di kawasan PT IMIP. Dan hampir sekitar 70-80 persen jebolan PILM bekerja di perusahaan kawasan industri.

Dan paling baiknya bagi mahasiswa dan mahasiswi berkuliah di PILM, IMIP memberikan beasiswa penuh, termasuk fasilitas tempat tinggal berupa rumah susun.

“IMIP kasih beasiswa, bahkan juga tempat tinggal atau mes,” ujar Dedy Kurniawan, Head of Public Relations PT IMIP saat Tour Media di Morowali.

Dedy mengatakan, mahasiswa PILM yang memasuki semester lima dan enam sudah mulai magang langsung di kawasan industri. Tak hanya itu, mereka juga sudah menerima gaji meski masih berstatus mahasiswa.

“Magang mereka sudah seperti kerja. Langsung belajar teknologi industri di kawasan,” kata Dedy.

IMIP memandang pembangunan SDM sebagai investasi jangka panjang bagi keberlangsungan kawasan industri.

“Kita ini kawasan industri, dibutuhkan ahli mesin, bukan jurusan lain,” tegas Dedy.

Sayangnya, lanjut Dedy  masih banyak masyarakat justru memilih kuliah di luar daerah.

Direktur PILM Agus Salim Opu, mengatakan, politeknik ini bukan hanya tempat belajar. Ini juga tempat anak-anak Morowali menempa asa. Dirinya berharap putra-putri Morowali bisa berkuliah di sini.

“Sebagai Politeknik vokasi berbasis industri, PILM berkomitmen mencetak lulusan siap kerja dan relevan dengan kebutuhan, sektor logam nasional,khususnya kawasan IMIP,” kata Agus saat kunjungan Media Tour IMIP pada Selasa, (8/7) silam.

Agus menambahkan, sistem pembelajaran berbasis vokasi, dengan 70 persen praktik dan 30 persen teori. Mahasiswa menempuh empat tahun kuliah di kampus, lalu dua tahun di perusahaan.

“Semester empat mereka sudah belajar operasional mesin otomatis,”  ujar Direktur PILM, Agus Salim Opu.

Direktur Komunikasi PT IMIP Emilia Bassar mengatakan, PILM punya kerja sama dengan Kementerian Perindustrian. Diharapkan nanti ke depan PILM menjadi satu perguruan tinggi untuk vokasi.

Dengan harapan kata Emilia, adanya alumni punya kompetensi, skill, bisa mengisi penyerapan tenaga kerja di IMIP dan menjadi calon-calon muda untuk industri hilirisasi nikel

“Jadi transfer knowledge terus berjalan untuk teknologi, terus berkembang di hilirisasi nikel ya, termasuk smelter, kemudian juga stainless steel, dan juga teknologi untuk bahan baku, baterai, kendaraan listrik,” katanya

Tidak hanya sampai di situ keberadaan PILM memberikan kesempatan tinggi vokasi bagi masyarakat lokal. Seperti halnya dialami Surya, putra daerah asal Bungku, Bumi Tepe Asa Moroso, kini berperan sebagai Analis Spektral di Huabao Indonesia. Perjalanan kariernya dimulai saat menempuh pendidikan di Politeknik Industri Logam Morowali (PILM), Jurusan Analis Kimia Logam, dan menjalani program magang selama tiga bulan di Huabao pada 2024.

Selama magang, Surya menampilkan soft skill baik, seperti komunikasi  efektif, pro aktif, etika serta kemampuan dalam bekerja tim, hal tersebut membuat manajemen Huabao merekrut sebagai karyawan tetap.

Kini, ia menjadi bagian dari tim analisis bertugas menguji sampel produksi menggunakan instrumen XRF dan spektrometer, serta mengolah data hasil analisa secara cermat dan teliti.

Direktur Komunikasi PT IMIP Emilia Bassar dan Direktur PILM Agus Salim Opu bersama jajaran depan PILM, Desa Labota, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali. (Foto Dok MAL 8 Juli: IKRAM)

Kesempatan tidak datang dua kali. Saat pintu terbuka, masuklah dengan tekad, belajar sungguh-sungguh, dan buktikan bahwa anak daerah juga bisa bersinar.

Kisah Surya menjadi bukti nyata kolaborasi Huabao dan PILM dalam mencetak SDM lokal Morowali kompeten melalui program magang terarah dan berkelanjutan.

Selain Surya terdapat pula, Rahmatia, putri daerah asal Desa Sampeantaba, Kabupaten Morowali adalah lulusan Politeknik Industri Logam Morowali yang berhasil menunjukkan dedikasi dan potensi luar biasa sejak mengikuti program magang di Huabao.

Berkat kerja keras dan semangatnya, kini Rahmatia telah bergabung sebagai Welder Mekanik di Huabao. la pun menjadi satu-satunya perempuan menjalani profesi welder di Departemen Instalasi & Konstruksi.

Sebagai Welder Mekanik Rahmatia bertanggung jawab menyelesaikan pekerjaan pengelasan sesuai standar ditetapkan. la harus mampu mengidentifikasi dan memperbaiki kerusakan atau cacat pada hasil las, melakukan inspeksi peralatan sebelum digunakan, serta memastikan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai dengan SOP.

Selain itu, ia juga dituntut untuk bekerja sama dalam tim dan memahami arahan dari atasan secara tepat.

Surya dan Rahmatia menjadi barometer bahwa sumber daya manusia (SDM) lokal bisa diandalkan. Masih banyak putra-putri lokal berkarier di kawasan PT IMIP. Dengan banyaknya warga lokal menempuh pendidikan vokasi di PILM mengikis potensi kesenjangan sosial antara lulusan terampil dan non terampil dan menyerap ketersediaan tenaga kerja lokal siap kerja. Dan mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja luar daerah.

Dan tak dapat dipungkiri pertumbuhan ekonomi akibat aktivitas kampus dan kawasan industri meningkat drastis, berbagai usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) tumbuh bagai cendawan musim hujan dan usaha lainnya seperti kos,kuliner dan transportasi, serta peluang usaha lainnya.

Head of Media Relations Department PT IMIP, Dedy Kurniawan, mengatakan, dalam kurun waktu lima tahun terakhir, lonjakan jumlah usaha di Kecamatan Bahodopi Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah (Sulteng), terdata mencapai 62,7 persen.

“Pada Maret 2025 lalu, jumlah usaha kembali mengalami peningkatan menjadi 7.643 unit. Aktivitas UMKM di Kecamatan Bahodopi memacu penyerapan tenaga kerja hingga 16.705 orang tenaga,” ujar Dedy, Selasa (1/7).

Dedy merinci, ragam UMKM tersebut didominasi tiga jenis usaha dengan jumlah unit terbanyak, kios sembako  juga menjajakan pertamini (981 unit), stan minuman (735) dan warung makanan semi permanen (670). Ada pula kios (648 unit), warung makan (591), konter Ponsel (274) dan bengkel (274). Selebihnya, terdapat toko pakaian, sepatu dan alat pelindung diri (263), hingga kios ukuran menengah (246 unit).