PALU – Ketua Utama Alkhairaat, Habib Sayyid (HS) Alwi bin Saggaf Aljufri, menunjukkan sikap terbuka ketika menerima kedatangan Muhammad Fuad Riyadi alias Gus Fuad Pleret, ke kediamannya, Ahad (20/07).

Gus Fuad datang dalam rangka menyampaikan permohonan maaf secara langsung atas perbuatannya melakukan pencemaran nama baik dan penghinaan kepada Habib Sayyid Idrus bin Salim Aljufri atau Guru Tua, beberapa waktu lalu di media sosial.

Dengan kelapangan hati, Habib Alwi menyatakan menerima permintaan maaf tersebut.

“Hal-hal yang baik kita terima. Demikian juga ada hal-hal yang kurang dari saudara kita. Dengan menerima, artinya kita tidak perlu lagi menyebut-nyebut. Yang sudah berlalu, berlalulah,” kata Habib Alwi, di hadapan para pengurus PB Alkhairaat dan pihak terkait lainnya yang hadir dalam kesempatan itu.

Habib menyatakan, Guru Tua dalam banyak bait syairnya, sering menyebutkan agar mencontoh teladan Baginda Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam (SAW).

Salah satu syair Guru Tua yang disampaikan Habib Alwi, artinya “Dan kepada sunah Nabi aku mengajak untuk mempelajarinya, di dalamnya ada petunjuk, ada cahaya, ada ilmu, maka ketahuilah itu”.

“Untuk itu kita abnaul khairaat harus menjunjung tinggi ajaran Guru Tua, termasuk sifat pemaaf, sifat penebar kebaikan untuk umat. Terlebih lagi saudara kita sesama yang sudah mengakui kesalahannya. Apa yang terbaik bagi seseorang kalau dia sudah datang dengan mengakui kesalahan,” kata Habib.

Bahkan, kata dia, jika ditelusuri pada abad ketujuh silam, maka ada sejarah terulang yang hampir mirip kejadian yang dilakukan terhadap Guru Tua.

Dahulu di jaman Rasulullah, tutur Habib, ada seorang bernama Ka’ab Ibnu Zuhair yang juga sempat juga melontarkan kalimat memojokkan Nabi. Kala itu, para sahabat ingin menyelesaikan persoalan dengan cara mereka.

Begitu Ka’ab Ibnu Zuhair mengetahui apa yang dia akan dapatkan dan terasa jalan itu sempit bagi dia, dia mencoba bertanya kepada sahabatnya bagaimana mengantarkan kepada Nabi. Sampai akhirnya dipertemukanlah.

“Waktu itu, Rasulullah tidak mengetahui bahwa yang datang adalah Ka’ab. Begitu dia ke depan Nabi, dia bertanya, “Wahai Rasulullah, jikalau Ka’ab Ibnu Zuhair, aku bisa datangkan ke hadapanmu, apakah kau mau memaafkan?” Nabi bilang, Tentu. Maka Ka’ab pun mengatakan, Ya Rasulullah, aku Ka’ab Ibnu Zuhair. Aku mohon ampun,” tutur Habib.

Saat itu pula, kata Habib, Rasulullah pun memaafkan dan tidak seorang sahabatpun yang berani menyentuh Ka’ab.

“Kejadian yang telah terjadi (kasus penghinaan terhadap Guru Tua) sebetulnya adalah pelajaran bagi semua, termasuk bagaimana pentingnya menjaga sikap, lisan, dan sebagainya,” ujar Habib.

Di hadapan Fuad Plered, Habib menyampaikan bahwa Guru Tua adalah simpul keumatan. Tidak saja bagi umat Islam, tapi bagi umat-umat lain.

“Perlu dipahami bahwa nama Alkhairaat yang disematkan oleh Guru Tua berarti banyak kebaikan. Tentunya Guru Tua mengharapkan bahwa semangat, jati diri, roh kita, sikap kita, kebijakan kita, itu semua harus memberikan kebaikan, harus berefek baik,” jelas Habib.

Untuk itulah, kata dia, Guru Tua memilih jalan perjuangannya lewat pendidikan, memberikan kontribusi bagaimana kebaikan itu bisa tersebarkan untuk semua umat.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) PB Alkhairaat, Jamaluddin A Mariajang, mengatakan, sesuai arahan oleh ketua utama dengan mengutip syair Guru Tua, maka abnaul wajib mengikuti dan menjalankan ajaran Nabi.

“Jadi beliau (Ketua Utama) sampaikan bahwa kita semua wajib menjalankan perilaku dan sunah Nabi, antara lain memaafkan orang. Itu isyarat. Dengan nasehat-nasehat itu kita sudah bisa menangkap,” sebut Sekjen.

Dalam satu dua hari, kata dia, akan melakukan pertemuan dalam rangka melihat pertimbangan dan asas-asas hukum yang mungkin dilakukan oleh kepolisian, mengingat saat ini kasus Fuad Plered tersebut juga sedang berproses.

“Kalau kita lihat sekarang ini, adik-adik kita yang tergabung dalam Presidium, mereka tergantung dengan ketua utama,” kata Sekjen.

Sementara itu, Fuad Plered di hadapan ketua utama dan pengurus PB Alkhairaat, menyampaikan, meskipun sudah mendengar penyampaian dari ketua utama, namun dirinya di hadapan semua yang hadir, kembali memohon maaf yang sebesar-besarnya, setulus-setulusnya atas kekhilafan yang telah dilakukan.

“Mohon maaf, mohon ampun, mohon ridha, banyak keliru, banyak salah,” katanya.

Ia bahkan berjanji untuk mempelajari lebih dalam sosok Guru Tua, bagaimana peran besar yang sudah diberikan beserta generasi-generasi penerusnya di dalam kerangka ke-Indonesiaan, kebhinekaan, dan kepancasilaan.

Ia bahkan siap membantu jika Alkhairaat memiliki niat untuk membuka cabang di Jogyakarta.

Di penghujung, ia memohon agar persoalan hukum yang telah dilaporkan ke Polda Sulteng, juga bisa dicabut, seiring dengan permohonan maaf dan sanksi adat yang telah dipenuhi.

“Hukuman dari dewan adat, saya terima dan penuhi dengan ikhlas. Artinya, di samping saya sudah memohon maaf, tentu saja saya sudah dengan ikhlas menerima hukuman atas kekhilafan saya tersebut. Oleh karena itu, saya mohon dengan sangat dengan merendahkan diri saya, kiranya Sayyid Alwi berkenan untuk memberikan perintah kepada pihak-pihak yang melaporkan saya di Polda, untuk mencabut laporan,” tutupnya.

Turut hadir dalam pertemuan tersebut, Ketua PB Alkhairaat Asgar Basir Khan dan Hamdan Rampadio, Ketua Komwil Alkhairaat Sulteng, Arifin Sunusi, Presidium Aksi Bela Guru Tua, dan pihak terkait lainnya.