PALU – Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sulawesi Tengah menggaungkan literasi kebangsaan untuk menangkal radikalisme dan terorisme.

“Kami mengajak masyarakat memperkuat ketahanan nasional, melalui budaya menulis dan narasi kebangsaan,” kata Ketua FKPT Sulawesi Tengah Sofyan Bachmid di Palu, Kamis (3/7).

Dia menjelaskan FKPT Sulteng bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melaksanakan kegiatan tulisan cinta menyongsong indonesia emas (TINTA EMAS) dengan tema goresan cinta untuk memperkuat ketahanan nasional dalam pencegahan radikalisme dan terorisme.

“Kegiatan itu sebagai upaya strategis melawan penyebaran radikalisme dan terorisme, yang kian berkembang di ruang digital,” katanya.

Lanjut dia, kegiatan tersebut merupakan bagian dari respon nyata terhadap tantangan zaman. Di mana ancaman radikalisme tidak lagi bersifat fisik semata, melainkan telah menjelma dalam bentuk narasi dan propaganda digital sulit dideteksi secara konvensional.

Melalui kegiatan dilaksanakan secara daring itu, FKPT Sulteng mengajak peserta, menyuarakan nilai-nilai toleransi, cinta tanah air, dan semangat persatuan bangsa melalui tulisan.

Menulis, menurut Sofyan, bukan hanya ekspresi personal, tetapi juga alat perjuangan ideologis mampu menjaga keutuhan bangsa Indonesia.

Sofyan mengutip Piagam Madinah yang disusun oleh Nabi Muhammad SAW sebagai contoh keberhasilan dalam menyatukan masyarakat majemuk. Ia menekankan pentingnya prinsip kesatuan dalam keberagaman juga tercermin dalam semboyan bangsa Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika.

“Prinsip ini menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan, etnis, atau asal usul bukan penghalang untuk membangun sebuah komunitas rukun, adil, dan berdaulat. Nilai ini sangat relevan bagi bangsa Indonesia,” jelasnya.

Lanjut dia, semangat Piagam Madinah dalam konteks kekinian yakni melawan narasi kebencian dengan cinta, menyebarkan toleransi melalui tulisan, dan memperkuat ketahanan ideologis bangsa melalui budaya literasi.

Ia pun mengajak semua pihak untuk menjadi agen perubahan, pelopor penyebar narasi damai, dan pejuang ketahanan ideologis di lingkungan masing-masing. Harapannya, kegiatan tersebut dapat menjadi titik awal dari gerakan literasi kebangsaan lebih luas dan berkelanjutan di berbagai daerah.***