PALU – Desa Bale, Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala telah meluncurkan Program Inovatif Ceting Deng Tari (Cegah Stunting Dengan Telur setiap hari). Kegiatan ini dilakukan sebagai salah satu upaya percepatan penurunan Stunting di Desa Bale, dan terpenuhinya cakupan protein pada anak.

Kades Bale Adam mengatakan, angka stunting adalah salah satu indikator global tentang baik atau tidaknya perkembangan anak di dalam suatu negara. Kasus stunting yang terjadi di suatu negara juga dapat merefleksikan ketimpangan sosial dan ekonomi yang terjadi di masyarakatnya.

Dia menjelaskan, program perbaikan gizi masyarakat merupakan bagian integral dari program kesehatan, yang mempunyai peranan penting dalam menciptakan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Untuk mencapai tujuan tersebut, program perbaikan gizi harus dilaksanakan secara sistemastis dan berkesinambungan.

Masalah gizi merupakan masalah yang penanganannya harus dilaksanakan secara terpadu dengan berbagai sektor, bukan hanya dengan pendekatan medis. Masalah gizi berkaitan erat dengan masalah ekonomi dan prilaku serta pengetahuan masyarakat.

Dia menjelaskan, stunting adalah pendek atau sangat pendek berdasarkan panjang/tinggi badan menurut usia yang kurang dari -2 standar deviasi (SD) pada kurva pertumbuhan WHO yang terjadi akibat asupan nutrisi kurang adekuat atau infeksi berulang/kronis yang terjadi dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan (WHO, 2022).

Masalah stunting bisa diatasi dengan melakukan berbagai cara baik secara spesifik atau sensitif. Salah satu upaya pencegahan dan penanggulangan stunting adalah dengan memberikan makanan tambahan yang mengandung protein yang cukup, terutama makanan yang mengandung protein hewani seperti telur, ikan dan daging.

Ia mengatakan, sasaran program ini balita dengan status gizi kurang/berat badan kurang serta balita yang mengalami 2 kali tidak naik berat badan berdasarkan hasil pemantauan pertumbuhan di posyandu. Balita akan memperoleh 2 butir telur setiap hari selama 60 hari.

“Kenapa telur? Mudah didapat dan tersedia di semua desa. Harga terjangkau, kandungan protein yang cukup tinggi. Dalam satu butir telur 60 gram mengandung energi 92 cal, protein 7,4 gram, dan lemak 6,4 gram,” katanya.

Dia mengatakan, pihaknya telah menggelar sosialisasi dan advokasi. Pendataan sasaran, keluarga beresiko Stunting yaitu ibu hamil dan balita 6-59 bln sejumlah 92 balita.

Kemudian melakukan, pemeriksaan secara berkala oleh tenaga kesehatan, pembinaan/konseling keluarga oleh tenaga kesehatan dan kader, distribusi dan pemantauan serta monitoring dan evaluasi.

Adam berharap inovasi ini tidak berakhir hanya di pemberian telur selama 60 hari oleh dana desa namun akan berkelanjutan pada keluarga masing-masing.

“Semoga inovasi ini dapat meningkatkan pengetahuan keluarga tentang pentingnya pola asuh yang baik serta pentingnya konsumsi protein di masa pertumbuhan dan perkembangan balita. Kami juga berharap dukungan dari berbagai sektor terkait agar penanganan stunting khususnya di desa Bale dapat berjalan dengan baik. Sehingga desa Bale menjadi zero stunting,” ujarnya.

Sebagai laporan tambahan pada tahun 2023 lalu kasus stunting di desa Bale menurun dari 34 orang menjadi 19 orang balita.

Intervensi yang telah dilakukan yaitu perbaikan sarana air bersih dan akses jamban sehat, pemberian makanan tambahan (Dana Desa/Puskesmas), sosialisasi stunting di masyarakat.

Kemudian, di tahun 2024 pendataan balita, ibu hamil, remaja, PUS, Lansia. Kemudian Pemeriksaan Hb & golongan darah bagi remaja, ibu hamil dan masyarakat.

“Terakhir, pemberian makanan tambahan balita stunting dan gizi kurang serta inovasi Ceting Deng Tari,” katanya.

Reporter: IRMA
Editor: NANANG