64 Tahun Setelah “Labolong” Membombardir Donggala

oleh -
Tiang-tiang pancang dermaga Pelabuhan Tanjung Batu yang tersisa akibat dibom Permesta. Tiang-tiang tersebut baru lenyap saat gempa bumi dan tsunami tahun 2018 lalu. (FOTO: media.alkhairaat.id/Jamrin AB)

Peristiwa pegeboman hari ketiga oleh pasukan AUREV (Angkatan Udara Revolusioner) Permesta dengan pesawat Mustang Bomber B-26 tahun 1958 itu, mengakibatkan empat kapal tenggelam. Kelak, nama-namanya diabadikan menjadi nama jalan di seputar kawasan Kota Tua Donggala dekat pelabuhan, masing-masing Mutiara, Nuburi, Moro dan Giliraja.

Semula, kapal-kapal tersebut masuk ke pelabuhan untuk menurunkan dua batalyon pasukan BN. 501 dan BN. 516 dari Kodam Brawijaya, di bawah pimpinan Mayor Soemadi, Mayor Sampoerno bersama Kepala Staf Resimen Pertempuran (RTP) Mayor Mardanus.

Gempuran pesawat Permesta membuat sejumlah kendaraan berat berupa jip, truk, tank, senjata dan perbekalan tenggelam bersama kapal. Pengeboman ini merupakan yang terbesar yang dilakukan Permesta di Kawasan Timur Indonesia.

Diketahui, pilot pengebom itu sendiri bernama Allan Lawrence Pope, veteran perang Dunia II dari Amerika yang disewa Permesta. Di kemudian hari, Allan Pope bersama pesawatnya ditembak jatuh di Morotai oleh pasukan Indonesia. Seyogyanya ia dihukum mati. Namun melalui diplomasi, akhirnya ia dibebaskan, ditukar dengan sejumlah pesawat Hercules dari Amerika.

Salah satu gudang kopra Belanda di Donggala yang dibom Permesta, kemudian direhab. (FOTO: media.alkhairaat.id/Jamrin AB)

Pada hari itu hanya dua kali bom dijatuhkan, Giliraja langsung meledak dan terbakar. Bahkan badan kapal patah dua, sejumlah ABK tewas dalam tragedi itu. Hanya beberapa orang yang selamat karena cepat melompat saat mendengar deru pesawat datang.

“Bapak saya (Husen Lamongke) bersama tiga orang rekannya waktu itu sedang berada di atas kapal, serempak lompat begitu mendengar suara pesawat. Hanya beberapa detik setelah lompat, bom betul-betul dijatuhkan. Bapak saya selamat dengan berenang menuju Tanjung Karang,” cerita Ismail Husen.

Husen Lamongke bersama rekannya ke Giliraja waktu itu sedang membawa tongkang sekaligus melihat muatan kapal untuk persiapan pembongkaran. Giliraja merupakan kapal perusahan nasional yang berkapasitas 2000-an ton.

Lambatnya pembongkaran muatan kapal waktu itu, kata Abdul Djalil (salah satu mandor pelabuhan waktu itu) karena masih persiapan sambil menunggu orang yang ahli menggunakan alat deret berat. Waktu itu kapal tidak bisa merapat di dermaga karena dangkal, sehingga tempatnya agak di luar. 

Hingga kini puing-puing empat kapal kargo yang karam di kawasan Pelabuhan Donggala tetap terpendam jadi sarang ikan. Pengelola Prince John Resort di Tanjung Karang, menjadikan kapal karam salah satu obyek wisata favorit bawah laut, terutama bangkai kapal Mutiara tak jauh dari Tanjung Karang pada kedalaman 50 meter.

“Kapal itu berada dalam posisi miring dengan palka menghadap ke laut lepas. Di sana terdapat rongsokan besi berserakan dan bangkai truk utuh. Ada beberapa ban truk dengan diameter kurang lebih satu meter, ada pula jangkar besar,” ungkap Cipto dalam tulisannya di Majalah MATRA tahun 1996.

Penulis: Jamrin AB
Editor : Rifay