Sang Penerang di Tanah Kaili

oleh

OLEH: Randi*

Masyarakat Kota Palu tidak mampu menjelaskan kebaikan Habib Idrus bin Salim Al-jufri. Beliau ialah sosok yang dijadikan panutan dalam berdakwah di Kota Palu sebagaimana Beliau memiliki rasa kasih sayang yang sangat besar terhadap umat yang ada di Tanah Kaili ini,” ujar Habib Idrus Al-Hadar, salah satu cicit dari Habib Idrus bin Salim Al-Jufri.

Al-Habib Idrus bin Salim Al-Jufri atau lebih dikenal dengan atau Guru Tua lahir di Kota Taris, 4 kilometer dari Ibu Kota Kecamatan Sai’un, Hadramaut, Yaman pada tanggal 14 Sya’ban 1309 H atau 15 Maret 1892 M.

Ayahnya bernama Sayyid Salim Al-Jufri, Beliau menjabat sebagai Qhadidan Mufti di Teris Hadramaut. Sedangkan kakeknya adalah Sayyid Alwi Ibn Saqqaf Al-Jufri adalah imam besar di Hadramaut.

Sayyid Idrus merupakan tokoh pejuang di Provinsi Sulawesi Tengah dalam bidang pendidikan agama Islam. Sepanjang hidupnya, ulama yang akrab disapa Guru Tua ini dikenal sebagai sosok yang cinta ilmu.Tak hanya untuk diri sendiri, ilmu itu juga ia tularkan kepada orang lain. Salah satu wujud cintanya pada ilmu adalah didirikannya lembaga pendidikan Islam Alkhairaat sebagai sumbangsih nyatanya kepada agama Islam.

Alkhairaat dirikan di Palu, Sulawesi Tengah, kala usia Guru Tua menginjak 41 tahun.

KEADAAN TANAH KAILI

Sebelum kedatangan Sayyid Idrus ke Palu, masyarakat Sulawesi Tengah telah memiliki beberapa kepercayaan tradisional yang mereka warisi dari nenek moyangnya, di antaranya ialah tradisi mengadakan perayaan setiap panen padi.

Selain itu, pada masa pemerintahan Hindia Belanda, telah berdiri tiga organisasi penginjil di Sulawesi Tengah. Ketiga organisasi tersebut berusaha mengkristenkan suku-suku terasing di Sulawesi Tengah.

Dalam praktiknya, ketiga organisasi penginjil itu tidak terbatas mengajak suku terasing saja melainkan juga mereka yang telah memeluk agama Islam.

Pada akhir Tahun 1929, Sayyid Idrus berlayar menuju Manado. Kapalnya singgah di Pelabuhan Donggala. Kesempatan ini dimanfaatkan untuk turun ke darat dan langsung ke Palu.

Di Palu, Sayyid Idrus mengadakan musyawarah dengan jemaah Arab yang dipimpin oleh Syaikh Nasir bin Khamis Al-Amar, tentang kemungkinan pembukaan madrasah di Palu.

Dari musyawarah itu maka disepakatilah pembangunan madrasah di Kota Palu, dengan syarat, sarana pendidikan berupa gedung disiapkan oleh jamaah Arab. Sedangkan gaji guru, Sayyid Idrus yang mengusahakannya.

Pada Tahun 1930 Habib Idrus pun pindah ke Kota Palu yang kala itu bernama “Celebes”. Kehadiran Habib Idrus di Kota Palu merupakan wujud dari keinginan masyarakat setempat yang ingin mengenal Islam lebih baik.

Di Palu, kala itu, Habib Idrus menggunakan ruangan Toko Haji Quraisy di Kampung Ujuna sebagai ruangan belajar mengajar dan kemudian pindah ke rumah Almarhum Haji Daeng Maroca di Kampung Baru (Depan Masjid Jami).

Rupanya, di Palu inilah memberikan inspirasi yang kuat untuk tinggal dan menetap dalam rangka melakukan dakwahnya setelah menyaksikan keadaan masyarakat yang masih sangat terbelakang dalam pemahaman ajaran Islam.

Salah satu strategi yang digunakan agar cepat diterima masyarakat Palu, Sayid Idrus menerima saran dari beberapa tokoh masyarakat, Habib Idrus pun memutuskan untuk menikahi salah seorang bangsawan Puteri Kaili yang juga merupakan sosok perempuan yang sangat berperan dalam pengembangan Yayasan Alkhairaat Pusat.

Dengan ketetapan hati dan petunjuk dari Allah SWT, pada tahun 1931 M Habib Idrus pun menikahi Ince Ami Dg. Sute. Dari perkawinan ini beliau dikaruniai dua orang puteri, Syarifah Sidah Aljufri dan Syarifah Sa’diyah Aljufri.

Habib Idrus kemudian menikahkan kedua puterinya dengan dua orang murid kesayangannya yaitu, Habib Ali bin Husein Alhabsyi dinikahkan dengan Syarifah Sidah binti IdrusAljufri dan Habib Idrus bin Husein Alhabsyi dinikahkan dengan Syarifah Sa’diyah binti Idrus Aljufri.

PEMBANGUNAN MADRASAH

Pada tahun 1930 M itu, pembicaraan mengenai pembukaan madrasah pun lebih dimatangkan lagi. Izin pendirian dan pembukaan madrasah pada pemerintah Hindia Belanda diurus hingga tuntas. Maka pada malam hari tanggal 30 Juni 1930, Madrasah Al Khairat diresmikan berdirinya di Tanah Kaili, Kota Palu.

Seluruh pembiayaan pengelolaan madrasah, baik menyangkut administrasi dan keuangan ditangani oleh Sayyid Idrus sendiri. Murid-murid yang belajar tidak dipungut biaya sepersenpun. 

Untuk pembiayaan hidup rumah tangga Sayyid Idrus dan gaji guru-guru diusahakannya dengan jalan berdagang. Beliau sangat rajin mengajar siswa-siswanya dengan penuh dedikasi dan keikhlasan yang hanya mengharapkan ridho Allah semata.

Keseriusan Sayyid Idrus mendapat sambutan dari siswa siswanya. Mereka disiplin mengikuti seluruh program dan kegiatan belajar baik formal maupun non formal. 

MUNCULNYA HAMBATAN

Proses belajar di di Madrasah Al Khairat diselimuti dengan berbagai macam masalah, di antaranya pada tahun 1933  M, Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan surat keputusan yang isinya merupakan kewajiban kepada siswa-siswa Al-Khairat untuk membayar pajak kepada pemerintah colonial.

Akan tetapi siswa-siswa yang berjumlah ratusan melakukan demonstrasi di depan kantor pajak untuk menuntut pembatalan surat keputusan tersebut sehingga pemerintah kolonial pun mengabulkan tuntutan para siswa.

Kemudian,  setelah Jepang menduduki Manado, tak berselang lama kembali menduduki Palu dan memerintahkan penutupan Perguruan Al Khairat. Sehingga selama tiga setengah tahun Perguruan Al-Khairat pun ditutup. 

Selama masa pendudukan Jepang, Sayyid Idrus tidak hanya berpangku tangan dan menyerah begitu saja. Dengan keberaniannya, Sayyid Idrus mengambil resiko yang sangat berbahaya pada zaman Jepang, yaitu tetap mengajar sembunyi-sembunyi di waktu malam di rumahnya yang berlokasi di Boyaoge, jaraknya 1500 meter dari lokasi Madrasah Al Khairat yang ditutup oleh Jepang.

Sungguh Sayyid Idrus sangat berani mengambil resiko tersebut yang padanannya apabila diketahui oleh Jepang adalah nyawa taruhannya.

Pengajarannya dilaksanakan pada malam hari dengan memakai penerangan pelita. Siswanya dating secara sembunyi-sembunyi satu demi satu. Kegiatan belajar mengajar ini berlangsung selama masa pendudukan Jepang yaitu tiga setengah tahun lamanya.

SAYYID IDRUS WAFAT

Sayyid Idrus mengidap penyakit maag yang telah lama dideritanya. Namun penyakitnya tersebut bukanlah menjadi penghalang dalam berdakwah menyampaikan ilmu-ilmu Islam ke penjuru negeri.

Sayyid Idrus menderita sakit yang cukup parah. Penyakitnya tersebut selalu kambuh sehingga mengharuskan beliau bolak balik ke Jakarta untuk berobat.

Puncaknya beberapa hari sesudah Idul Fitri, Sayyid Idrus kembali jatuh sakit. Sakitnya dari hari ke hari bertambah berat. Maka pada hari Senin tanggal 12 Syawal, bertepatan dengan tanggal 22 Desember 1969 pada jam 02.40 Wita, Sayyid Idrus berpulang ke rahmatullah dengan tenang memenuhi panggilan Tuhannya di atas pangkuan Abdul Wahab Muhaimin.

Sayyid Idrus pada detik-detik terakhirnya akan meninggal dunia berwasiat agar dikuburkan di samping kubur istrinya Syarifah Aminah, istri yang telah mendahuluinya, yaitu di sebelah barat Masjid Al-Khairat.

Selain itu, Sayyid Idrus berwasiat dan menentukan orang yang bertugas mengurusi jenazahnya, sehingga tidak terjadi keributan.

Dahsyatnya bencana menciptakan kesedihan
Maka hati-hati kami di dalamnya penuh kesedihan
terpencar dari mata air mata
maka seakan-akan warnanya itu keemas-emasan
Duka yang besar atas kematian ‘Idrus ‘Alwy
Lautan ilmu bersinar dengannya ilmu pengetahuan

“Penggalan syair ritsa’ dari Ustadz al-‘Allamahsyeikh ‘Umar ibn Ahmad Baraja’ yang menggambarkan kesedihan terdalam bagi siapapun yang ditinggalkan”

*Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah, Institut Agama Islam Negeri Palu.

Donasi Bencana Sulbar