Lukman Thahir Sebut Pembunuh di Sigi Cari Perhatian Asing

oleh
Lukman S Thahir

PALU- Akademisi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Provinsi Sulawesi Tengah, Dr Lukman S Thahir, berpandangan  aksi pembunuhan empat warga Sigi yang dilakukan oleh DPO Poso MIT itu  sesungguhnya bentuk pola perubahan gerakan.

“Pola perubahan gerakan tersebut dilakukan, sebab selama ini tindakan penyerangan mereka terhadap masyarakat muslim, tidak mendapat dukungan dari masyarakat Poso,” kata Lukman, di Palu, Ahad (29/11).

Olehnya kata Lukman, mereka ingin merubah pola gerakan yang bisa melahirkan respon yang kuat di mata dunia Internasional.

“Yaitu dengan melakukan penyerangan terhadap kaum Nasrani,” kata Dekan Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN.

Perubahan perilaku gerakan ini dilakukan, nilai Lukman, selain tidak mendapat dukungan dari masyarakat Poso, mereka juga sudah kehilangan kekuatan, amunisi dan logistik.

Sehingga pengamat terorisme ini, berpendapat, dengan adanya serangan itu mereka ingin menarik perhatian dunia, terutama pendonor asing.

“Itu inti dari serangan mereka,” katanya.

Lukman menambahkan, gerakan mereka ini sebenarnya mengincar dua daerah, yakni kabupaten Parigi Moutong dan Sigi.

” Jadi pemerintah daerah dan kepolisian harus benar-benar memperhatikan kedua daerah ini,” sebutnya.

Lukman menambahkan, jalur atau peta migrasi kedua daerah tersebut telah mereka buat. Hal ini terbukti dengan kejadian di Sigi.

“Tetapi yang mereka sasar kaum non-muslim sebab eksistensi mereka sudah semakin lemah,” ujarnya.

Untuk itu apa yang perlu dilakukan saat ini, supaya ada rasa keadilan , sebab adanya umat non muslim yang dibantai.

Lukman, mengatakan pemerintah daerah harus benar-benar meyakinkan kepada masyarakat, bahwa siapapun di bangsa ini yang melakukan cara-cara kekerasan, pemerintah harus hadir, supaya umat Kristiani tidak terpancing emosinya.

“Sebab inti dari serangan mereka ini, agar ada perlawanan dari non muslim.

“Mereka menginginkan, Kabupaten Sigi danKabupaten Parimo, terjadi konflik SARA seperti di kabupaten Poso,” bebernya.

Makannya kata Lukman gerakan mereka ke emosi keagamaan dan itu yang menjadi sasaran umat kristiani.

Untuk itu Lukman, meminta masyarakat non muslim harus paham, sebab bukan hanya umat Kristen yang mereka bantai sudah banyak juga umat Islam yang mereka bunuh.

“Hanya saja umat Islam di Kabupaten Poso, tidak lagi terpengaruh dan terpancing isu-isu seperti itu,” jelasnya.

Selain itu, tidak ada lagi anak-anak Poso terpancing mengikuti mereka, dari sekitar 14 orang yang ada.

“Kalaupun ada satu atau dua orang, tidak bertahan lama dan mereka mundur, itu yang terjadi di Poso,” ungkapnya.

Ditanyakan apakah ada kaitannya dengan akhir tahun dan Pilkada. Lukman menambahkan, peristiwa pembunuhan itu tidak ada kaitannya dengan Pilkada. Mungkin ada kaitannya dengan akhir tahun, sebab umat Kristiani akan merayakan Natal.

“Jadi ingin memancing emosi keagamaan dari non muslim,” kata Pendamping Ex Nara pidana terorisme (Napiter) ini.

Lukman mengimbau, masyarakat non muslim, tidak usah terpancing dengan gerakan tersebut, tapi berharap pemerintah harus hadir, sebab ada nyawa manusia yang menjadi korban.

“Negara harus hadir, kalau tidak sulit dibendung emosi keagamaan, pemerintah harus menyikapi dengan cepat dan tegas,” tekannya.

Olehnya kata Lukman, penanganan radikalisme agama dan pembinaan masyarakat dalam konteks menangkal radikalisme, di Kabupaten Sigi dan Kabupaten Parimo harus benar-benar disosialisasikan.

” Harus betul-betul pembinaan, mental masyarakat di dalam konteks pemahaman keagamaan yang moderat, disosialisasikan sebanyak mungkin,” pungkasnya.

Reporter: Ikram

Donasi Bencana Sulbar