Ini Pandangan Ketua MUI Palu Soal Program Sertifikasi Da’i

oleh
Ketua MUI Kota Palu, Prof. Dr. Zainal Abidin

PALU – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, Prof Dr Zainal Abidin, menganggap bahwa program Menteri Agama (Menag) untuk melakukan sertifikasi da’i, bukanlah sebagai bentuk kewajiban bagi seluruh da’i agar memiliki sertifikat, sebagaimana anggapan sejumlah pihak.

Menurutnya, jika dilihat, program tersebut ditujukan kepada da’i-da’i muda melalui pelatihan terlebih dahulu.

“Jadi bukan kewajiban, apalagi kepada da’i-da’i yang tua bahwa kalau tidak bersertifikasi tidak bisa berdakwah,” katanya, Rabu (16/09).

Menurutnya, tujuan Menag tersebut harus dipahami lebih jernih dan tenang. Kata dia, program tersebut ada kaitannya dengan pelibatan lembaga lain untuk membuat semacam kegiatan pelatihan para da’i muda atau pemula.

“Mereka akan diberikan pemahaman. Selain pemahaman yang sudah mereka miliki (ilmu di bidang agama Islam), tentu diberikan lagi pemahaman tentang Pancasila dan UUD 1945, ya empat pilar kebangsaan itu,” terangnya.

Makanya, kata dia, Kemenag bekerja sama dengan BNPT, Lemhanas, BPIP dan lainnya. Lembaga-lembaga inilah yang menyampaikan materi itu sehingga menambah wawasan para da’i tentang apa itu radikalisme agama, apa itu wawasan kebangsaan, dan apa idiologi di dalam berbangsa dan bernegara.

Di samping itu, lanjut dia, juga diberikan keterampilan menjadi seorang da’i dalam menyampaikan pesan-pesan agama yang lebih sejuk atau lebih toleran.

“Cocok dengan apa yang ada di negeri kita yang plural, beragam, majemuk dalam berbagai hal, baik itu agama, suku bahasa, golongan. Sehingga dibutuhkan da’i-da’i yang memahami kondisi itu,” tambahnya.

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulteng itu menambahkan, jika dibandingkan dengan negara tetangga, program ini tentu berbeda.

“Di Singapura, da’i dan ulama bersertifikat. Di Malaysia, tidak mungkin seorang bisa menyampaikan khotbah Jumat dan ceramah agama kalau tidak ada sertifikat. Tentu kita tidak seperti itu. Yang ada saat ini adalah dalam rangka meningkatkan kualitas para da’i. Saya pun kalau setiap da’i harus bersertifikat, tentu tidak setuju,” tutupnya. (RIFAY)

Iklan-Paramitha