Ini Akar Nasionalisme Guru Tua untuk NKRI

oleh
Jalannya webinar "Memaknai Komitmen Kebangsaan Guru Tua" yang diinisiasi Media Alkhairat (MAL) Online, Sabtu (29/08). (FOTO: RIFAY)

PALU – Dekan Fakultas Syariah, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Dr. Gani Jumat, menyatakan, Habib Sayyid Idrus bin Salim Aljufri atau Guru Tua telah menjadi tokoh dunia dan peradaban ilmu pengetahuan, bukan milik kelompok tertentu lagi.

“Betul, Habib Sayid Idrus Bin Salim Aljufri pendiri Alkhairat, tapi sudah menjadi milik dunia. Untuk itu kita harus terbuka, silahkan orang meneliti Guru Tua, yang penting penelitian itu bisa dipertanggungjawabkan,” kata penulis buku, ” Nasionalisme Ulama, Habib Sayid Idrus Bin Salim Aljufri” saat menjadi narasumber dialog virtual “Memaknai Komitmen Kebangsaan Guru Tua” yang diinisiasi Media Alkhairat (MAL) Online, Sabtu (29/08).

Dia mengatakan, nasionalisme Habib Sayid Idrus bin Salim Aljufri sudah menjadi fakta dan sudah menjadi milik publik, milik negara atau bangsa, milik dunia serta peradaban ilmu pengetahuan.

“Oleh sebab itu, ketika orang meneliti Habib Sayid Idrus bin Salim Aljufri pada aspek apapun kita harus terbuka dan tidak merasa inferior,” katanya.

Ia menambahkan, berbicara akar sejarah nasionalisme Habib Idrus dapat dilihat dari beberapa aspek.

Pertama, kata dia, Guru Tua lahir di Hadramaut pada waktu itu dijajah Inggris, sehingga ia tumbuh dengan pertarungan dan perlawanan dengan penjajah.

Sejarah mencatat, Habib Sayid Idrus Bin Salim Aljufri bersama saudaranya Habib Abdul Rahman Ubaidillah pernah melakukan perlawanan tertutup dan perlawanan terbuka atas cengkraman Inggris dan membawa dokumen ke Liga Arab

Sehingga kata dia, ketika Habib Idrus menjadi Muhajirin masuk ke Indonesia.

“Dalam catatan sejarah, Habib Idrus dua kali masuk Indonesia, Tahun 1911 dan 1922,” ungkapnya.

Ketika Habib Idrus berada di Pulau Jawa, ia berdiaspora, menyaksikan bagaimana pergolakan perjuangan kaum pergerakan kala itu, sampai bertemu dengan Haji Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU).

Lalu, kata dia, di akhir Tahun 1929, Habib Idrus masuk ke Sulawesi Tengah dan Tahun 1930 mendirikan madrasah Alkhairaat.

Menurut penuturan murid-muridnya, mengapa Guru Tua tidak melakukan perlawanan dengan senjata, karena menghadapi bangsa penjajah dan menyaksikan bangsa yang terjajah dalam kondisi tidak berdaya, maka tidak ada cara lain kecuali dengan mendirikan sekolah.

“Karena dengan itu, maka dapat menumbuhkan jiwa patriotisme. Masyarakat harus diisi otaknya untuk keluar dari penjajahan itu. Maka fakta sejarah di Alkhairaat dulu diajarkan buku; Idhatun Nasyi’in karya seorang wartawan Syekh Mustafa Al-Ghalayain, yang inti dalam kitab itu untuk membangkitkan semangat patriotisme dan nasionalisme,” tutur Gani.

Ia menambahkan, akar nasionalisme kedua dari Guru Tua adalah aspek geneologi. Ibunya adalah Syarifah Nur Aljufri, seorang keturunan dari ibu yang berasal dari Sengkang Wajo, yang mempunyai hubungan kekeluargaan dengan Aru Matoa atau Raja yg dituakan di Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.

“Jadi nasionalisme Guru Tua kepada Indonesia murni tidak bercampur dengan apapun. Oleh karena gen ibunya bercampur dengan Sulawesi, maka Guru Tua memiliki semangat nasionalisme murni dengan bangsa ini,” katanya.

Aspek ketiga adalah, ketika membaca di syair-syairnya (Guru Tua), di sana akan ditemukan nasionalismenya dengan Indonesia. Salah satunya syair tentang bendera Merah Putih, pasca Proklamasi Kemerdekaan RI.

Selain Gani Jumat, webinar kebangsaan juga dihadiri dua narasumber lainnya, yakni mantan Sekjen PB Alkhairaat, Dr Lukman S. Thahir dan Rektor Universitas Alkhairaat (Unisa), Dr Umar Alatas.

Pesertanya sendiri berasal dari berbagai daerah dan latar belakang, seperti dari NU, pengacara, dan mahasiswa. Mereka berasal dari Gorontalo, Sulawesi Utara, Maluku Utara dan Jawa serta Kota Palu dan beberapa daerah lainnya di Sulawesi Tengah.

Reporter : Ikram
Editor : Rifay

Iklan-Paramitha