PALU, MAL – Universitas Tadulako (Untad) memperkuat persiapan menuju Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH) dengan menitikberatkan pembenahan tata kelola, peningkatan akuntabilitas, penguatan riset, dan pengembangan inovasi.

Komitmen tersebut disampaikan Rektor Untad, Prof. Dr. Ir. Amar, S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng., dalam pidatonya pada Wisuda Untad ke-139 yang mengukuhkan 1.422 lulusan dari jenjang Diploma, Sarjana, Magister, hingga Doktor di Auditorium Untad, Kamis (22/10).

Menurut Amar, perubahan status menjadi PTNBH merupakan langkah strategis yang tidak hanya memberikan otonomi lebih luas kepada perguruan tinggi, tetapi juga menuntut tanggung jawab yang lebih besar dalam pengelolaan institusi dan peningkatan mutu pendidikan.

“PTNBH memberikan ruang otonomi lebih besar, tetapi juga membawa tuntutan akuntabilitas yang lebih tinggi dan kemampuan adaptasi terhadap kebutuhan masyarakat serta perkembangan global,” tegasnya.

Untuk mendukung proses transformasi tersebut, Untad telah menyiapkan sejumlah langkah penguatan kelembagaan. Upaya itu mencakup penyempurnaan regulasi internal, pengembangan sumber daya manusia, penguatan ekosistem riset, hilirisasi inovasi, serta digitalisasi layanan akademik dan nonakademik.

Rektor menegaskan, keberhasilan menuju PTNBH membutuhkan keterlibatan seluruh sivitas akademika. Transformasi tersebut harus dibangun melalui kerja kolektif agar mampu mendorong tata kelola perguruan tinggi yang lebih modern, transparan, dan berorientasi pada mutu.

Selain pembenahan kelembagaan, Amar menyoroti pentingnya perubahan paradigma pembelajaran di lingkungan pendidikan tinggi. Menurutnya, perguruan tinggi harus mampu membentuk lulusan yang tidak hanya menguasai pengetahuan, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, berinovasi, dan menciptakan pengetahuan baru.

Ia mengutip pemikiran Albert Einstein, “Education is not the learning of facts, but the training of the mind to think”, yang menekankan bahwa pendidikan bukan semata-mata proses menghafal fakta, melainkan pembentukan kemampuan berpikir.

“Transformasi ini adalah momentum untuk berpindah dari sekadar menghafal menuju bernalar, dari mengulang menjadi berinovasi, dan dari menerima informasi menjadi menciptakan pengetahuan,” ujarnya.

Sementara itu, Gubernur Sulawesi Tengah yang diwakili Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Pembangunan sekaligus Plt. Kepala Dinas Sosial Sulteng, Dr. Farid Rifai Yotolembah, S.Sos., M.Si., mengingatkan para lulusan bahwa wisuda bukanlah akhir perjalanan pendidikan, melainkan awal memasuki fase pengabdian dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Ia menilai, tantangan dunia kerja saat ini tidak cukup dijawab hanya dengan ijazah. Para lulusan juga dituntut memiliki kreativitas, fleksibilitas, kemampuan berkolaborasi, serta etika profesional.

“Wisuda adalah momentum memasuki fase kehidupan baru: fase pengabdian, karya, dan kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan daerah Sulawesi Tengah,” kata Farid.

Ia juga mengapresiasi perkembangan Untad dalam memperkuat penelitian, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menyiapkan sumber daya manusia yang unggul dan mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi.

“Kalian hidup di era percepatan teknologi dan transformasi digital. Dengan bekal ilmu dan karakter, kalian dapat menjadi generasi yang unggul dan adaptif,” ujarnya.

Prosesi Wisuda Untad ke-133 dipimpin Ketua Senat Untad, Prof. Dr. Djayani Nurdin, S.E., M.Si., dan berlangsung khidmat dengan dihadiri orang tua serta keluarga wisudawan.

Menutup pidatonya, Rektor Untad menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang berkontribusi dalam pelaksanaan Tri Dharma perguruan tinggi.

Ia turut mengajak pemerintah daerah, alumni, mitra industri, dan pemangku kepentingan lainnya untuk memperkuat kolaborasi dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi yang maju dan berkelanjutan. *