Wisata Sejarah di Menara Suar Belanda

oleh

BERWISATA ke kota tua Donggala memang memiliki banyak pilihan. Selama ini, yang paling dikenal adalah kawasan Pantai Tanjung Karang.

Padahal, dari sisi budaya, tempat yang satu ini tak kalah menariknya. Cuma saja memang tidak dikenal dan kurang popular. Selain tempatnya agar terpencil di atas sebuah bukit, tidak semua orang mengetahui arah jalan ke kawasan itu.

Ini khusus wisata spesifik, umumnya dilakukan kalangan mahasiswa dan peneliti sejarah.

Lagi pula, medan yang dilalui agak sempit dan dipenuhi semak yang rimbun.

Belum untuk memasuki kawasan menara suar tidak sembarang, mesti minta izin pada petugas atau menghubungi lebih dahulu sebelum berkunjung.

Keistimewaan kawasan menara suar, karena nilai historisnya. Berusia satu abad lebih dibangun sejak masa awal masuknya pemerintah Hindia Belanda.

Dulu, perairan Selat Makassar sejak lama dikategorikan sangat strategis, sehingga keberadaan pelabuhan didukung fasilitas navigasi.

Pada saat kekuasaan pemerintah Hindia Belanda makin kuat dengan penempatan pejabat resmi (Asisten Residen) di Donggala, maka seiring pula pembangunan menara suar bersama rumah jaga di bukit Tanjung Karang, kini masuk Kelurahan Boneoge 4 km dari arah barat pusat kota Donggala.

Pada tahun 1947 ditambah dengan fasilitas kantor pendukung dan sesuai perkembangannya tahun 1997 mendapat satu unit tambahan bangunan untuk petugas jaga. Boneoge merupakan kelurahan seluas 5,10 km² dengan jumlah penduduk 3.300 jiwa terbesar kedua dari 14 kelurahan/desa di Kecamatan Banawa.

Sesuai lokasinya, masyarakat Donggala saat ini lebih mengenal sebutan menara suar Boneoge, walau sebetulnya adalah menara suar Tanjung Karang (Teluk Palu) berdasarkan daftar penataan kelas distrik navigasi di Kementerian Perhubungan RI.

Penempatan menara suar di Boneoge sangat strategis posisinya terlihat terbuka dari arah barat Selat Makassar sebelum memasuki perairan Teluk Palu.

Menurut Kepala Intalasi Menara Suar Tanjung Karang, Abdul Rahman (54 tahun)

“Sebelum menara ini menggunakan tenaga disel untuk lampu penerang seperti sekarang, mula-mula menggunakan pencahayaan api yang bahan bakarnya terbuat dari karbit. Karbit merupakan persenyawaan zat arang dengan zat kapur yang mengandung gas,” kata Abdul Rahman (60) mantan kepala Instalasi Menara Suar pada media ini

Menurutnya, karbit tersebut ditempatkan di sebuah wadah di ujung menara yang kemudian dibakar untuk menghasilkan api yang menyala. Cahaya api itulah sebagai penanda sehingga zaman dahulu dikenal dengan sebutan menara api.

Penggunaan api berbahan karbit cukup lama berlangsung, selanjutnya untuk pembakaran api digunakan bahan bakar gas hingga beralih ke tenaga listrik (diesel).

Selain menara suar Tanjung Karang, bangunan serupa ditempatkan di Tuguan, pulau seluas 1,22 km² merupakan gugusan dari tiga pulau di Desa Panggalasiang, Kecamatan Sojol. Terletak di sebelah utara setelah Pulau Maputi dengan luas 18,06 km².

Sedangkan Pulau Panggalasiang (pusat permukiman desa) memiliki luas 14,06 km². Pulau Tuguan tidak memiliki sumber air tawar untuk mandi, cuci dan minum sehingga selama ratusan tahun penghuni pulau (petugas menara) hanya menampung air hujan atau mensuplai air tawar maupun bahan pangan dari Pulau Panggalasiang yang berdekatan dengan daratan Sulawesi.

Baru tahun 2014 pemerintah melalui Ditjen Perhubungan Laut menganggarkan pengadaan alat pengolah air minum di Tuguan bersamaan dengan lokasi menara suar dalam satuan kerja Distrik Navigasi Kelas I Bitung, yaitu Menara Suar Tanjung Kandi (Buol), Pulau Salando (Tolitoli), Pulau Buang-Buang (Banggai Kepulauan), Marampit (Kepulauan Talaud), Pulau Menterawu (Minahasa Utara) dan Pulau Pondang (Bolaang Mongondow Selatan).

Saat ini menara suar Tingoan memiliki peran penting sebagai penunjuk arah posisi setiap kapal yang berlayar pada malam hari di Selat Makasar baik dari arah utara maupun dari arah selatan, serta pelayaran dari Sulawesi Tengah menuju Kalimantan.

“Pada arah sebelah barat Tuguan terdapat perairan dangkal dan karang yang membahayakan pelayaran, sehingga kapal yang melewati pulau itu melalui arah timur Tuguan dan di situlah salah satu fungsi menara suar tersebut,” kata Abdul Rahman yang pernah bertugas di Tuguan tahun 1982-1983.

Abdul Rahman yang lahir di Boneoge ini orang tuanya (Johanis) juga pernah menjadi kepala instalasi menara pada dekade 1960-an hingga 1970-an. Sebelum di Boneoge, Abdul Rahman pernah pula bertugas di menara suar Salando (Tolitoli) tahun 1984-1985 kemudian di Bitung dan sejak 1986 bertugas di menara suar Tanjung Karang hingga menjabat kepala instalasi sampai pension.

Dari segi usia dan fungsi, kedua bangunan itu menjadi penanda pergulatan zaman dalam sejarah panjang pelayaran Nusantara, dapat dikategorikan cagar budaya bangsa.

Petugas menara suar yang pernah bertugas di Tanjung Karang dan Toguan silih-berganti, ada yang kemudian pindah tugas ke tempat lain ada pula yang kemudian pensiun hingga berasimiliasi di kampung tersebut.

Reporter : Jamrin AB
Editor : Rifay

Iklan-Paramitha