Teladan Abdi Negara itu Wafat

oleh -
Rahmat Kawaroe

Sekira pukul 14.00, Jum’at (14/4) kemarin, bilangan jalan Kartini tampak sesak dan dipadati oleh ratusan kendaraan roda dua dan empat, sehingga akses jalan tersebut ditutup oleh petugas.  Di dalam komplek perumahan transmigrasi, kerumunan warga yang berpakaian Islami semakin menyemut.

Mereka ini adalah ribuan pelayat almarhum Ir.H. Rahmat Kawaroe. Ya, Jumat kemarin memang tersiar kabar yang mengejutkan bagi warga Kota Palu. Kepala  Rahmat Kawaroe, PNS senior di Kota Palu, telah meninggal dunia. Sebab sebelumnya ia nampak sehat-sehat saja.

Berdasarkan Info yang diperoleh media ini bahwa almarhum terserang penyakit jantung pada kamis (13/4) Sore,  yang kemudian dirawat di ruang ICU Rumah Sakit RS Budi Agung Palu. Namun takdir tak dapat dielak, setelah semalam menginap tepatnya pada pukul 09.49 pagi kemarin, Rahmat mengembuskan nafas terakhirnya.

Diantara pelayat, nampak para pejabat teras Sulteng hadir pula diantaranya Gubernur Sulteng Longki Djanggola, Walikota Palu Hidayat, Wawali Palu Sigit Purnomo, Mantan Walikota Palu Rusdi Mastura bersama Istri, Dandim 1306 Donggala, Sekkot Palu juga para mantan Sekkot Palu, Ketua Umum PB Alkhairaat HS.Ali Muhammad Aljufri dan Ratusan Pejabat eselon 2 baik di pemkot maupun pemprov serta unsur Forkompimda. Bahkan nampak hadir pula sejumlah pimpinan perbankan dan BUMN.

Rahmat dikenal telah lama berbakti di pemerintahan. Ia sudah mengabdi selama 37 tahun. Jabatan terakhirnya sebagai kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Palu.

Almarhum Tutup Usia pada jabatan Pembina Utama Golongan 4C, dengan Riwayat Karir Birokrasi dimulai dari pemerintahan Provinsi Sulteng, dengan jabatan yakni Pimpro pada Departemen Pekerjaan Umum Provinsi Sulawesi Tengah  sejak tahun 1990  hingga 1997. Kemudian menjadi Pimpro Perbaikan Perumahan pada Dinas Perumahan Dan Pemukiman Provinsi Sulawesi Tengah tahun 1997 hingga 2001. Sejak tahun itulah almarhum bergabung pada ruang lingkup pemkot dengan jabatan pertamanya sebagai Kepala SUB Bagian pada Dinas Tata Kota Palu pada tahun 2001 hingga 2002.

Karirnya pun terus melonjak hingga pada tahun 2002, almarhum diangkat sebagai kepala Badan Perencanaan Daerah Kota Palu (Bappeda) tahun 2002 hingga 2006. Selanjutnya menjadi kepala Dinas Tata Kota Palu tahu 2006 hingga 2009, dan di tahun itu pula dirinya diangkat sebagai Kepala Dinas Penataan Ruang dan Pemukiman Kota Palu , kemudian almarhum sempat pula menjadi Staf Ahli Bidang Pembangunan Sekretariat Daerah Kota Palu selama setahu 2009 hingga 2010, dan diangkat lagi menjadi kepala badan penanggulangan Bencana Daerah (BPD) Kota Palu tahun 2010 hingga 2014 kemudian menjadi kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Palu pada Tahun 2014 hingga 2016 dan pada tahun itu pula diri menjabat lagi sebagai kepala Dinas Penataan Ruang dan Pemukiman Kota Palu, dan terakhir dilantik lagi pada bulan Januari 2017 lalu, menjadi Kepala Dinas Penanaman Modal Dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Palu hingga kini.

Gubernur Sulawesi Tengah H Longky Djanggola yang dimintai tanggapan soal sosok almarhum menuturkan, bahwa dirinya telah lama mengenal sepak terjang almarhum yang baik dan disiplin.  “Saya kenal beliau sejak baru diangkat pegawai. Saya tahu betul dia adalah seorang birokrat tulen  dan beliau adalah sosok yang penuh kesederhanaan dan apa adanya. Dia tidak pernah menonjolkan diri. Yang paling berkesan jika mengingat dia adalah ibadahnya yang sangat luar biasa,” ungkap Gubernur

Kata Longky perilaku almarhum harus menjadi contoh bagi para birokrat yang lain untuk harus diteladani.

“Kalau mengenang karakter almarhum ini yang membekas menurut saya adalah almarhum merupakan orang yang tidak menyembunyikansesuatu jika ada yang janggal, atau tidak sependapat maka dirinya akan mengatakan hal yang tidak tersebut. Dia akan sampaikan walaupun itu sakit bagi orang lain. Itulah kelebihannya,” ujar Longky.

Suasana Pelepasan Jenazah

Walikota Palu Hidayat dalam acara pelepasan menuturkan bahwa kepergian Birokrat Tulen itu meninggalkan duka yang sangat mendalam bagi keluarga dan bagi pihak pemerintah kota Palu. Bahkan seluruh masyarakat Kota Palu merasakan kehilangan.

“Kalau kesan terakhir yang nampak di mata saya, yaitu pada saat kami rapat dua hari lalu di mana kebetulan almarhum terlambat datang. Maka dirinya duduk paling belakang, dalam suasana rapat itu tak ada satu katapun yang keluar dari mulut almarhum hingga selesai rapat,” tutur Hidayat.

Kata Hidayat bahwa pada hari itu almarhum nampak kurang bersemangat dan Hidayat mengaku hampir menegurnya, namun hingga rapat usai Hidayat mengaku tak sempat berjabat tangan dengan almarhum.

“Almarhum adalah seorang PNS yang memiliki dedikasi tinggi. Dia jujur dan pekerja keras. Salah satu bukti yaitu sekalipun sakit namun tetap hadir juga semua agenda kegiatan. Hampir setiap hari kami rapat bersama namun almarhum tidak pernah mengeluh apa yang dideritanya,” ujarnya.

Sementara Ketua Umum PB Alkhairaat HS Ali Aljufri dalam Tausiahnya, mengutarakan bahwa manusia hidup di dunia ibarat barang yang ada di supermarket, yang juga memiliki tanggal kadaluwarsa. Mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, setiap yang bernafas pasti akan merasakan kematian.

“Hal ini bukan untuk kita takuti tetapi untuk kita mempersiapkan diri karena waktunya tidak diketahui kapan ajal itu akan tiba. Sehingga kita boleh beramal apa saja dan menjadikan amal itu sebagai ibadah,” tuturnya.

Habib Ali menambahkan pekerjaan yang kita lakukan harusnya didasari oleh ibadah dan diharapkan akan mendapat keberkahan dan penilaian dari Allah swt, dan tidak perlu mendapat penilaian dari  pimpinan di mana tempat kita bekerja. Karena secara pandangan dunia, kita nampak menyetujui kontrak kerja yang kita tanda tangani di mana pun kita ditempatkan dan sebatas itu, namun Allah melihat apa yang ada dalam hati kita.

“Allah tidak melihat bentuk dan rupa tapi melihat hati kita. Olehnya perbaikilah hubungan kita dengannya, sehingga pasti hubungan antar sesama akan baik pula. Saya melihat Almarhum ini adalah orang baik, yang hadir pada saat ini membuktikan kebaikan almarhum, dan jika ada sebanyak 40 orang yang hadir menyatakan dalam hatinya bahwa almarhum ini adalah orang yang baik maka Allah SWT akan memasukannya kedalam surga,” pungkasnya.

Sementara Mantan Walikota Palu H Rusdi Mastura mengatakan, Rahmat adalah penduduk surga.  “Almarhum adalah isi surga, memang Tuhan yang menentukan. Tapi saya melihat almarhum ini memiliki semuanya, baik sama orang, sembahyangnya bagus, rendah hati. Itu semua dia punyai begitu pula dalam hal pekerjaannya semua dilaksanakan secara baik,” kata Cudi.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Palu H Ansar sutiadi menuturkan bahwa almarhum adalah salah satu putra terbaik yang dimiliki Kota Palu. Dia adalah figur.

Menurutnya, Rahmat adalah sosok yang religius juga nasionalis. “Semoga husnul Khotima,” pinta Ansyar.

Mantan Sekretaris Kota Palu H Arifin H Lolo, menuturkan sosok almarhum adalah panutan bagi seluruh aparatur sipil negara, khususnya di ruang lingkup Pemkot. Menurutnya, selama dirirnya menjadi Sekkot, kurang Lebih hampir tujuh tahun, almarhum tidak pernah sekalipun mendapat teguran di bidang karir.

Terlebih lagi almarhum memiliki ketekunan dalam bidang agama, bahkan almarhum pernah duduk i’tikaf di salah satu sudut mesjid selama berapa bulan lamanya.

“Jadi almarhum ini baik lahirnya maupun bathinnya luar biasa. Makanya kalau dilihat memang ribuan orang yang hadir melayat ini adalah hal yang wajar karena beliau adalah sosok panutan,” paparnya.

Sebelum berpulang, ia berpesan bahwa jika dirinya mendapat panggilan dari Allah SWT agar dirinya tidak ingin dilepas secara kedinasan, dan menginginkan pelepasan itu secara tunggal saja sebagai mana layaknya orang biasa. Dia juga meminta agar mayatnya tidak diabadikan dalam kamera.

Rahmat Kawaroe meninggalkan empat orang anak dan seorang Istri bernama HJ.Bela Rolia. Ia dishalatkan di Masjid Raya Baiturahim Lolu,  dan dikebumikan pukul 15.00, di Pekuburuan Umum Talise. [HAMID]

Tentang Penulis: Fauzi Lamboka

Gambar Gravatar
Profesi sebagai jurnalis harus siap mewakafkan diri untuk kepentingan publik. Menulis merupakan kebiasaan yang terus diasah. Namun, menulis bukan sekadar memindahkan ucapan lisan ke bentuk tulisan. Tetapi lebih dari itu, mengabungkan logika (akal), hati (perasaan) untuk medapatkan rasa, yang bisa diingat kembali di hari esok.