Sosialisasi Empat Pilar, Muhammad J. Wartabone Tekankan Nilai-Nilai Perekat Menjaga NKRI

oleh -
Muhammad J. Wartabone saat sosialisasi 4 Pilar di Kabupaten Sigi, Sabtu (4/05) (FOTO : media.alkhairaat.id/Yamin)

SIGI –  Anggota DPD RI, Muhammad J. Wartabone melaksanakan sosialisasi empat pilar kepada generasi merah putih, di Kabupaten Sigi, Sabtu (4/05).

Secara umum pria yang akrab disapa Buya itu, menyampaikan bahwa sosialisasi empat pilar ditujukan untuk menjadi pengingat bagi masyarakat, terkait keputusan para pendiri bangsa. khususnya para pendiri bangsa dari wilayah timur Indonesia. 

Dikesempatan itu, Buya menjelaskan, isi empat pilar itu adalah menghargai para stakaeholder pendiri bangsa ini, para pejuang bangsa ini dan kemudian membangun nilai-nilai perekat untuk menjaga NKRI.

Ditemui di tengah-tengah kegiatan, Buya mengatakan, Generasi merah putih dalam waktu dekat akan melaksanakan deklarasi pembentukan perempuan patriotik Indonesia.

“Tujuannya, bukan semata-mata hanya ingin menghidupkan kembali atau memperkenalkan kembali  tokoh-tokoh patriotik perempuan di masa lalu. Seperti Raden Ajeng Kartini, tetapi di tanah Kaili ini ada juga perempuan patriotik indonesia. Yaitu raja tatanga, yang ditangkap oleh belanda dalam keadaan hamil, lalu dibuang ke sukabumi dan sampai hari ini tidak ketahuan. Inilah yang kita mau angkat untuk menjadi spirit kita,” katanya.

Kata Buya, Barisan Generasi Merah putih bagian untuk mendeklarasikan Perempuan Patriotik. Karena,  salah satunya adalah Indonesia merdeka sebelum dideklarasikan oleh Presiden pertama, Soekarno. Di bagian Timur Indonesia sudah terlebih dahulu pendiri bangsa.

“Bendera merah putih ini dari Timur Indonesia, yaitu H. Nani Wartabone Tanggal 23 Januari 1942. Nah, H. Nani Wartabone ini dia tidak terlibat sendiri, dia punya hubungan erat dengan raja Tanjung Bulu Tojo, Raja Kaliolangi di Sojol, Raja Karaja lemba di Sigi, Raja Datu Pamusu di Palu, Yotodau Pawindu, Gagaramusi. Yang jelas Indonesia bendera merah putih itu sebelum Soekarno di Jakarta. Tahun 1942 sudah berdiri di Gorontalo dan kemudian sudah berdiri di lembah kaili ini tepatnya di Kaleke,” terang Buya.  

Peristiwa bersejarah itulah kata Buya yang menjadi spirit, sehingga ingin dimunculkan. Agar bisa membawa efek positif besar terhadap generasi di masa akan datang.

YAMIN