Sikapi Perbedaan, Ketua MUI Ajak Ummat Kedepankan Akhlak

oleh -

PALU — Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, Prof Dr Zainal Abidin mengajak kepada ummat untuk mengedepankan akhlak dalam menyikapi setiap perbedaan, utamanya di tahun politik menjelang Pileg dan Pilpres.

Hal itu berkaitan dengan maraknya orang-orang yang saling menjatuhkan, bahkan mengafirkan satu sama lain.

“Kalau kita kembali kepada ajaran Nabi, tentu itu (saling mengafirkan) tidak akan kita temukan,” ujarnya, Jumat (07/12).

Nabi Muhammad SAW, kata dia, tidak pernah memaki atau menghina orang yang tidak sependapat dengan dia, karena justru dia diutus untuk memperbaiki akhlak.

“Ini juga karena kita tidak berjiwa besar dengan perbedaan. Padahal Nabi sendiri mengajarkan kita untuk jangan bertikai,” tambahnya.

Guru besar IAIN Palu itu mencontohkan sikap bijak yang ditunjukkan Ketua Asosiasi Muslim Belanda dalam menyikapi penghinaan yang ditujukan kepada Rasulullah SAW. Di mana dia justru tidak marah ketika itu. Dia malah menyatakan “Jika ada orang buta yang menyatakan bahwa matahari itu gelap, apakah saya harus marah”?

“Artinya, untuk apa kita marah kepada orang yang menghina Rasulullah, sementara dia tidak tahu bagaimana sesungguhnya akhlak Rasulullah sebenarnya. Jadi disinilah pentingnya akhlak dalam menyikapi hal-hal seperti itu,” jelasnya.

Dia juga menyinggung maraknya politik identitas yang berkembang saat ini. Menurutnya, di negara yang sangat demokrasi ini, justru tidak diperlukan lagi politik identitas itu, karena semua aspirasi bisa tersalurkan dengan baik.

“Tentu diharapkan, era terbuka ini harus dilakonkan oleh orang-orang yang memiliki maksud dan tujuan sebagaimana tujuan berbangsa dan bernegara, yaitu untuk mensejahterakan seluruh masyarakat. Politik identitas boleh jadi ada, tapi diharap semakin dewasa memahaminya. Artinya, kita jangan memaksakan kehendak kalau orang banyak tidak sepakat,” tutupnya.

Sementara Sekretaris DPW PAN Sulteng, Rusli Dg Palabbi juga mengaku tidak sepakat jika ada yang saling kafir mengafirkan, bahkan dengan sesama muslim.

“Mungkin juga karena Al Quran dan Hadits yang kadang dipahami sepotong-sepotong,” imbuhnya. (RIFAY)