Sidang Curanmor Bisu Menarik Perhatian Pengunjug

oleh -
Slamet Putra dan Moh. Nur Taufik terdakwa kasus pencurian motor saat di periksa di PN Palu, Rabu, (12/9). (FOTO: MAL/IKRAM)

PALU- Sidang kasus pencurian sepeda motor dengan terdakwa Slamet Putra dan Moh. Nur Taufik mengundang perhatian pengunjung sidang di Pengadilan Negeri (PN) Palu, Rabu, (12/9). Pasalnya terdakwa Slamet Putra merupakan tunawicara (bisu), hingga membutuhkan seorang penerjemah Iwan kakak dari terdakwa sendiri.

Sebagian pengunjung terlihat menyaksikan persidangan dari luar balik jendela ruang pengadilan, serta berdesakan depan pintu ruang pengadilan sekadar ingin melihat dari dekat jalannya persidangan.

Beberapa pertanyaan hakim dan jaksa penuntut umum, maupun keterangan dari terdakwa sendiri hanya dapat disampaikan dan diterjemahkan oleh Iwan, dengan mempraktekan gerak tangan ataupun mimiknya ketika bertanya atau menyampaikan pada terdakwa Slamet.

Di hadapan Ketua Majelis Hakim Aisa H.Mahmud, keterangan atau jawaban dari terdakwa Slamet telah diterjemahkan, Iwan mengatakan awal mulanya adiknya pergi berkunjung ke rumah Taufik, sampai di rumahnya mereka berdua “membicarakan” niat mereka. Pada intinya mereka mencari mangsa (korban), karena masing-masing tidak memiliki uang sepersenpun.

“Setelah terjadi kesepakatan, berkelilinglah mereka di seputaran jalan-jalan Kota Palu Slamet membonceng Moh. Nur Taufik , sampai di Jalan RE Martadinata depan kost berhenti, karena melihat situasi sepi dan lengang,” kata Iwan.

Iwan mengatakan, melihat situasi kost sepi masuklah Slamet, melihat kunci motor tergeletak di ruang tamu. Lalu dia mengambil kunci itu dan membawa lari motor yang sedang terparkir.

Atas keterangan disampaikan Iwan, terdakwa Moh. Nur Taufik membenarkanya. Moh Nur Taufik juga mengatakan, setelah mereka mengambil motor keduanya berpisah dengan kenderaan masing-masing.

Usai mendengarkan keteranngan keduanya, sidang ditutup dan akan diagendakan kembali pada Rabu mendatang dengan agenda penuntutan dari JPU.

Slamet Putra dan Taufik melancarkan aksinya di kos berada di RE Martadinata, Kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikulore. Setelah berhasil membawa lari motor korbanya (Deny) mereka berdua berpisah, motor tersebut dibawa kabur Slamet dan disimpan dirumahnya.

Selama seminggu motor itu disimpan dirumah Slamet dan telah dipreteli, rencananya motor akan dijual,tapi belum sempat terjual keduanya keburu ketangkap petugas kepolisian. Perbuatan keduanya diancam dalam dakwaan kesatu Pasal 363 ayat (1) ke-3 dan ke-4 KUHP atau kedua Pasal 480 ayat (1) A KUHP. (IKRAM)