Prof Khairil : Dengan Segala Hormat, Prof Djayani Tak Paham Mana Plagiasi Mana Sitasi

oleh -
Prof. Dr. Muhammad Khairil, S.Ag., M.Si.

PALU – Menanggapi tuduhan Prof. Dr. Djayani Nurdin dalam opininya yang menyebutkan bahwa artikel berjudul: Empirical Analysis on Cyberbullying in Social Media: A Case Study in Palu City, yang diterbitkan di Journal of Engineering and Applied Sciences 13 (20): 8598-8603 melalui penerbit Medwell Journals 2018, telah menjiplak secara utuh dengan modus tidak akurat dalam pengutipan atas artikel Richard Donegan berjudul: “Bullying and Cyberbullying: History, Statistics, Law, Prevention and Analysis,” dalam The Elon Journal of Undergraduate Research in Communications Vol. 3, No. 1 Spring 2012, halaman 39-40, Prof. Dr. Muhammad Khairil, S.Ag., M.Si. mengatakan, Prof Djayani tidak memahami mana plagiasi mana sitasi.

“Ini juga membuat saya semakin ragu bahwa opini ini ditulis oleh Prof. Djayani. Saya tidak paham andai ada orang yang gagal paham tentang makna yang sangat jelas di balik bahasa ‘telah menjimplak secara utuh’.”

“Kalau Prof. Djayani memahami artikel ini dengan baik, membaca dengan seksama, punya kemampuan bahasa yang baik maka ia akan menemukan satu paragraf yang saya kutip dari artikel Richard Donegan. Dalam artikel kutipan yang saya ambil itu Donegan (2012) points out that the clinical repercussions that bullying and cyberbullying have on today’s youth present the most troubling issue at hand. Semoga Prof. Djayani paham arti bahasa kutipan ini’,” jelas Khairil kepada media ini, Ahad (12/12)

Prof Khairil meyakini bahwa Prof Djayani jelas salah memahami penulisan jurnal ilmiah. Bila Prof Djayani membaca saksama artikel yang ditulisnya mulai dari judul, abstrak, isi, hingga kesimpulan jelas sangat jauh berbeda.

Bahwa ia mengutip artikel Richard Donegan, Prof Khairil menyebutkan itu benar, tapi tidak lantas disebut plagiasi.

“Itu bukan plagiasi, itu sitasi, dan itu sah. Dengan segala hormat, Prof Djayani sepertinya tidak memahami mana plagiasi mana sitasi,” terangnya.

Guru Besar termuda di Kampus Tadulako ini mengaku data-data yang diungkap Prof Djayani dalam opini yang ditulisnya itu cacat dan tidak valid.

“Bila diibaratkan hadis, apa yang disampaikan Prof Djayani tidak hanya dhaif, tapi tertolak,” terang alumni Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini.

Prof Khairil mengatakan, dalam tulisannya, Prof Djayani menyebutkan ada kecenderungan pelibatan penulis asal UKM Malaysia dan nampaknya berbagai artikel yang muncul dalam kategori terbitan predatoris adalah hasil kerja sama dan kolaborasi yang dilakukan melalui International Publication Center (IPCC) Untad dan FISIP Untad yang memang telah mengikat sebuah nota kesepakatan sejak tahun 2017

Ini lebih tidak nyambung lagi. Beginilah kalau pengetahuan terbatas tapi seolah tahu semua. Dalam filsafat, karakter seperti ini dikenal dengan, manusia yang tidak tahu di tidak tahunya. IPCC itu ada nanti setelah Pelantikan Prof. Mahfud menjadi Rektor di tahun 2019. Artinya ketika Prof. Djayani kalah dalam pemilihan Rektor pada tahun 2019, IPCC baru terbentuk di tahun yang sama. Jadi tidak betul bahwa ada nota kesepakatan FISIP dan IPCC di tahun 2017,” terangnya.

Prof Khairil juga menyangga, opini Prof Djayani yang mengomentari soal penulisan artikel yang melibatkan penulis dengan latar belakang disiplin ilmu yang tidak sejalan. Menurutnya, setiap orang memiliki kecenderungan masing-masing. Apakah hanya sarjana agama saja yang boleh khutbah Jum’at? atau hanya lulusan komunikasi saja yang bisa jadi wartawan? Tidak ada yang salah menurutnya, orang menulis tentang isu di luar disiplin ilmunya.

“Beginilah kalau sesutu yang tidak disukai, bahkan kutu yang melekat di rambut orang pun akan jadi salah,” candanya.

Sebelum menutup wawancara, Prof Khairil mengatakan hal-hal yang seperti ini sesungguhnya membuang-buang energi saja. Banyak hal seharusnya yang lebih bisa dipersoalkan. Mestinya sudah bisa saling bantu dan dukung untuk mendorong dosen-dosen yang sudah lama belum naik pangkat. Mestinya kata dia lagi, ini sudah jadi satu artikel, sayangnya, energi itu malah digunakan untuk menulis daftar kesalahan orang.

“Mari untuk tidak dan terus saling menyalahkan. Energi kita kalau kita satukan bersama untuk membangun kampus ini akan jauh lebih bermanfaat. Banyak yang masih harus kita benahi di kampus ini. Mari kita jadi contoh dan teladan, harmoni andai pun kita harus berbeda perspektif dan pilihan.”

“Indahnya hidup ini andai kita bisa saling memberi manfaat. Damai rasanya saat ketemu lalu berbagi senyum bukan malah kebencian. Kita hidupkan atmosfir dialektika akademik dalam tutur santun yang sejuk. Sungguh sebuah anugerah andai kita bisa saling memudahkan orang lain, bukan malah bahagia di atas kesulitan orang lain. Semakin kita memudahkan orang lain maka yakinlah banyak hal yang akan memudahkan juga hidup kita,” tutupnya.

Baca artikel terkait: Untad Gawat Darurat Terbitan Predatoris

Rep: Nurdiansyah