Penghina Alkhairaat Minta Maaf, Abnaul Diimbau Tenang

oleh
Tiwy Badruddin didampingi keluarganya menyerahkan pernyataan maaf tertulis kepada Sekjen PB Alkhairaat, Ridwan Yalidjama di Kantor PB Alkhairaat, Rabu (16/09) (FOTO : MAL/YAMIN)

PALU – Mahasiswi Universitas Tadulako (Untad) asal Kabupaten Tojo Una-Una, Tiwy Badaruddin yang menghina Alkhairaat melalui akun Facebooknya, mengaku khilaf dan memohon maaf kepada seluruh abnaulkhiraat.

Tiwy yang didampingi tantenya, Bety dan Pamannya, Tri, juga membawa pernyataan permohonan maaf secara tertulis yang ditandatangani di atas materai lalu menyerahkannya kepada Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pengurus Besar (PB) Alkhairaat, Ridwan Yalidjama, disaksikan sejumlah Pemuda Alkhairaat, di Gedung PB Alkhairaat, Rabu (16/10).

Diketahui, unsur penghinaan yang dilakukan Tiwy diupload melalui akun Facebooknya, mengomentari postingan seseorang, yang bunyinya: Saya dulu alkhairaat, tapi saya tinggalkan, karena ajaran dr Alkhairaat tdk sesuai yg Rasulullah bawakan … Dan klw ia buat selamat ajaranx kok menentang dr Rasulullah kok ajaran Rasulullah diingkari malahan menolak dan terus menerus membantahnya. Sya paham, krna sya pernah alkhairaat dulu jdi seluk belukx sy tau, coba dehh mas arifin kenal sunnah belajar yang bener agar tdk ada penyesalan dibelakang.. Allahuyadk..

“Tiwy datang kesini sebagai bentuk itikat baik atas apa yang Tiwy lakukan kemarin. Tiwy tidak menyangka apa yang Tiwy lakukan itu jadinya seperti ini. Tiwy juga masih tahap pembelajaran dan masih masuk paham-paham baru sama Tiwy. Dalam posisi seperti ini, Tiwy sangat-sangat menyesal karena apa yang Tiwy lakukan ini ternyata banyak membuat dari kita semua kecewa, Tiwy benar-benar menyesal mengatakan itu. Tiwy datang kesini untuk meminta maaf sebesar-besarnya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi,” ujar Tiwy.

Tiwy mengaku, awalnya terjadi pertentangan di lingkungan keluarganya yang membenarkan dan menyalahkan soal pelaksanaan tahlilan. Kemudian dia ingin menggali kerbenaran soal itu melalui kelompok kajian agama dan mencari referensi di youtube. Seiring dengan itu, dia juga mengikuti kajian live streaming dari Masjid Assunah yang ada di Desa Simoli, Kecamatan Ratulindo, Ampana Kota.

“Dari situlah saya menyimpulkan bahwa Alkhairaat itu tidak menggambarkan ajaran Rasulullah,” akunya.

Sekjen PB Alkhairaat Ridwan Yalidjama (kiri) menerima penghina Alkhairaat (kanan) yang datang memohon maaf didampingi keluarganya, di Gedung PB Alkhairaat, Rabu (16/10) (FOTO : MAL/YAMIN)

Menanggapi hal itu, Sekjen PB Alkhairaat Ridwan Yalidjama memberi apresiasi kepada Tiwy yang berbesar hari mengakui kesalahannya. Menurtnya, orang yang bijak adalah yang tahu salahnya dan mau meminta maaf, seperti apa yang dilakukan Tiwy.
“Saya pikir ini yang paling prinsip. Siapa saja, karena kebenaran itu bukan milik kita sendiri, kebenaran juga miliknya orang lain. Jadi jangan pernah merasa benar, merasa pandai, tapi harus pandai merasa,” katanya.

Sekjen menjelaskan, Alkhairaat dalam melihat sesuatu, memiliki berbagai pertimbangan, tidak frontal tetapi menanggapi mana jalan yang bagus, yang mau menjalin suasana keakraban.

Bahkan Sekjen mengaku, satu hari sebelum mendengar persoalan itu, dia diajak HPA ke Ampana bersilatirahmi dengan guru-guru dan Komisariat Alkhairaat Touna, untuk memberikan pencerahan untuk meredam persoalan itu.

“Tiba-tiba datang habib dengan majelis melapor. Saya katakan saya melapor dulu ke Habib baru kita ke Ampana untuk meredam. Begitu saya bilang kemarin, tiba-tiba datang kabar bahwa yang bersangkutan ingin bertemu untuk memohon maaf, Alhamdulillah mari. Saya pikir ini pernyataan positif,” akunya.

Sekjen juga berpesan kepada seluruh abnaulkhairaat agar selalu pada prinsip menyelesaikan masalah secara damai agar tidak mengganggu stabilitas daerah. Meski diakuinya, pernyataan yang dilontarkan itu memang menyakitkan bagi seluruh abnaul.

Menanggapi aksi yang dilakukan abnaulkhairaat di Ampana, Sekjen menilainya sebagai kewajaran karena membela kebenaran.

“Karena kita sepertinya dicaci maki dan dilecehkan. Olehnya aksi itu wajarlah karena dilakukan secara damai,” tambahnya.

Terkait itu, salah satu tokoh pemuda Alkhairaat, Abdurrahman Aljufri menegaskan, Alkhairaat menolak tegas radikalisme. Dia mengimbau kepada umat Islam khususnya generasi milenial untuk dapat menfilter diri dari berbagai kajian keagamaan dari media sosial (medsos).

“Mengharapkan aparat terkait untuk memantau, mengawasi kajian keagamaan, jangan sampai tersusupi faham radikal yang menyebarkan kebencian. Perlu peran serta masyarakat untuk melaporkan pada pihak terkait, apabila di lingkungan sekitar dicurigai ada faham-faham radikal yang masuk,” pintanya.

Pada prinsipnya, kata dia, Alkhairaat menghargai adanya perbedaan aliran, tetapi Alkhairaat selalu menyerukan untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan atas dasar ukhuwah Islamiyyah, ukhuwah Wathaniyah, dan ukhuwah Basariyah.

Baginya, Alkhairaat dengan nilai yang diajarkan oleh pendirinya, Habib Idrus bin Salim Aljufri sebagaimana yang disampaikan Ketua Utama pada Haul Guru Tua ke 50, agar terus memupuk menjaga tasawuh atau toleransi.

“Tidak kafir mengafirkan, Guru Tua sampaikan dalam gubahan syairnya, wala turianna nasa dunaka muminan wala kafiran hatta tugayaba fil kabri. Jangan sekali kali anda mengatakan saya lebih baik dari kamu, baik itu muslim atau non muslim. Nanti setelah masuk di kubur husnul khotimah baru kita berkata saya lebih dari kamu. Bagi Alkhairaat menjaga kedaulatan NKRI harga mati,” tandasnya. (YAMIN)