MAL, SIGI — Perkumpulan Evergreen Indonesia (PEI) bersama Tim STIPLE (South Tinggede People) melakukan survei keanekaragaman hayati (kehati) di wilayah Desa Loru dan Ngata Baru, Kabupaten Sigi. Survei ini memadukan pengamatan ilmiah dengan pengetahuan lokal masyarakat untuk mengidentifikasi dan mendokumentasikan kekayaan hayati di kawasan tersebut.

Tim menggunakan dua pendekatan, yakni pengetahuan lokal (local knowledge) dan metode Visual Encounter Survey (VES). Pendekatan pertama menggali informasi dari masyarakat yang selama ini hidup berdampingan dengan kawasan hutan, sedangkan VES dilakukan melalui pencarian dan pengamatan satwa secara langsung.

Koordinator Program PEI, Muhammad Ival, menjelaskan bahwa pengalaman dan ingatan masyarakat mengenai kondisi lingkungan menjadi informasi awal bagi tim sebelum melakukan penelusuran ke dalam hutan.

Informasi yang dihimpun antara lain berupa toponim atau nama-nama wilayah serta lokasi yang diketahui menjadi tempat aktivitas satwa. Pengetahuan warga mengenai jalur perlintasan kura-kura, misalnya, membantu tim menentukan titik pengamatan agar survei lebih terarah.

Informasi tersebut kemudian diperiksa melalui pengamatan lapangan. Dengan metode VES, tim melakukan pencatatan dan dokumentasi visual untuk mengidentifikasi satwa yang ditemukan, termasuk berbagai jenis kura-kura.

Penggabungan kedua pendekatan itu memungkinkan tim membandingkan informasi masyarakat dengan hasil pengamatan langsung. Proses tersebut menjadi bagian dari triangulasi data untuk memperoleh gambaran keanekaragaman hayati di lanskap Loru dan Ngata Baru.

Staf lapangan, Idris, mengatakan keberadaan Kura-kura Hutan Sulawesi menjadi salah satu perhatian dalam survei tersebut. Spesies ini berstatus Kritis (Critically Endangered/CR) berdasarkan daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Kerusakan dan perubahan habitat, pembukaan kawasan hutan, serta perburuan dan perdagangan satwa menjadi sejumlah ancaman terhadap kelangsungan hidup spesies tersebut.

Karena itu, pemetaan habitat dan keterlibatan masyarakat dinilai penting dalam mendukung upaya konservasi. Hasil survei diharapkan dapat menjadi data dasar untuk memantau perubahan ekosistem, mengidentifikasi kawasan potensial, serta menyusun langkah perlindungan keanekaragaman hayati.

Melalui kegiatan ini, PEI dan STIPLE berharap pengetahuan masyarakat dapat menjadi bagian dari pengembangan strategi konservasi di Kabupaten Sigi, sekaligus melengkapi data yang diperoleh melalui pengamatan ilmiah.**