Mimbar Demokrasi di Palu, Suarakan Penyelamatan Reformasi dari Ancaman Politik Dinasti

oleh -
Ketua Yayasan Panca Bhakti Palu, Rendy Affandi Lamadjido, berorasi di hadapan mahasiswa dan masyarakat yang hadir di kegiatan mimbar demokrasi, di halaman Kampus Universitas Abdul Aziz Lamadjido/STIE Panca Bhakti Palu, Jumat (01/12) petang. (FOTO: media.alkhairaat.id/Rifay)

PALU – Kalangan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kota Palu bersama masyarakat, berkumpul di halaman Kampus Universitas Abdul Aziz Lamadjido/STIE Panca Bhakti Palu, Jumat (01/12) petang.

Mereka berkumpul dalam sebuah forum terbuka bertajuk “Theater of December; Mimbar Demokrasi” menyuarakan aspirasi atas kondisi demokrasi di era reformasi yang dinilai sudah mulai terancam, baik oleh lingkaran politik oligarki maupun politik dinasti yang dipraktikkan penguasa saat ini.

Tampil sebagai orator utama Ketua Yayasan Panca Bhakti Palu, Rendy Affandi Lamadjido, Ketua Komnas-HAM Sulteng Deddy Askari, aktivis Dedi Irawan dan Arianto Sangadji. Kegiatan juga dirangkai dengan pertunjukan seni teater dan orasi dari kalangan mahasiswa.

Mengawali orasinya, Ketua Yayasan Panca Bhakti Palu, Rendy Affandi Lamadjido, membakar semangat para mahasiswa untuk setia menjaga semangat reformasi yang telah diperjuangkan senior-seniornya, 25 tahun silam.

Rendy yang mengaku sebagai pelaku perjungan reformasi di Palu, mengingatkan mahasiswa terkait betapa sulitnya para mahasiswa terdahulu dalam memperjuangkan reformasi.

Mahasiswa dan masyarakat yang hadir di kegiatan mimbar demokrasi, di halaman Kampus Universitas Abdul Aziz Lamadjido/STIE Panca Bhakti Palu, Jumat (01/12) petang. (FOTO: media.alkhairaat.id/Rifay)

Kala itu, tepatnya di Tahun 1998, kata dia, banyak kalangan mahasiswa yang mengalami nasib tragis dalam memperjuangkan reformasi. Ada yang meninggal, terluka, bahkan hilang entah ke mana.

“Apakah kalian mau seperti itu lagi, maka kita pertahankan demokrasi. Ini negeri kalian, ini tanah kalian. Jaga kuat Kota Palu, jaga kuat reformasi politik. Jangan kembali ke masa lalu, jangan anak-anak ku, kami sudah rasakan,” teriaknya lantang.

Bekas Anggota DPR RI dari Dapil Sulteng ini meyakini, para mahasiswa yang hadir tidak akan takut dengan rezim saat ini. Ia berharap, apapun bentuk intimidasi yang dialami, harus terus maju berjuang menyelamatkan demokrasi.

Sementara itu, aktivis pergerakan reformasi Sulawesi Tengah, Arianto Sangadji, juga berkata sama.

Menurutnya, demokrasi yang sudah diperjuangkan sekian puluh tahun kini seakan dibungkam oleh rezim penguasa.

Ia mengatakan, hari ini demokrasi sedang dalam ancaman besar, yakni kembalinya nepotisme.

“Hari ini situasinya tidak lebih baik dari 1998,” katanya.

Ia juga menyinggung situasi saat ini, khususnya dalam tahap pencapresan. Salah satu kandidat yang saat ini telah ditetapkan, dinilai telah menciderai semangat demokrasi yang telah diperjuangkan selama ini.

“MK dipakai untuk menjustifikasi anak muda yang muncul dari kekuasaan, dengan proses yang tidak benar, itu yang harus kita lawan. Karena salah satu spirit tahun 1998, bagaimana teman-teman mahasiswa bersama rakyat, menghajar apa yang disebut dengan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme,” katanya.

Untuk itu, kata dia, mimbar demokrasi yang digelar hari ini sangat positif dan membanggakan.

“Karena bukan hanya oleh mahasiswa, tapi juga bersama dengan rakyat. Dan yang paling membanggakan, begitu banyak perempuan yang terlibat hari ini untuk memperjuangkan dan mempertahankan demokrasi kita,” katanya.

Orator lainnya juga menyuarakan hal yang sama, baik oleh Dedy Irawan maupun Dedy Askari. RIFAY