JAKARTA, MAL — Menteri Keuangan Suahasil Nazara memproyeksikan realisasi belanja negara pada kuartal IV 2026 akan menembus angka Rp1.300 triliun.
Jumlah tersebut tercatat lebih tinggi sekitar Rp100 triliun dibandingkan dengan realisasi belanja pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan alokasi belanja negara ini bertujuan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional serta memastikan penyaluran berbagai program prioritas berjalan optimal di penghujung tahun. Pemerintah menegaskan bahwa kebijakan efisiensi yang tengah berlangsung tidak akan menghambat penyerapan anggaran di sektor-sektor produktif.
“Untuk Q4 ini, APBN akan belanja sekitar Rp1.300 triliun, lebih tinggi dibandingkan Q4 tahun 2025 yaitu Rp1.200 triliun,” kata Suahasil Nazara, Menteri Keuangan Republik Indonesia.
Dana tersebut nantinya akan dialirkan untuk membiayai sejumlah sektor krusial, terutama pada penguatan layanan publik dan bantuan sosial. Kementerian Keuangan telah menetapkan bahwa program bantuan pangan dan perlindungan sosial menjadi fokus utama penyerapan anggaran kuartal akhir ini.
Di sisi lain, pemerintah menjamin bahwa lonjakan belanja negara ini tidak akan mengganggu kesehatan fiskal nasional. Defisit APBN dipastikan tetap terjaga pada level 2,85 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sesuai dengan prinsip kehati-hatian yang telah disepakati.
“Namun, efisiensi anggaran bukan berarti menghentikan belanja. Pada triwulan IV 2026, APBN akan membelanjakan sekitar Rp1.300 triliun, lebih tinggi dibandingkan triwulan IV-2025 yang sebesar Rp1.200 triliun,” kata Suahasil Nazara, Menteri Keuangan Republik Indonesia.
