Memuliakan Anak

oleh -

Berbahagialah bagi pasangan yang sudah memiliki anak. Ini adalah kado terisitimewa melebihi dari kado-kado pemberian dari kawan kerabat sewaktu melaksanakan prosesi walimah nikah.

Banyak sekali yang menginginkan keturunan, namun tak sedikit diantara kita yang belum mendapatkannya. Semoga amanah dari Allah ini segera diberikan kepada yang belum memilikinya.

Mempunyai anak adalah amanah. Tidak serta merta setelah kita diamanahinya lalu lepas tanggung jawab. Amanah harus dijaga, tugas kita yang diamanahinya adalah dengan menjaga, melindungi, merawat. Karena suatu saat sang pemiliknya akan mengambilnya kembali.

Begitu pun dengan anak. Kita diamanahi Allah untuk memiliki anak hanya beberapa waktu saja; semenit, sejam, sebulan, atau beberapa tahun saja. Karena jika sudah waktunya, anak kita akan segera diambil  Yang Maha Memiliki. Kita hanya “merasa” memilikinya saja. Bukan pemilik penuh. Sementara.

Karena itu Rasulullah menyuruh ummatnya untuk memuliakan anak seperti dalam sabdanya bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Muliakan anak-anakmu, dan didiklah mereka dengan akhlak yang baik.” (HR Ibnu Majah).

Anak adalah buah hati kedua orang tua. Tanpa hadirnya  anak, mungkin suatu pernikahan belumlah terasa lengkap.

Kehadiran anak merupakan kehendak Allah SWT. Bila Allah SWT menghendaki sepasang suami istri memiliki anak, itu anugerah yang tiada terkira. Karena itu, anak adalah titipan-Nya yang patut disyukuri.

Titipan Allah SWT itu sudah sepatutnya dijaga, dibesarkan, dan dididik dengan baik oleh kedua orang tua, dengan ilmu, agama, perhatian, dan kasih sayang. Semua faktor itu sangat penting bagi perkembangan anak.

Jika ilmu dan agama sangat bermanfaat bagi kehidupan di dunia dan akhirat, kasih sayang orang tua adalah kebutuhan anak-anak sejak mereka lahir. Bila sejak kecil mereka telah kehilangan kasih sayang orang tuanya, akan dapat memengaruhi pertumbuhan, terutama perkembangan emosionalnya.

Misalnya, anak-anak menjadi pribadi yang keras, kasar, dan mudah marah. Tidak jarang anak-anak yang dibesarkan tanpa kasih sayang, mereka suka berbohong, mencuri, dan menyakiti orang lain. Namun, bila orang tua membesarkan dengan kasih sayang, insya Allah mereka akan tumbuh menjadi anak yang dapat menyayangi sesama serta makhluk Allah SWT lainnya.

Umat Islam memiliki teladan, yakni Rasulullah SAW dan para sahabat dalam mendidik anak dengan kasih sayang.

Anas bin Malik mengungkapkan bagaimana rasa sayang Rasulullah SAW kepada putranya, ”Aku tak pernah melihat seseorang yang lebih besar kasih sayangnya kepada keluarganya dibandingkan Rasulullah SAW.”

Meskipun anak-anak biasa merengek dan mengeluh serta banyak tingkah, tapi Nabi Muhammad SAW tidaklah marah, memukul, membentak, dan menghardik mereka.

Beliau tetap berlaku lemah lembut dan tetap bersikap tenang menghadapi mereka.

Masa depan anak merupakan tanggung jawab orang tuanya yang mendidik dan membesarkan. Sedapat mungkin orang tua tak hanya memberikan pendidikan di rumah, namun juga pendidikan formal yang tinggi. Dan selama mendidik itulah kasih sayang sangat penting peranannya dalam membesarkan anak.

Kasih sayang memang hal utama yang harus dimiliki setiap orang. Anak-anak pun sangat membutuhkan kasih sayang, baik dari orang tuanya maupun orang lain. Sikap-sikap Nabi Muhammad SAW patut ditiru oleh para orang tua dalam membesarkan anak-anaknya.

Perilaku anak sangat tergantung dari contoh dan teladan orang tuanya. Karena itu, hanya akhlak dan budi pekerti luhurlah yang akan menjadikan masa depan anak sesuai dengan yang kita dambakan. Wallahu a’lam

DARLIS MUHAMMAD (REDAKTUR SENIOR MEDIA ALKHAIRAAT)