Logo Muktamar Besar XI Diluncurkan, Semangat Menyongsong Abad Kedua Berdirinya Alkhairaat

oleh -
Ketua Umum PB Alkhairaat, Habib Ali bin Muhammad Aljufri saat meluncurkan logo Muktamar Besar XI Alkhairaat, di aula FAI Unisa, Ahad (26/06). (FOTO: media.alkhairaat.id/Rifay)

PALU – Ketua Umum (Ketum) Pengurus Besar (PB) Alkhairaat, Habib Ali bin Muhammad Aljufri meluncurkan logo Muktamar Besar XI Alkhairaat, di aula Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Alkhairaat (Unisa) Palu, Ahad (26/06).

Logo menyerupai bahtera dengan layar terkembang itu resmi diluncurkan setelah sebelumnya diajukan oleh Panitia Muktamar Bidang Publikasi dan Dokumentasi (Pubdok) dan mendapat persetujuan dari Habib Ali.

Logo Muktamar Besar XI Alkhairaat. (FOTO: DOK. PUBDOK MUKTAMAR XI ALKHAIRAAT)

Ketua Umum PB Alkhairaat, Habib Ali bin Muhammad Aljufri, mengatakan, peluncuran logo tersebut baru pertama kalinya, selama perhelatan muktamar dilakukan.

“Biasanya, yang pertama itu pasti banyak “andai-andai” atau “jangan-jangan”. Jadi kalau ada yang seperti ini, jangan timbul andai-andai, karena setelah andai-andai itu pasti ada dosa, maka tabayyun dan bertanyalah,” tegas Habib.

Ia berharap, apa yang diinginkan dalam filosofi logo tersebut, menjadi suatu semangat baru untuk memperjuangkan Alkhairaat sesuai dengan cita-cita pendirinya.

“Kalau melihat misi dari pendiri Alkhairaat, maka tiada lain, belajar dan mengajar. Habib Idrus sendiri sering menyampaikan, wahai abnaulkhairaat, lakukanlah kewajiban mengajar dan jadilah orang yang berada di hadapan,” katanya.

Ke depan, kata dia, Alkhairaat tidak hanya berupa perahu yang menggunakan layar, tetapi sudah menggunakan mesin yang melaju untuk membawa Alkhairaat ke arah yang lebih baik sesuai niat, tujuan, dan harapan Pendiri Alkhairaat, Habib Sayyid Idrus bin Salim Aljufri.

“Dan harapan dari pendiri juga adalah harapan dari Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wasallam. Karena Nabi mengatakan, aku diutus sebagai muallim,” tutupnya.

Ketua Panitia Pelaksana atau Organizing Committee (OC) Muktamar Besar XI Alkhairaat, Dr Agus Lamakarate, dalam laporannya, menyampaikan makna filosofi yang terkandung dalam logo tersebut.

Angka 11 dalam huruf Arab, kata dia, melambangkan angka tawasuth (moderat) atau tawazun (seimbang).

“Ini melambangkan dalam Muktamar Besar Alkhairaat ke XI, mempertegas dirinya sebagai Islam yang washathiyah,” tuturnya.

Selanjutnya, warna hijau bergradasi, kata dia, menggambarkan Alkhairaat terus bertumbuh dengan semangat baru, dengan kekuatan tiga elemen yaitu tanzim (organisasi), madrasah (sekolah), dan masyarakat Alkhairaat.

Sementara warna kuning bergradasi, menggambarkan Alkhairaat sebagai lembaga pendidikan yang akan terus melahirkan muslim cendekia, beriman, berakhlak dan bertakwa.

“Warna kuning emas yang menonjol pada tulisan Alkhairaat, menggambarkan Alkhairaat semakin gemilang dengan sikap kemandirian dan teguh pada pendiriannya,” terangnya.

Kemudian, ilustrasi bahtera dengan layar terkembang pada keseluruhan logo, menggambarkan di tengah tantangan zaman, Alkhairaat terus melaju menuju satu tujuan, yaitu cita pendiri Alkhairaat Habib Sayyid Idrus bin Salim Aljufri.

Di tempat yang sama, Ketua Steering Committee (SC) Muktamar Besar XI Alkhairaat, Prof. Dr. Zainal Abidin, menilai, peluncuran logo adalah sesuatu yang positif, karena sepengetahuannya, dari sekian kali muktamar dilakukan, baru kali ini memiliki logo khusus.

“Ini pertanda baik di masa yang akan datang untuk Alkhairaat dalam menggenapi satu abad eksistensinya di bumi Indonesia,” ujarnya.

Ia mengatakan, SC memberikan apresiasi kepada panitia yang sudah berupaya membuat logo tersebut, dengan harapan muktamar yang akan dilakukan nanti lebih bervariasi dan bisa menghasilkan keputusan-keputusan sesuai filosofi yang ada pada logo.

“Luar biasa filosofi yang ada dalam logo ini. Saya mengutip filosofi terakhir pada keseluruhan logo yang menggambarkan bahwa di tengah tantangan zaman, Alkhairaat terus melaju menuju satu tujuan, yaitu cita pendiri Alkhairaat Habib Sayid Idrus bin Salim Aljufri. Jadi muktamar kali juga untuk menyongsong muktamar yang akan datang. Itu artinya, dari pendekatan tahun hijriah, muktamar yang akan datang atau lima tahun dari sekarang kita sudah memasuki satu abad berdirinya Alkhairaat di bumi Indonesia ini,” katanya.

Pertanyaannya, kata dia, bagaimana kesiapan semua keluarga besar Alkhairaat untuk menghadapi tantangan abad yang kedua, atau 100 tahun kedua berdirinya Alkhairaat. Sebab, kata dia, tantangan dan masalah yang dihadapi, tentu berbeda dengan masalah di 100 tahun sebelumnya.

Untuk itu, kata dia, pihaknya di SC akan berusaha bekerja maksimal dengan kemampuan yang dimiliki agar apa yang dirancang dan direncanakan, sesuai dengan apa yang diharapkan dalam logo muktamar.

“SC berupaya semaksimal mungkin agar tidak hanya sekadar mempersiapkan muktamar lima tahunan ini, tetapi juga mempersiapkan bagaimana kita menghadapi 100 tahun kedua berdirinya Alkhairaat,” tegasnya.

Ia optimis, lembaga-lembaga yang ada, baik itu pengurus besar Alkhairaat hingga badan-badan otonomnya, termasuk madrasah dan perguruan tinggi, bisa melahirkan sumber daya yang berkualitas dan bisa menghadapi tantangan di era yang akan datang.

“Karena kata Nabi Muhammad SAW, setiap 100 selalu lahir pembaharu-pembaharu. Kita harap, di 100 tahun ini, lahir pembaharu-pembaharu, tentunya tetap menuju cita-cita Habib Sayyid Idrus bin Salim Aljufri dan tidak boleh melenceng sedikitpun dari perjuangan beliau,” tutupnya.

Peluncuran logo muktamar kali ini dilaksanakan secara hybrid. Sejumlah komsiariat daerah (komda) Alkhairaat di kawasan timur Indonesia, mengikuti kegiatan tersebut secara daring.

Peluncuran logo dilakukan sebelum puncak muktamar pada tanggal 27 hingga 29 Juli 2022 mendatang. (RIFAY)