JAKARTA, MAL — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat ambruk hingga 3,78 persen ke level 4.904,29 pada penutupan perdagangan Selasa (03/11) seiring dengan tekanan hebat terhadap nilai tukar rupiah dan ketidakpastian politik global.

Penurunan tajam ini menyeret indeks ke bawah level psikologis 5.000 akibat kombinasi arus keluar modal asing serta sentimen domestik terkait isu keamanan negara.

Kondisi pasar kian tertekan setelah nilai tukar rupiah melemah ke kisaran Rp18.135 hingga Rp18.160 per dolar AS. Selain faktor eksternal dari hasil Pemilu Sela Amerika Serikat (AS), pelaku pasar domestik juga sedang mencermati evaluasi klasifikasi MSCI dan dugaan isu penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto yang mencuat ke publik.

Di tengah guncangan pasar modal Indonesia, lembaga keuangan global Morgan Stanley memberikan proyeksi bahwa koreksi bursa AS yang telah berlangsung sejak Juni 2026 mulai memasuki fase akhir. Meski demikian, mereka tetap memperingatkan adanya potensi penurunan indeks S&P 500 hingga delapan persen ke level 7.100 sebelum pasar benar-benar stabil.

“Mengingat pergerakan harga pekan lalu, kami menilai koreksi yang dimulai pada Juni kini telah memasuki babak akhir,” kata Mike Wilson, Chief Investment Officer Morgan Stanley.

Berbeda dengan IHSG ambruk, indeks Nasdaq di Wall Street justru menguat 0,83 persen pada perdagangan terakhir yang dipimpin oleh rebound saham sektor teknologi dan kecerdasan buatan (AI).

Investor global mulai melakukan aksi beli saat harga turun (dip-buying) pada saham-saham raksasa seperti Nvidia dan Microsoft meskipun ketidakpastian ekonomi makro masih membayangi biaya infrastruktur AI ke depan.

Menanggapi volatilitas mata uang yang turut memicu IHSG ambruk, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk tetap berada di pasar demi menjaga stabilitas rupiah agar tetap sesuai dengan nilai fundamentalnya.

“Kita selalu berusaha di dalam range angka fundamental tapi kita semua tahu bahwa perdagangan rupiah banyak faktor yang memengaruhi, apakah itu domestik ataupun global or even itu adanya sentimen,” kata Destry Damayanti, Deputi Gubernur Bank Indonesia.

Memasuki perdagangan Rabu (04/11), IHSG kembali dibuka melemah 0,97 persen ke posisi 4.856,96 pada menit-menit awal.

Tekanan jual diperkirakan masih akan berlanjut mengingat investor masih menunggu hasil akhir penghitungan suara pemilu AS yang akan menentukan arah kebijakan fiskal dan suku bunga global di masa depan.