Dinas Ketahanan Pangan Sulteng Inspeksi Pasar Palu Terkait Kelangkaan Beras dan Harga Meningkat

oleh -

PALU – Kelangkaan beras Bulog di pasaran membuat Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Sulewesi Tengah, melakukan inpeksi mendadak (sidak) disejumlah pasar modern di Kota Palu.

Tiga retail modern yang disasar Dinas Ketahanan Pangan, adalah Bumi Nyiur Swalayan di Jalan S Parman, Transmart di Jalan Sudirman dan Hypermart di Jalan Diponegoro, Selasa (13/2).

Sidak dipimpin oleh Kepala Dinas Pertahanan Pangan Sulawesi Tengah, Iskandar Nongtji.

Menurut Iskandar, sidak dilakukannya untuk merespons keluhan masyarakat soal kenaikan dan kelangkaan beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) yang disalurkan oleh Badan Urusan Logistik (Bulog) Sulteng.

Ia mendatangi pusat perbelanjaan modern karena keluhan yang didapatkannya, kelangkaan tersebut justru di outlet toko modern. Hasilnya, dari tiga pusat perbelanjaan yang didatangi, beras bulog dengan kemasan 5 kilogram yang dibandrol seharga Rp54.000 tersebut tidak lagi terlihat di outlet penjualan.

“Sudah habis sejak tiga hari lalu. Kami sudah order ke Bulog tapi belum disuplai kemari,” ungkap Store General Manager Hypermart Palu, Dodi Rosadi, Selasa (13/2).

Iskandar mengatakan, tidak sepenuhnya tepat jika dikatakan ada kelangkaan beras di Kota Palu dan Sulawesi Tengah. Kuota beras katanya cukup untuk menjamin hingga bulan ramadhan nanti.

Rosadi mengakui kenaikan beras Bulog setidaknya dipicu oleh dua hal. Pertama, konsumen diliputi kepanikan (panic buying) melihat ada kelangkaan beras di Pulau Jawa yang memicu aksi beli beras Bulog di Kota Palu. Kedua, ungkap Rosadi ada pergeseran pola konsumen lebih memilih membeli beras Bulog daripada beras kualitas medium dan premium.

“Pasalnya, antara harga beras premium dan beras Bulog perbedaannya di atas Rp10 ribu lebih. Di hypermart, beras kualitas medium dan premium dibandrol di atas Rp69.000 untuk kemasan 5 kilogram,” katanya.

Selama ini kata dia, konsumen beras premium cukup besar. Namun akhir-akhir ini peminat beras premium tersebut menurun dan beralih ke beras Bulog. ‘

“Dulu orang lihat kualitas sekarang lihat harga. Bedanya juga cukup jauh,’’ jelasnya.

Pihaknya sudah mengajukan ke Bulog sejak tiga hari lalu, namun sejauh ini belum ada pengiriman ke tokonya.

Di Bumi Nyiur Swalayan (BNS), pemandangan sama juga terlihat. Outlet beras Bulog kosong dan hanya didominasi beras premium yang didatangkan dan Surabaya dan dari Parigi Moutong. Di BNS beras Bulog disetok hingga 700 kilogram. 500 kilo dijual di BNS Pusat dan sisanya didistribusi ke BNS Cabang yang ada di Kota Palu dan sekitarnya.

“Paling lama seminggu beras Bulog ludes, setiap orang dibatasi cukup membeli 2 sak atau 10 kilogram. Sekarang sudah habis. Order sudah dikirim sejak pekan lalu. Namun hingga hari ini, suplai dari Bulog belum datang,’’ katanya sambil menunjuk tempat beras yang kosong.

Kepala Bulog Sulteng Heriswan yang dihubungi, mengaku hari ini juga ia akan segera mengedrop beras ke retail modern sesuai permintaan. “Hari ini segera didistribusikan,” sahutnya dari ujung telepon.

Sementara pemantauan di pasar tradisional harga beras kualitas medium menyentuh angka psikologis Rp14.000 per kilogram. Di Pasar Biromaru rata-rata perkilo dibandrol antara Rp13.000 hingga Rp14.000 per kilogramnya.

Kenaikan tersebut juga dikeluhkan oleh sejumlah ibu. Malam tadi, Ibu Kiken warga Jalan Abadi di Kelurahan Talise menghubungi jurnalis mengeluhkan kenaikan harga beras yang mencapai Rp14.000 per kilogram. ‘

“Bukan main so 70 ribu satu karung kecil. Tolong dulu tanyakan apa masalahnya beras naik begini,” keluhnya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Procinsi Sulteng, Iskandar Nongtji akan menetralisir harga pangan khususnya beras melalui operasi pasar yang akan digelar beberapa hari kedepan.

Reporter: **/IKRAM
Editor: NANANG