Damai Luwuk, Damai Kita

oleh -
Ilustrasi.

Riak kecil agak menggelembung ditanah Luwuk tiga hari belakangan ini. Penyebabnya soal perkelahian antara pemuda yang berbuntut kematian. Insiden inilah yang memantik reaksi, hingga menyeret warga kebanyakan.

Implikasi penting dari  insiden (bukan huru hara) ini adalah, bahwa, Kota Luwuk yang kini dikepung proses modernisasi akibat masuknya perusahaan multi nasional di daerah itu membawa risiko logis dinamika masyarakat akan berderak kencang.

Apa yang terjadi beberapa hari ini merupakan ekses dari tingginya dinamika masyarakat Luwuk yang kalau tak dicegah akan mengarah pada jurang individualistic.

Sebelum nasi menjadi bubur, pihak pemerintah, perusahaan dan tokoh agama dan masyarakat duduk bersentuh lutut mencarikan formula penyelamatan anak bangsa di tanah Luwuk. Kita semua masih satu darah  dari daerah bernama Banggai Balantak Saluan (Babasal), kita masih saudara.

Informasi terakhir yang diperoleh media ini, Kamis (24/08) malam, warga suku Muna dikabarkan mengungsi ke hutan untuk menghindari gesekan fisik dengan keluarga korban pembunuhan, Almarhum Nurholis, warga Kelurahan Jole, Kecamatan Luwuk.  Akibatnya, pasar tradisional Simpong tutup.

Sebelum itu, ratusan warga gabungan dari Kecamatan Kintom dan Batui masuk di Kota Luwuk untuk merazia warga suku Muna.

Mereka dianggap sudah membabi buta hingga menyebabkan satu orang luka berat akibat dianiaya. Belakangan diketahui bahwa korban tersebut merupakan warga Gorontalo yang berprofesi sebagai tukang parkir, bukan orang Muna.

Aksi babi buta juga terjadi di Universitas Muhammadiyah Luwuk saat kegiatan perpisahan mahasiswa KKN.

Hal ini mendapat banyak keluhan dari warga. Keluhan mereka itu disampaikan melalui akun Facebook. Salah satu keluhan itu disampaikan oleh pemilik akun Facebook milik Pratiwi Manoarfa.

“Torang Yang tidak Ada Dosa & Salah Tapi Kena Imbasnya, Penutupan KKN Kota Digegerkan Dengan Sekelompok Orang Yang Datang Tiba-Tiba Dan Membabi Buta Dengan Membawa Barang Tajam dan Main Sarambang, Merusak Fasilitas Kampus Merusak Kendaraan Dosen Dan Teman2 Mahasiswa lainya

#Ya Allah Torang Juga Anak Daerah Asli, Darah Kami Pun Saluan Asli Tapi bukan begini Caranya Membabi Buta Main Parang bagini.

Namun tidak sedikit juga warga mengajak untuk bersama-sama menjaga kedamaian di Kota Luwuk.

Ketua KNPI Kabupaten Banggai, Irfan Bungadjim, menulis Damai itu Indah.

Tensi emosi berangsur turun, ketika sore harinya, dilakukan rapat tertutup di ruang kerja Ketua DPRD Kabupaten Banggai, antara perwakilan massa dengan Bupati Banggai, Herwin Yatim.

Perwakilan massa Juhri Noho, meminta, organisasi tenaga kerja bongkar muat di Pelabuhan Luwuk yang didominasi warga Muna agar diberikan kepada orang asli Babasal. Selebihnya diserahkan sepenuhnya kepada Bupati.

Bupati pun menyampaikan terima kasih kepada massa yang masih mau diajak duduk bersama menyelesaikan masalah. Dia berjanji, pada Senin mendatang akan mengeluarkan keputusan terkait tuntutan itu. Dia juga berpesan untuk tidak ada lagi aksi anarkis karena akan merugikan semua pihak.

Seiring dengan itu, massa aksi akhirnya membubarkan diri dengan tertib dan aman.

Sampai saat ini, Polres Banggai sudah mengamankan 10 terduga pelaku pengeroyokan yang menyebabkan tewasnya Nurkholis. (YAMIN/RIFAY)