JAKARTA, MAL — Pelemahan harga CPO di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) mencapai titik terendah dalam delapan bulan terakhir akibat tekanan stok yang melimpah di Malaysia serta perubahan kebijakan tarif ekspor di Indonesia.
Pada penutupan perdagangan Jumat (06/11), harga kontrak acuan minyak sawit tersebut merosot ke level MYR4.368 per ton.
Lonjakan stok di negeri jiran menjadi faktor pemicu utama koreksi harga secara beruntun pekan ini. Malaysian Palm Oil Board diperkirakan akan merilis data resmi yang menunjukkan kenaikan cadangan minyak sawit sebesar 6,8 persen menjadi 3,75 juta ton untuk periode Oktober 2026.
“Pasar masih berada dalam tekanan karena produksi minyak sawit berpotensi meningkat lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya,” kata Anilkumar Bagani, Kepala Riset Sunvin Group.
Di sisi lain, kebijakan Indonesia menurunkan total bea keluar dan pungutan ekspor sebesar 20 persen menjadi US$246,36 per ton pada November turut memengaruhi sentimen pasar. Langkah ini diprediksi memicu percepatan pengiriman stok dari tanah air untuk memanfaatkan efisiensi biaya sebesar US$61,91 per ton.
“Eksportir Indonesia berpeluang meningkatkan pengiriman dalam dua bulan terakhir 2026 untuk memanfaatkan tarif pungutan ekspor yang lebih rendah,” kata Anilkumar Bagani, Kepala Riset Sunvin Group.
Pelemahan harga minyak nabati pesaing di pasar Dalian dan Chicago Board of Trade semakin menekan daya saing komoditas sawit. Selain itu, penguatan nilai tukar ringgit terhadap dolar AS membuat harga CPO menjadi relatif lebih mahal bagi para importir global di pasar internasional.
Menghadapi fluktuasi pasar, pemerintah Indonesia menegaskan akan tetap mengoptimalkan penyerapan domestik melalui program mandatori bahan bakar nabati. Langkah ini diambil untuk menjaga keseimbangan neraca dagang dan menekan impor solar di tengah surplus produksi global.
“Pemerintah tetap mempertahankan program B50,” kata Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.
Secara teknikal, pergerakan harga CPO diproyeksikan masih akan menguji level penopang di kisaran MYR4.316 hingga MYR4.332 per ton dalam waktu dekat. Pelaku pasar kini menanti rilis data ekspor lengkap untuk menentukan arah tren harga hingga akhir kuartal keempat tahun ini.
