Banjir di Palu, Penutup Pintu Air Dicuri

oleh -
Banjir yang terjadi di Kota Palu kemarin.

PALU – Lurah Baru, Yusran mengaku kecewa dengan tindakan oknum yang diduga merupakan warganya sendiri yang tidak memperhatikan dan menjaga penutup pintu air gorong-gorong yang dibuat Pemerintah Kota (Pemkot) Palu. Penutup pintu air tersebut diduga digondol warga, sehingga ketika Sungai Palu meningkat, airnya meluber ke pemukiman warga di sebagian Kelurahan Ujuna dan Kelurahan Baru.

“Saya sudah kasih tahu RT di sini agar ditutup mati saja. Rencananya saya akan undang RT/RW, kalau mereka tidak mau, maka jaga dan antisipasi sendiri banjir masuk disini,” kata Yusran, dua hari lalu.

Yusran mengatakan, ada tiga gorong-gorong yang menjadi jalan air untuk masuk ke pemukiman warga, tepatnya di Kelurahan Baru dan perbatasan Ujuna. Dia telah melakukan koordinasi dengan Lurah Ujuna untuk mengantisipasi banjir semakin parah.

Sementara tim dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palu, Irwan, mengatakan, banjir yang terjadi setiap musim hujan karena kurangnya kesadaran masarakat setempat. Buktinya kata dia, banyak pintu air yang hilang, padahal di sekitar pintu air tersebut banyak perumahan masyarakat.

“Setiap banjir, masyarakat selalu mengeluh kepada pemerintah, padahal pemerintah telah menyediakan fasilitas tapi masyarakat tidak menjaga,” katanya.

Di bagian lain, puluhan rumah warga di Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan terendam air, Senin (03/07). Banjir berasal dari air yang meluap dari Sungai Ngia. Tak hanya rumah warga, Pasar Bulili juga ikut terendam

Sungai yang melewati Kelurahan Petobo tersebut meluap disebabkan terjadinya  pendangkalan.

Warga Petobo, Dirman, mengatakan, yang harus bertanggung jawab atas terjadinya luapan air sungai adalah Pemkot Palu melalui Dinas PU karena tidak memperhatikan usulan pengerukan sungai melalui Musrembang sebelumnya.

Bahkan kata dia, masyarakat setempat menduga bahwa Pemkot-lah yang mencabut pintu air di bantaran sungai itu.

Kata Dirman, masyarakat meminta Pemkot untuk melakukan pengerukan material pasir yang menyebabkan pendangkalan di Sungai Ngia itu.

“Daerah kami jadi rawan akhirnya, gara-gara itu,” terangnya.

Sementara Anggota DPRD Kota Palu, Ridwan Basatu, menyebutkan, pihaknya akan berkoordinasi dengan Pemkot agar permasalahan yang dihadapi masyarakat Kelurahan Petobo tidak berlarut-larut. (NANANG IP/YUSUF)