PALU – Pada penutup aksi sosial alumni SMEA Negeri (SMKN 2 Palu) Angkatan 93 berkesempatan mendatangi mantan guru mata pelajaran Perpajakan, Syarir Latahia di kediamannya, lorong Setia Budi, Kelurahan Besusu Tengah, Sabtu (8/4).
Untuk menuju rumah guru mereka, dari jalan utama sekitar 400 meter. Para alumni yang dipimpin Musa Abdul Kadir ini, memilih berjalan kaki secara berombongan sambil membawakan sebuah kursi roda yang masih terbungkus rapi dalam dos, dan beberapa paket sembako untuk sang guru.
“Kumpul kumpul atau reunian harus ada sesuatu yang dibuat yang bermanfaat untuk orang banyak. Reunian bukan hanya datang, bertemu, foto bareng lantas bubar. Di sinilah momennya kita berbuat kebajikan,” ujar Musa Abdul Kadir, kepada media ini, Jumat (7/4).
Menurut Musa kursi roda, sembako dan takjil gratis yang terkumpul tersebut merupakan hasil sumbangan seluruh alumni SMEA Negeri Angkatan 93.
“Kenapa kami menyediakan kursi roda ini. Kami mendapatkan kabar bahwa guru kami sudah lumpuh dan stroke tidak bisa lagi berjalan. Sebagai penghargaan kami sebagai anak didiknya, memberikan bantuan kursi roda buat mantan guru kami. Kami berhasil seperti saat ini berkat jasa mereka. Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa karena apa yang guru ajarkan kepada muridnya tidak akan bisa ternilai harganya,” ujar Musa Abdul Kadir.
Sementara, sang guru disambangi oleh mantan-mantan muridnya, tampak berkaca-kaca.
“Saya sekarang tidak bisa lagi berjalan. Sudah lama saya stroke. Terimakasih anak-anakku. Ternyata kalian masih mengingat saya. Sudah repot-repot membawakan kursi roda buat saya. Saya tidak bisa membalas kebaikan kalian. Biar Allah yang membalasnya,” ujar Syarir Latahia dengan suara terbata-bata menahan tangisannya.
Menurut Syarir saat ini dirinya sudah berusia 80 tahun. Sebelum dia menjabat sebagai guru di SMEA Negeri Palu, dirinya sempat menjabat sebagai kepala Sekolah SMEA Pancasila dan Kepsek di SMEA Muhammadiyah Palu. Akhir karirnya sebagai guru di SMEA Negeri Palu.
Sebelum para alumni SMEA Negeri Palu angkatan 1993 berpamitan pulang, mereka menyempatkan diri untuk mencium tangan sang guru sebagai rasa cinta dan sayang kepada gurunya. Terlihat beberapa alumni juga sempat meneteskan air karena sangat iba, melihat guru kesayangan sudah tak bisa berjalan.
“Semoga Pak Guru selalu diberikan kesehatan, terima kasih jasa jasamu Pak Guru,” ungkap mereka.
Reporter: IRMA

