PEMBICARAAN tentang digitalisasi pendidikan sering berhenti pada soal perangkat. Sekolah dianggap sudah mengikuti perkembangan zaman ketika memiliki komputer, tablet, layar interaktif, jaringan internet, atau berbagai aplikasi pembelajaran. Guru kemudian didorong untuk semakin sering menggunakan teknologi dalam proses belajar. Padahal, ada persoalan yang jauh lebih mendasar dan sering luput dibicarakan: apakah anak-anak benar-benar memahami dunia digital yang mereka masuki setiap hari?
Kemampuan menggunakan teknologi sebenarnya baru berada pada lapisan paling dasar. Anak mungkin sangat cepat mencari sesuatu di Google, mengunduh aplikasi, membuat video, menggunakan media sosial, atau memanfaatkan berbagai perangkat berbasis kecerdasan buatan. Tetapi kecakapan teknis itu tidak otomatis membuat mereka mampu membedakan informasi yang benar dan menyesatkan. Di sinilah literasi digital seharusnya mendapatkan tempat yang lebih serius dalam pendidikan.
Anak perlu dibiasakan untuk tidak langsung percaya pada apa yang muncul di layar. Ketika menemukan sebuah informasi, mereka perlu belajar bertanya siapa yang membuatnya, dari mana sumbernya, apa kepentingan di baliknya, dan apakah informasi tersebut bisa diperiksa melalui sumber lain. Kebiasaan sederhana seperti ini jauh lebih penting daripada sekadar membuat anak mampu mengoperasikan semakin banyak aplikasi.
Dunia digital juga bukan ruang yang sepenuhnya netral. Apa yang muncul di layar kita dipengaruhi oleh algoritma, pola pencarian, riwayat aktivitas, iklan, dan berbagai sistem yang dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna. Anak yang tidak memahami hal ini mudah menganggap apa yang terus muncul di hadapannya sebagai sesuatu yang paling penting, paling benar, atau paling populer. Padahal, sesuatu yang sering muncul belum tentu sesuatu yang paling layak dipercaya.
Karena itu, literasi digital juga berkaitan dengan kemampuan menjaga perhatian. Sekolah perlu mengajarkan bahwa tidak semua notifikasi harus segera dibuka dan tidak semua informasi harus langsung diikuti. Ada saatnya seseorang perlu berhenti menggulir layar, membaca sesuatu secara utuh, menyelesaikan satu pekerjaan, kemudian berbicara langsung dengan orang lain. Kemampuan berkonsentrasi seperti ini justru semakin penting ketika anak hidup dalam lingkungan yang terus berlomba mendapatkan perhatian mereka.
Persoalan lainnya adalah etika. Anak perlu memahami bahwa ruang digital tetap merupakan ruang sosial yang mempertemukan manusia dengan manusia lainnya. Mengambil karya orang lain tanpa menyebut sumber, menyebarkan informasi pribadi, mempermalukan teman, membuat komentar yang menyakiti, atau meneruskan informasi yang belum diketahui kebenarannya bukan sekadar persoalan menggunakan teknologi dengan benar. Di dalamnya ada tanggung jawab, penghormatan terhadap orang lain, dan konsekuensi dari setiap tindakan.
Maka pendidikan digital tidak seharusnya hanya mengajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga bagaimana bersikap ketika menggunakannya. Anak perlu memiliki kemampuan untuk menilai, menyaring, menahan diri, dan mengambil keputusan. Mereka bukan hanya pengguna teknologi, tetapi harus menjadi manusia yang tetap mampu mengendalikan teknologi yang digunakannya.
Pada titik ini, sekolah juga perlu berhati-hati agar tidak terjebak dalam perlombaan perangkat. Banyaknya layar, aplikasi, atau perangkat digital tidak dengan sendirinya menunjukkan kualitas pendidikan. Teknologi baru memiliki arti apabila benar-benar membantu anak memahami pelajaran, memecahkan masalah, bekerja sama, menghasilkan karya, atau memperoleh pengalaman belajar yang sebelumnya sulit dilakukan.
Teknologi akan terus berubah. Perangkat yang hari ini dianggap canggih bisa saja beberapa tahun lagi sudah ditinggalkan. Aplikasi yang sekarang populer pun dapat berganti dengan teknologi baru. Yang seharusnya dibangun sekolah bukan ketergantungan pada perangkat tertentu, melainkan kemampuan yang membuat anak mampu beradaptasi dengan perubahan tersebut.
Karena itu, ukuran keberhasilan digitalisasi pendidikan semestinya tidak berhenti pada pertanyaan berapa banyak perangkat yang dimiliki sekolah atau berapa banyak aplikasi yang digunakan guru. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah setelah menggunakan teknologi anak menjadi lebih kritis dalam menerima informasi, lebih mampu berkonsentrasi, lebih bertanggung jawab dalam berkomunikasi, dan lebih sadar terhadap cara teknologi memengaruhi dirinya.
Sekolah tidak perlu menjadi tempat yang paling banyak menggunakan teknologi. Sekolah perlu menjadi tempat yang mengajarkan anak bagaimana hidup dengan teknologi tanpa kehilangan kemampuan untuk berpikir, membaca dengan mendalam, berbicara dengan orang lain, menjaga perhatian, dan membuat keputusan dengan pertimbangan sendiri.
Sebab, anak yang mahir menggunakan teknologi belum tentu melek digital. Melek digital berarti mampu menggunakan teknologi dengan pengetahuan, kesadaran, etika, dan kendali diri.
