JEPANG, MAL — Badan Meteorologi Jepang (JMA) menyampaikan permintaan maaf secara resmi setelah mengeluarkan peringatan gempa Jepang palsu berkekuatan magnitudo 9,9 yang sempat memicu alarm nasional pada Jumat (16/10).

Peringatan yang sempat bertahan selama delapan menit tersebut menyebabkan gangguan transportasi massal dan kepanikan jutaan warga di wilayah timur hingga utara Jepang.

Kesalahan fatal ini terjadi ketika sistem otomatis Japan Meteorological Agency salah menempatkan episenter gempa di Kepulauan Kuril. Padahal, gempa nyata yang terjadi hanya berkekuatan magnitudo 6,9 dengan pusat di dekat Semenanjung Kamchatka, Rusia. Perbedaan jarak yang sangat jauh menyebabkan rumus magnitudo domestik menghasilkan angka prediksi yang berlebihan.

“Kami sangat meminta maaf karena telah menimbulkan ketidaknyamanan yang besar,” kata Ayataka Ebita, Direktur Divisi Pengamatan Gempa dan Tsunami JMA, dalam konferensi pers di Tokyo.

Insiden peringatan gempa Jepang ini mengakibatkan layanan Tokaido Shinkansen terhenti selama 15 menit akibat aktivasi sistem keselamatan otomatis. Jutaan ponsel pintar di seluruh negeri juga mengeluarkan alarm peringatan dini (EEW) yang memprediksi guncangan ekstrem hingga skala intensitas Shindo 7, yang secara teoritis akan menjadi gempa terkuat dalam sejarah.

“Dalam proses penanganan gempa darurat, episenter ditentukan berbeda dari lokasi sebenarnya, dan magnitudo menjadi terlalu besar,” tambah Ayataka Ebita.

Sekretaris Kabinet Jepang, Minoru Kihara, memastikan bahwa pemerintah tidak menerima laporan kerusakan fisik akibat gempa di Kamchatka tersebut. Namun, pihak berwenang menyoroti beban kecemasan publik yang ditimbulkan oleh alarm palsu magnitudo 9,9 yang sempat menyelimuti Hokkaido hingga Tohoku.

“Pemerintah menanggapi dengan serius kecemasan dan beban yang cukup besar bagi masyarakat yang mengungsi atau mengambil langkah lain untuk melindungi diri,” ujar Minoru Kihara.

Pihak JMA menegaskan bahwa insiden ini murni merupakan kesalahan pemrosesan data sensor dan bukan disebabkan oleh serangan siber.

Evaluasi mendalam terhadap sistem peringatan dini terus dilakukan guna mencegah terulangnya kesalahan yang dapat menurunkan kredibilitas mitigasi bencana di masa depan.