Laporan: Irma Charoline
PALU, MAL – Udara sejuk menyambut pagi di tepi Danau Poso. Permukaan air membentang tenang, sementara perbukitan hijau di kejauhan berpadu dengan langit yang perlahan terang. Di tempat ini, waktu seolah berjalan lebih lambat, memberi kesempatan bagi siapa saja untuk menikmati alam tanpa harus terburu-buru.
Kabupaten berjuluk Bumi Sintuvu Maroso ini menyimpan beragam pesona, mulai dari danau yang luas, hutan pinus yang teduh, air terjun yang jernih, hingga gua yang merekam jejak kehidupan leluhur. Kekayaan alam tersebut berpadu dengan tradisi dan kuliner lokal yang membuat perjalanan ke Poso menawarkan pengalaman lebih dari sekadar menikmati pemandangan.
Kesempatan menjelajahi sejumlah destinasi itu hadir dalam perjalanan lima hari, 12–16 Oktober 2026, bersama rombongan Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Tengah. Dari Pendolo hingga Tentena, setiap persinggahan memperlihatkan sisi berbeda dari daerah yang dikenal dengan semangat kebersamaan atau sintuvu ini.
Pendolo dan Cerita di Balik Kakao
Perjalanan dimulai dari Pendolo, Kecamatan Pamona Selatan. Wilayah ini dikenal sebagai salah satu sentra penghasil kakao di Sulawesi Tengah. Di balik hamparan kebun dan aktivitas petaninya, tersimpan potensi ekonomi yang menghubungkan hasil bumi lokal dengan pasar yang lebih luas.
Para petani kakao di kawasan ini telah menjalin kerja sama dengan pihak dari Prancis untuk memasarkan hasil panen mereka, yang selanjutnya diolah menjadi produk cokelat. Kakao pun bukan sekadar komoditas perkebunan, melainkan bagian dari cerita tentang bagaimana potensi lokal dapat menemukan tempat di pasar internasional.
Dari Pendolo, perjalanan berlanjut ke kawasan Siuri, Kecamatan Pamona Utara. Di tepian Danau Poso, Bali Cottages Siuri menawarkan suasana menginap yang berbeda dengan bangunan bernuansa Bali dan pemandangan danau yang terbuka di hadapan mata.

Menjelang senja, warna langit perlahan berubah. Pemandangan matahari terbenam menjadi suguhan yang sayang dilewatkan. Pagi harinya, danau kembali memperlihatkan pesonanya melalui hamparan air yang menyejukkan, ditemani udara segar yang membuat siapa pun betah berlama-lama.
Tak perlu banyak aktivitas untuk menikmati tempat ini. Duduk memandang danau, merasakan angin yang berembus, atau berenang di tepian sudah cukup menghadirkan pengalaman sederhana yang sulit ditemukan di tengah hiruk-pikuk perkotaan.
Menikmati Danau Poso dari Ketinggian Atalambu Hills
Pesona Poso terasa semakin lengkap ketika perjalanan berlanjut ke Atalambu Hills, kawasan wisata di perbukitan Tentena, Kecamatan Pamona Utara, Rabu (14/10).
Memasuki kawasan hutan pinus, pandangan langsung tertuju pada Danau Poso yang terbentang luas dari ketinggian. Di sela-sela pepohonan, keindahan danau berpadu dengan lanskap Kota Tentena yang tampak dari kejauhan.
Udara sejuk dan pepohonan rindang memberikan suasana berbeda dari kawasan perkotaan yang cenderung panas. Di sini, pengunjung bisa menikmati pemandangan tanpa harus mendaki terlalu jauh atau menempuh perjalanan yang melelahkan.
Atalambu Hills menyediakan taman, beragam sudut untuk berfoto, serta area duduk bertingkat yang memungkinkan pengunjung menikmati panorama dengan nyaman. Beberapa sudutnya menghadap langsung ke danau, menjadikannya tempat yang menarik untuk mengabadikan pemandangan maupun sekadar duduk menikmati alam.
Di antara pepohonan pinus, suasana terasa santai. Pengunjung bisa menghabiskan waktu dengan berswafoto, bercengkerama, atau menikmati udara segar sambil memandangi bentang alam dari ketinggian.
Setelah puas menikmati panorama, pengunjung dapat beristirahat di kafe yang tersedia sambil menikmati minuman dan makanan ringan. Harga tiket masuknya pun relatif terjangkau, yakni Rp10 ribu per orang.
Menyusuri Goa, Menemukan Jejak Leluhur Pamona
Dari perbukitan, perjalanan membawa kita pada pengalaman yang berbeda. Kali ini bukan panorama dari ketinggian yang menjadi daya tarik, melainkan lorong-lorong gelap yang menyimpan jejak sejarah masyarakat setempat.

Goa Tua Pamona di kawasan Tentena merupakan salah satu situs budaya yang berkaitan dengan tradisi penyimpanan jenazah leluhur masyarakat Suku Pamona.
Goa yang terbentuk dari batuan kapur itu memiliki sejumlah lorong dan ruang. Di beberapa bagian, terlihat peti-peti peninggalan leluhur beserta tengkorak dan tulang-belulang manusia yang menjadi pengingat tentang tradisi pemakaman pada masa lalu.
Suasana di dalam goa terasa lembap dan dingin. Cahaya yang terbatas membuat setiap langkah terasa berbeda dari perjalanan wisata biasa. Ada rasa ingin tahu, tetapi juga kesadaran bahwa tempat ini bukan sekadar objek untuk dikunjungi, melainkan bagian dari warisan budaya yang perlu dihormati.
Ketua OJK Sulawesi Tengah, Bonny Hardi Putra, mengaku sempat menyusuri goa hingga ke bagian dalam. Namun, ia belum mencapai bagian yang menurut cerita setempat terhubung dengan Danau Poso.
“Saya tadi sudah sempat masuk hingga di ujung goa ditemani beberapa orang. Cuma, tidak sempat sampai di paling ujung goa yang katanya bisa tembus ke Danau Poso, karena untuk tembus ke danau harus tiarap masuk ke dalam goa yang tembus di depan danau. Di dalam goa ada beberapa ruang, suhunya cukup dingin, dan tadi saya sempat melihat beberapa ekor kelelawar,” ujarnya.
Keberadaan Goa Tua Pamona memperlihatkan bahwa daya tarik Tentena tidak berhenti pada keindahan alam. Di balik bentang danau dan perbukitan, terdapat kisah kehidupan masyarakat masa lalu yang menjadi bagian penting dari identitas daerah.
Makan Siang Menghadap Danau
Selepas menyusuri goa, suasana kembali lebih santai. Rumah Makan Panorama menjadi tempat beristirahat sekaligus menikmati makan siang dengan Danau Poso sebagai latar pemandangan.
Permukaan danau saat itu tampak surut akibat kemarau berkepanjangan. Meski demikian, bentang air yang dikelilingi perbukitan hijau tetap menyuguhkan pemandangan yang menenangkan.
Di meja makan, aneka hidangan tersaji, mulai dari ikan mujair atau nila bakar, ayam rica-rica, ayam panggang, capcay, sup ayam, kangkung cah, hingga perkedel, tahu, dan tempe goreng.
Menikmati hidangan sambil memandang danau menghadirkan pengalaman tersendiri. Perjalanan wisata tak selalu harus diisi dengan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Ada kalanya, berhenti sejenak dan menikmati makanan justru menjadi bagian yang paling membekas.
Perjalanan hari itu berlanjut ke Hutan Pinus Pamona Tentena. Pohon-pohon pinus yang menjulang menghadirkan suasana teduh, sementara lekukan Danau Poso terlihat dari kejauhan.
Kawasan ini menjadi tempat yang cocok untuk berjalan santai, menikmati udara segar, atau sekadar duduk di bawah pepohonan. Namun, kunjungan kali ini berlangsung sekitar 45 menit karena masih ada destinasi lain yang menanti keesokan harinya.
Air Terjun Saluopa, Kesegaran di Tengah Hutan
Kamis (15/10), perjalanan berlanjut menuju Air Terjun Saluopa, salah satu destinasi alam andalan Kabupaten Poso.

Air terjun ini berada di Desa Tonusu, Kecamatan Pamona Puselemba, sekitar 12 kilometer di sebelah barat Kota Tentena. Dari tempat menginap, perjalanan menuju kawasan tersebut memakan waktu sekitar 30 menit, kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 700 meter dari area parkir.
Sepanjang jalur menuju lokasi, pepohonan hijau dan udara segar menemani langkah. Suara gemericik air perlahan terdengar semakin jelas, menjadi penanda bahwa tujuan sudah semakin dekat.
Air Terjun Saluopa memiliki aliran air yang melewati undakan-undakan batu. Airnya yang jernih berpadu dengan rimbunnya pepohonan, menciptakan suasana sejuk yang terasa begitu kontras dengan panasnya kawasan perkotaan.
Keunikan air terjun ini terletak pada susunan tingkatannya yang memungkinkan pengunjung menikmati pemandangan dari beberapa sisi. Mereka yang ingin bersantai bisa menikmati suasana di bagian bawah, sedangkan pengunjung yang ingin menjelajah lebih jauh dapat mencoba mencapai bagian atas dengan tetap memperhatikan kondisi jalur.
Bagi Nilawati, salah seorang pengunjung yang ikut dalam perjalanan, Air Terjun Saluopa tetap menyenangkan meski bukan kali pertama dikunjungi.
“Saya sudah beberapa kali ke sini, tetapi tetap suka dengan suasananya. Tadi saya juga sempat sampai di puncak atas,” ujarnya.
Keindahan Saluopa memang tidak mudah membuat pengunjung bosan. Ada kesejukan, suara air, dan suasana hijau yang membuat orang ingin kembali, bahkan setelah berkali-kali datang.
Mencicipi Ayam Ituwu, Kuliner Khas Setempat
Setelah puas menikmati Air Terjun Saluopa, perjalanan berlanjut ke Rumah Makan Dodoha, tidak jauh dari kawasan Festival Danau Poso.
Di tempat ini, kuliner tradisional menjadi daya tarik berikutnya. Salah satu hidangan yang dicicipi adalah ayam ituwu, yakni ayam yang dimasak di dalam bambu dengan bumbu khas.
Cara memasaknya memberi karakter tersendiri pada hidangan tersebut. Aroma bumbu berpadu dengan proses pemasakan di dalam bambu, menghadirkan cita rasa yang menjadi bagian dari kekayaan kuliner masyarakat setempat.
Selain ayam ituwu, tersedia pula ikan mujair bakar, terong saus, ayam panggang, dan sup ayam. Setelah perjalanan menuju air terjun dan aktivitas berjalan kaki, santap siang menjadi kesempatan untuk beristirahat sebelum melanjutkan agenda berikutnya.
Kuliner seperti ayam ituwu memperlihatkan bahwa pengalaman berwisata tidak hanya berkaitan dengan apa yang dilihat, tetapi juga apa yang dirasakan dan dicicipi. Setiap daerah memiliki cara tersendiri dalam merawat kekayaan tradisinya, termasuk melalui makanan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Festival Danau Poso Menutup Perjalanan
Malam harinya, suasana Poso semakin semarak dengan pembukaan Festival Danau Poso 2026, Kamis (15/10). Agenda tahunan ini menjadi salah satu ruang promosi pariwisata, budaya, dan potensi ekonomi daerah.
Festival tersebut melengkapi perjalanan yang diisi dengan menikmati panorama danau, menyusuri hutan pinus, menjelajahi air terjun, serta mengenal situs bersejarah dan kuliner tradisional.
Poso memiliki daya tarik yang tidak bertumpu pada satu jenis wisata saja. Keindahan alamnya berjalan beriringan dengan kekayaan budaya dan potensi ekonomi masyarakat. Dari kakao di Pendolo hingga tradisi leluhur Pamona, setiap tempat menyimpan cerita yang membuat perjalanan terasa lebih utuh.
Lima hari menjelajahi Bumi Sintuvu Maroso memberikan gambaran bahwa Poso memiliki banyak alasan untuk dikunjungi, bahkan bagi mereka yang pernah datang sebelumnya. Danau yang luas, udara pegunungan yang sejuk, air terjun yang jernih, hingga sajian kuliner lokal menawarkan pengalaman berbeda di setiap persinggahan.
Pada akhirnya, pesona Poso bukan semata-mata terletak pada pemandangan yang indah. Ada kehidupan masyarakat, warisan leluhur, dan potensi daerah yang turut membentuk karakternya.
Bumi Sintuvu Maroso menyimpan banyak cerita untuk dijelajahi. Sebagian dapat ditemukan dalam perjalanan singkat, sementara sebagian lainnya mungkin baru terasa setelah kita meluangkan waktu untuk tinggal lebih lama, melihat lebih dekat, dan mengenal Poso melampaui keindahan alamnya.
